Kebangkitan Suporter Indonesia

Kebangkitan Suporter Indonesia

Bola.net - - Oleh: Ardi Winangun Meski tim nasional sepakbola Indonesia gagal meraih juara dalam AFF Cup 2010, namun ada satu optimisme dari berbagai kalangan terhadap persepakbolaan nasional, yakni antusiasnya masyarakat untuk mendukung tim nasional ketika bertanding, baik secara langsung yakni datang ke stadion di mana tim nasional sedang bertanding, atau secara tidak langsung yakni nonton bareng di berbagai tempat di luar stadion tempat tim nasional sedang bertanding. Kalau boleh dikatakan awal kebangkitan suporter sepakbola Indonesia terjadi bukan dalam AFF Cup 2010, namun ketika Asian Cup 2007. Di mana saat itu gelora dan gemuruh masyarakat Indonesia mendukung tim nasional juga demikian tingginya bahkan sama dengan saat AFF Cup 2010. Bedanya kalau dalam AFC Cup 2007 penonton bisa memperoleh tiket lebih mudah sedang pada saat AFF Cup 2010 begitu susah. Kebangkitan suporter sepakbola Indonesia ini menjadi amunisi tersendiri bagi tim nasional dan menjadi pemain ke-12. Kehadiran mereka di stadion membuat pertahanan semakin tangguh dan mempertajam serangan. Pemain ke-12 inilah yang memberi peluang yang sangat besar kepada tim nasional untuk memenangkan setiap pertandingan. Meski tidak 100% pemain ke-12 mampu menjadi faktor penentu kemenangan, namun kehadiran mereka bisa memberi semangat yang lebih. Fenomena apa yang menyebabkan kebangkitan suporter sepakbola Indonesia? , tayangan live televisi dari berbagai pertandingan sepakbola luar negeri baik pertandingan Liga Italia, Inggris, Spanyol, dan negara Eropa lainnya serta pertandingan antarbangsa, seperti Piala Dunia maupun Piala Eropa, sejak tahun 1990-an menjadi pembangkit semangat persepakbolaan di Indonesia umumnya dan suporter khususnya. Dalam setiap pertandingan itu, monitor televisi tidak hanya menampilkan apa yang ada di dalam lapangan, namun juga di luar lapangan, yakni ulah suporter. Tayangan-tayangan ulah suporter inilah yang menjadi panutan masyarakat Indonesia bahwa dukungan kepada tim sepakbola itu sangat perlu. Semangat dari suporter yang muncul di televisi menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk bagaimana ia bisa juga menyalurkan kepada tim nasional. Tayangan televisi itu membuat suporter Indonesia mempunyai lagak dan gaya seperti suporter tim sepakbola luar negeri. , saat ini dalam pertandingan sepakbola, media massa mengemasnya tidak hanya sekadar pertandingan semata, namun unsur-unsur selebritis dan hiburan dimasukkan. Kita melihat tim nasional Indonesia dalam AFF Cup 2010 terkadang harus diambil gambarnya untuk adegan-adegan reality show, adegan-adegan yang menggambarkan mereka sedang berteriak selepas mencetak gol, menggiring bola, atau sedang menuju lapangan. Adegan itu diambil untuk menjadi iklan layanan masyarakat agar masyarakat memberi suport kepada tim nasional. Pengambilan adegan itu menjadikan pemain sepakbola menjadi selebritis. Dunia selebritis adalah dunia yang dekat dengan anak-anak muda. Ketika sepakbola menjadi bagian dari selebritis maka jumlah anak muda yang mengemari atau mendukung tim sepakbola menjadi semakin membludak. Tidak hanya itu, media massa atau perusahaan produk sering melibatkan para selebritis atau artis untuk menyemarakkan pertandingan. Para artis sering dimintai pendapat soal pertandingan sepakbola. Sebab para artis mempunyai nilai berita yang tinggi sehingga