Euro Star: Zlatan, Pria Yang Membelah Opini

Euro Star: Zlatan, Pria Yang Membelah Opini

Bola.net - -
Beberapa pesepak bola dapat membelah opini, seperti yang terjadi pada pemain penuh talenta asal , Zlatan Ibrahimovic, dan sampai bintang AC Milan ini dapat meraih prestasi di ajang internasional, hal itu belum akan berubah.

Sebagian orang yang melihat Ibrahimovic memiliki bakat sepak bola luar biasa akan memujanya, sedangkan orang-orang yang melihatnya dari jauh akan sering menuding dirinya gagal saat harus menjalani ujian terberat.

Kalangan yang pro dengan kehebatan Ibrahimovic menegaskan bahwa pemain yang telah memenangi gelar dengan Ajax Amsterdam, Juventus (meski kemudian gelar juara Liga Italia klub itu dicopot), Inter Milan, Barcelona, dan AC Milan, serta selalu membutuhkan transfer bernilai besar saat ia berpindah klub adalah alasan utama bagaimana tim-tim yang dibelanya dapat menikmati kesuksesan.

Namun kalangan lain menilai ia hanya memperlihatkan kemampuan terbaiknya saat melawan tim-tim kecil, dan mengatakan bahwa kegagalannya untuk memenangi Liga Champions atau bersinar di ajang internasional membuktikan batasan dirinya.

Statistik ini jelas dapat memicu perdebatan.
Bahkan Ronaldo, yang merupakan salah satu penyerang terbaik di dunia, tidak pernah memenangi Liga Champions, meski ia bermain di Real Madrid, Barcelona, AC Milan, Inter Milan, dan PSV Eindhoven sepanjang karirnya yang gemerlap.

Bagaimanapun, ia dua kali memenangi Piala Dunia, satu kali menjadi pencetak gol terbanyak pada pesta sepak bola terbesar di dunia itu, dan tiga kali menjadi pemain terbaik dunia.

Namun Swedia bukanlah Brazil, dan tidak diragukan lagi bahwa Ronaldo mendapat keuntungan karena bermain dengan pemain-pemain yang lebih baik daripada yang mendampingi Ibrahimovic ketika ia membela negaranya.

Beberapa pemain hebat lain, seperti Ryan Giggs dan George Best, bahkan tidak pernah bermain di turnamen internasional, dan Andriy Shevchenko hanya satu kali berpartisipasi, yakni pada Piala Dunia 2006.

Tetapi Ibrahimovic memiliki lebih banyak kesempatan untuk bersinar, ia pernah bermain di dua Piala Dunia dan dua Kejuaraan Eropa, di saat ia bermain di Liga Champions selama sepuluh musim berturut-turut.

Ia mendapat beberapa momen positif pada dua turnamen itu, yang layak dikenang adalah saat ia mencetak gol penyeimbang kedudukan saat melawan Italia di Euro 2004, dan dua gol untuk Barcelona saat bermain imbang 2-2 di markas Arsenal di ajang Liga Champions.

Namun yang lebih sering terjadi adalah ia gagal menemukan bentuk permainan terbaiknya, ketika pandangan seluruh dunia tertuju kepadanya.

Di saat catatan golnya di liga merupakan salah satu yang terbaik, di kancah Eropa ia hanya mencetak satu gol pada tiga pertandingan.

Ia hanya masuk dalam tim yang mencapai semifinal Liga Champions, dan penampilan terbaiknya bersama Swedia adalah pada perempat final Euro 2004.

Para pengkritiknya mengklaim bahwa ketika timnya memerlukan Ibrahimovic membuat 'percikan' pada ajang besar, ia gagal melakukannya.

Kini, seperti yang selalu dikatakan Sir Alex Ferguson, hal tersulit adalah memenangi liga, dan penampilan konsisten Ibrahimovic terlihat saat tim-tim yang ia bela bertarung merebut gelar juara.

Ia telah memenangi tujuh gelar liga di tiga negara yang berbeda dengan empat tim yang berbeda, dan merupakan bagian saat Juve meraih dua gelar juara Liga Italia - meski kemudian dua gelar itu dibatalkan.

Ibrahimovich menjadi pencetak gol terbanyak di Italia pada dua dari empat musim terakhir, masing-masing bersama Inter dan Milan. Ia dua kali masuk tim UEFA tahun ini, menjadi pemain terbaik Liga Italia tiga kali, dan atlet terbaik Swedia sebanyak enam kali.

Untuk seseorang yang bertubuh besar, ia memiliki tinggi badan 1,95 meter, Ibrahimovich memiliki kaki-kaki yang cepat dengan sentuhan dan kendali bola yang mengagumkan.

Ia kuat seperti banteng dan sangat piawai menahan bola serta mempertahankan diri dari para pemain belakang. Ibrahimovich berlatih taekwondo, di mana hal itu memberinya fleksibilitas dan keseimbangan saat ia melepaskan tembakan dengan kekuatan besar.

Ia telah meningkatkan kinerjanya saat membela Milan selama dua tahun, dan temperamentalnya terlihat sedikit berkurang dibanding saat ia masih lebih muda.

Dan perannya di Timnas Swedia saat ini lebih banyak sebagai pengatur permainan dibanding penyerang murni, sehingga ia dapat lebih terlibat, lebih banyak melihat bola, dan dapat menggunakan bakatnya dengan lebih baik lagi.

Namun untuk dapat membungkam para pengkritiknya, ia masih memerlukan momen pembuktian di level internasional atau Liga Champions.