Haramkah Pemain Materialistis?

Haramkah Pemain Materialistis?

Bola.net - - oleh: Dendy Gandakusumah Semenjak jamannya Maladi, hingga ke jaman Ronny Patinasarani Mereka berjuang demi negeri, untuk satu nama PSSI Lirik tersebut merupakan potongan lagi Project P, sekumpulan anak muda cerdas dan kritis asal Bandung, yang berjudul, "Kop dan Haden". Ketika pertama kali mendengar lagu tersebut, tahun 1994, saya masih duduk di bangku SMP, dan baru belajar menikmati permainan sepak bola. Waktu itu, saking demamnya dengan sepak bola, bahkan saya sempat bermimpi untuk menjadi seorang pemain bola, yang akhirnya harus kandas di tengah jalan. Selain karena memang kurang bakat, ternyata profesi "tradisional" sebagai orang kantoran justru lebih menjanjikan.
Timnas Indonesia, di pundak merekalah kita menaruh harapan (terlalu?) besar Sekarang, ketika sudah 16 tahun berselang, dan saya sudah menjadi orang yang waktu kesehariannya banyak bergelut dengan berita dari lapangan hijau, saya makin merasa bahwa penggalan lirik di atas menjadi ironi tersendiri bagi timnas PSSI kita. Masih ingatkah dengan berita beberapa waktu lalu mengenai statemen mantan pelatih timnas PSSI, Peter Withe? Kala itu mister Withe menuding merosotnya prestasi Laskar Garuda Merah Putih disebabkan oleh tidak ada lagi kebanggaan dari punggawanya kala mengenakan kostum timnas. Lebih ironis lagi, Withe menuding bahwa pemain timnas kita saat ini lebih mementingkan faktor materi ketimbang rasa nasionalisme mereka. Dengan membandingkan dengan saingan kita di level Asia Tenggara, Thailand, Withe berkata,"Pemain Thailand termotivasi untuk bermain demi kehormatan Raja dan tanah air mereka. Sementara itu, sebagian pemain Indonesia, bermain demi uang." Membaca komentar Withe tersebut, rasa nasionalisme saya muncul. Saya teringat pada curhat salah seorang pemain timnas Indonesia beberapa saat lalu. Dalam sebuah tulisan berjudul "Serdadu dan Narapidana", Bambang Pamungkas, menyatakan bahwa mereka kerap diperlakukan seperti narapidana, selama membela timnas. Pendukung hanya ingin kemenangan, dengan melupakan sebuah fakta bahwa pemain timnas kita adalah manusia-manusia biasa dengan setumpuk masalah manusiawinya. Kembali ke masalah Withe tadi, mungkin mudah bagi Withe untuk menuding pemain kita matre. Namun, apakah Withe sadar bahwa di negara kita, dengan sistem pembinaan olahraga yang carut marut ini, seorang pemain 'harus' aji mumpung untuk bisa terjamin di hari tuanya. Toh, ketika pemain sekelas harus menjalani masa tua dengan sengsara, tidak ada pihak yang mengulurkan simpatinya. Padahal, bisa dipastikan, ketika masa jayanya dulu, semua orang menaruh harapan pada Ramang ketika membela panji PSSI. Bukan, saya bukan ingin membenarkan sikap para pemain yang secara sengaja bermain angin-anginan ketika membela panji PSSI. Saya sangat salut kepada seorang Bambang Pamungkas yang berani mengutuk rekan-rekannya saat mereka tidak berani datang, berpura-pura cedera demi menghindar dari kewajiban. Saya hanya ingin agar semua pihak tidak hanya menuding dan menyalahkan. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, prestasi timnas bukan hanya bergantung pada pemainnya. Mereka hanyalah sebuah roda gigi dari sebuah sistem besar bernama persepakbolaan nasional. Sementara ini, sebagai pendukung yang baik, nampaknya kita harus bersabar (lagi). Sebab, bisa dipastikan, sebuah prestasi tidak bakal bisa diraih secara instan. Apalagi dalam sistem yang berantakan seperti ini.

Berita Terkait