Kala Italia Menuntut Keadilan

25-06-2012 14:27

 | Andrea Pirlo

Bola.net - Oleh: Afdholud Dzikry

Akhirnya keadilan itu benar-benar terjadi. Kemenangan Italia atas Inggris memang ditentukan oleh adu 'keberuntungan' di babak tendangan penalti. Langkah Italia jelas, menuntut keadilan yang tak mereka dapat sepanjang 120 menit.

Dengan penguasaan bola 64% berbanding 34% milik penggawa Inggris. Andrea Pirlo dkk memang seharusnya mampu menyelesaikan permainan dalam waktu normal.

Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain. Tendangan jarak jauh Daniele De Rossi hanya seakan sebagai salam pembuka bagi ketidakberuntungan Italia sepanjang pertandingan di waktu normal. Ketangguhan Joe Hart di bawah mistar gawang juga menjadi pembeda pada laga tersebut.

Perubahan taktik Cesare Prandelli dengan memasukkan nama Ricardo Montolivo dalam starting eleven memang layak diperdebatkan, namun di sinilah kecerdikan Prandelli dalam menempatkan Monti.

Sadar bahwa seringkali Monti tenggelam ketika dipasang bersamaan dengan Andrea Pirlo, Prandelli lebih condong menempatkan Monti sebagai penghubung antara Pirlo dengan pemain depan dan mempersempit ruang gerak Scott Parker sebagai penyeimbang The Three Lions. Hasilnya, Italia sukses menekan Inggris di pertahanan mereka sendiri.

Keberadaan De Rossi dan Claudio Marchisio yang mengapit Andrea Pirlo juga tak bisa dipandang sebelah mata. Kedua 'tukang jagal' tersebut adalah orang yang memastikan bahwa the majestic passer bekerja dengan nyaman mengatur irama permainan Azzurri.

Mari kita cermati bagaimana Inggris harus menerima kembali kenyataan bahwa mereka gagal lolos dari hoodo di turnamen besar.

Terinspirasi kesuksesan Chelsea menaklukkan Eropa di level klub dengan bermain pragmatis dan membosankan. Inggris mencoba peruntungannya di level timnas dengan pola permainan yang hampir sama.

Memainkan pola klasik 4-4-2 dengan empat gelandang sejajar, Inggris gagal mengimbangi 3 gelandang free role dan 1 deep lying playmaker milik Italia.

Hodgson jelas bersalah dengan pemilihan taktiknya tersebut. Dua tahun lalu, Fabio Capello yang saat itu menjadi pelatih tim nasional Inggris mengakui kegagalan sistem 4-4-2 apabila diterapkan di sepakbola modern yang saat ini lebih menuntut fleksibilitas.

Mantan pelatih West Bromwich tersebut seakan-akan kehilangan pemain yang bisa dipercaya untuk mengisi lini tengah negeri pangeran Charles tersebut.

James Milner dan Ashley Young gagal menjadi 'pelayan' yang baik dari kedua sisi bagi Wayne Rooney dan Danny Welbeck atau saat Andy Caroll diturunkan. Sementara Gerrard dan Parker lebih terkonsentrasi membantu pertahanan.

Penampilan Glen Johson sempat memberikan harapan saat dirinya berhasil menerobos disiplinnya pertahanan Italia. Namun tampaknya itu adalah saat terakhir bagi Inggris merasakan nikmatnya berada di dalam kotak penalti Italia. Selebihnya, serangan Inggris mentah di Pirlo's Zone.

Bila melihat statistik, Inggris hanya mampu mengalirkan 364 passing dan 269 atau hampir 74 % menemui sasaran. Bandingkan dengan Italia yang mampu menciptakan 833 passing, 744 atau 89 % tepat. Inggris pun pantas 'iri' dengan total shoot on goal yang mampu Italia ciptakan. Total 20 shoot on goal dari 35 percobaan Azzurri hanya mampu dibalas 4 shoot on goal dari 9 percobaan The Three Lions.

Kredit sendiri layak disematkan kepada pertahanan Inggris. Ashley Cole-Glen Johson yang mengapit duet John Terry-Joleon Lescott berhasil menahan gempuran Italia dengan 13 blok dan 23 kali intercept sepanjang laga. Joe Hart seakan tak mau kalah, penjaga gawang Manchester City tersebut berhasil melakukan 8 penyelamatan di kurun waktu 120 menit.

Melihat catatan tersebut, Italia memang sudah sepantasnya menuntut keadilan berada di pihak mereka. Dan sepertinya Inggris masih memiliki rencana B yang harus mereka selesaikan. Usai berhasil menahan Italia sepanjang 120 menit, Inggris berharap keberuntungan terus berpihak kepada mereka di babak adu penalti.

Dengan 35 kali melakukan shooting, Italia tampaknya lebih siap untuk mengubah ketidakberuntungan mereka menjadi sebuah keadilan di akhir pertandingan sekaligus menghabisi keberuntungan Inggris di 120 menit laga.

Arrivederci Inggris… (bola/dzi)


ANDREA PIRLO: ARTIKEL TERKAIT



ARTIKEL LAINNYA