secara tidak langsung mendorong masyarakat Indonesia menjadi suporter sepakbola. Kehadiran para artis di GBK (Gelora Bung Karno) menjadi magnet bagi masyarakat untuk juga datang dan mendukung tim nasional. , blow up dari media massa kepada tim nasional. Pemberitaan dari media massa inilah yang memancing masyarakat Indonesia, secara sadar atau tidak, untuk mendukung tim nasional. Pemberitaan sehari-hari oleh media massa, baik cetak maupun online selama AFF Cup 2010 berlangsung, membuat euforia masyarakat Indonesia kepada tim nasional menjadi tinggi. Bukti dari peran media massa menumbuhkan tumbuhnya suporter sepakbola pernah dilakukan oleh sebuah harian terbesar di Jawa Timur. Untuk menggalang dukungan kepada Persebaya dalam Final Perserikatan Divisi Utama tahun 1988, media cetak itu memfasilitasi suporter Persebaya untuk secara bersama-sama datang ke Gelora Senayan. Blow up yang demikian tingginya kepada Persebaya oleh media cetak tersebut, membuat masyarakat Jawa Timur secara serentak menjadi pendukung Persebaya, baik datang langsung ke Jakarta maupun nonton televisi di rumah. , bisa jadi nilai pendapatan masyarakat Indonesia semakin membaik sehingga mereka mampu untuk membeli tiket dalam pertandingan. Bila tidak ada peningkatan pendapatan tentu masyarakat akan mikir dua kali untuk menonton langsung di GBK. Bahkan dalam sebuah editorial media massa nasional disebutkan pujian kepada suporter Indonesia yang datang ke GBK dan mereka membayar semua, berbeda dengan para pejabat yang mengharapkan tiket gratis. Meningkatnya pendapatan masyarakat ini juga terlihat dari berduyun-duyunnya masyarakat Indonesia datang ke Stadion Bukit Jalil untuk mendukung tim nasional Indonesia dalam leg 1 pertandingan AFF Cup 2010, baik melalui biro perjalanan atau mengurus perjalanan secara sendiri. Dari meningkatnya pendapatan masyarakat ini maka PSSI meraup keuntungan besar selama pertandingan AFF Cup 2010. Dikatakan Ketua Panitia Lokal atau LOC, Joko Driyono, keuntungan yang diperoleh dari pelaksanaan Piala AFF 2010 mencapai sekitar Rp 20 miliar. Jumlah itu merupakan angka tertinggi. Dikatakan, jumlah pendapatan dari pelaksanaan babak penyisihan hingga babak final mencapai Rp31 miliar. Dari jumlah tersebut, pendapatan pertandingan laga final kedua mencapai Rp9 miliar. Untuk biaya pengeluaran totalnya antara Rp11 miliar hingga Rp12 miliar. Meningkatnya kesejahteraan ini berkorelasi dengan semakin tingginya pendidikan masyarakat, tak heran selama pertandingan AFF Cup 2010, dari penyisihan hingga final, suporter berperilaku tertib. Pada suatu kesempatan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengucapkan terima kasih kepada suporter yang telah bersikap sportif dan tidak menciptakan kerusuhan. Suporter Indonesia dinilai sebagai masyarakat yang telah dewasa dan mampu menjaga keamanan dan ketertiban Ibu Kota. Lebih lanjut dikatakan, masyarakat menunjukkan kedewasaannya dengan bersikap tertib sejak penyisihan sampai final. Sikap sportif dan dewasa semacam ini diharapkan dapat terus dipertahankan oleh suporter Indonesia saat mendukung tim nasional atau klub kesayangan mereka dalam berbagai ajang pertandingan. Antusiasnya dukungan masyarakat kepada tim nasional ini harus dikelola secara baik. Pengelolaan ini ditempuh dengan cara peningkatan kualitas tim nasional. Semakin tim nasional mempunyai prestasi maka akan semakin banyak suporter yang tergalang.

Berita Terkait