
Bola.net - - Dari 16 kontestan tersisa di Liga Champions 2012/13, siapakah yang akan mengangkat trofi juara? Tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Pasalnya, setiap tim bisa dibilang memiliki kans untuk menjadi kampiun meski besarnya tidak sama.
Tim mana yang berdiri paling akhir di kompetisi paling elit antarklub Eropa ini baru akan diketahui setelah peluit panjang bergema di Wembley 25 Mei nanti. Fase grup sudah lewat, sekarang sistem gugur dua leg lah yang ambil peranan, dan akan dimulai bulan Februari mendatang, tak sampai tiga pekan dari sekarang.
Sebelum itu, mari kita coba raba peluang setiap kontestan 16 besar untuk lolos ke babak-babak berikutnya hingga final dan finis sebagai raja Eropa musim ini. Nama tim diurutkan dari unggulan terbawah hingga teratas berdasarkan bursa-bursa terkemuka di dunia.
Barcelona

Ada segudang alasan Barcelona bisa kembali menjadi juara Liga Champions musim ini. Jika mau jujur, mungkin justru lebih sulit mencari alasan kenapa sang raksasa Catalan akan gagal.
Sama seperti Real Madrid, Blaugrana juga memiliki segala persyaratan untuk merajai Eropa, baik itu skuad, mental juara, maupun arsitek yang merancang permainan brilian mereka.
Namun, harus diakui bahwa faktor terdepan adalah keberadaan sang peraih empat Ballon d'Or, Lionel Messi.
Little wizard Argentina itu sudah menaikkan level permainannya dari musim lalu. Dia juga hampir tak pernah absen dari starting line-up Barca apa pun ajangnya, entah Copa del Rey atau La Liga. Itu membuat Messi seolah tak pernah kehilangan sentuhan dan menjadi semakin matang dari laga ke laga.
Selain itu, rekan-rekan setimnya juga telah berkembang sejak disingkirkan Chelsea di semifinal edisi sebelumnya. Messi sendiri turut 'berperan' dalam kegagalan Barcelona ke final 'berkat' eksekusi penaltinya yang tak menemui sasaran ketika melawan The Blues pada leg kedua.
Jadi, waspadalah Eropa. Messi dan kawan-kawan punya sebuah urusan tertunda yang harus mereka tuntaskan.
Real Madrid

Real Madrid punya satu alasan kuat untuk menjadi juara Liga Champions musim ini. Alasan itu bernama La Decima, gelar ke-10 di kompetisi ini 11 tahun setelah terakhir kali Los Blancos merajai daratan Eropa.
Madrid memiliki segala persyaratan untuk menjadi juara, dari skuad yang dihuni pemain-pemain kaliber dunia seperti Iker Casillas, Sergio Ramos, Xabi Alonso, Mesut Ozil hingga Cristiano Ronaldo, lalu tradisi, hingga sosok pelatih brilian.
Saat ini, Madrid memang tengah dilanda prahara internal yang merupakan perluasan dari hasil buruk di La Liga. Namun, jika semua perbedaan bisa dihilangkan demi meraih satu tujuan yang sama, mereka takkan bisa dihentikan. Madrid yang solid di dalam atau luar lapangan, meski tanpa Casillas di bawah mistar, masih terlalu tangguh untuk Manchester United saat keduanya bentrok di 16 besar.
Jika sudah sampai di partai puncak, besar kemungkinan Madrid tembus hingga menjadi juara.
Pelatih Jose Mourinho belum pernah kalah di final Liga Champions. Kemenangan di Wembley nanti akan menjadikan The Special One sebagai orang pertama dalam sejarah yang menjuarai Liga Champions dengan tiga klub berbeda. Ditambah motivasi mewujudkan La Decima, pantas rasanya menjagokan mereka untuk jadi jawara Eropa.
Bayern Munich

Bayern Munich adalah runner-up di dua edisi terakhir Liga Champions. Akankah sang raksasa Bavaria mereguk hasil manis di usahayanya yang ketiga?
Itulah yang membuat Bayern diyakini menjadi tim dengan motivasi paling kuat untuk menjuarai kompetisi musim ini.
Setelah lolos dari fase grup, berbekal tradisi, pengalaman, mental juara dan skuad berkualitas, jangan terkejut jika Anda melihat Bayern melewati hadangan Arsenal di babak 16 besar dan mengangkat trofi European Cup kelimanya di Wembley bulan Mei nanti.
Borussia Dortmund

Tim mana pun yang bisa memuncaki grup berisikan jawara Spanyol, Inggris dan Belanda pastilah tim yang istimewa. Borussia Dortmund pantas mendapatkan respek dari seantero Eropa.
Kenapa? Karena itulah yang sudah mereka lakukan untuk lolos dari 'grup neraka' Liga Champions musim ini, Grup D.
Pasukan Jurgen Klopp memiliki fisik dan teknik yang bisa menyakiti setiap lawan. Jika tak percaya, tanyakan saja kepada Real Madrid, Manchester City serta Ajax.
Shakhtar Donetsk, lawan di babak 16 besar, sepertinya juga akan menjadi korban berikutnya sang raksasa Bundesliga sekaligus salah satu batu lompatan mereka untuk menuju puncak tertinggi Eropa.
Juventus

Sejak ditangani Antonio Conte pada Mei 2011, Juventus tak pernah lagi melihat ke belakang. La Vecchia Signora melaju kencang dan memenangi Lo Scudetto di musim perdana Conte sebagai pelatih.
Selain itu, Juventus melakukannya tanpa terkalahkan sepanjang musim.
Faktanya, bersama Conte, Juventus nyaris tak pernah menelan kekalahan di semua ajang yang mereka ikuti. Performa itu berlaku juga di Liga Champions, di mana Juventus membukukan tiga kemenangan dan tiga hasil imbang untuk finis di puncak Grup E sekaligus menyingkirkan juara bertahan Chelsea dari persaingan.
Berkat inspirasi Conte, Juventus memiliki mental baja yang membuat mereka tak mudah diruntuhkan meski dalam situasi terjepit sekali pun. Faktor itu akan membuat Juventus jadi salah satu tim yang paling sulit dikalahkan begitu kompetisi kembali bergulir Februari nanti.
Celtic boleh saja menghancurkan keperkasaan Barcelona, tapi Sang Kekasih Italia adalah lawan dengan level yang benar-benar berbeda untuk mereka di babak 16 besar.
Manchester United

Sir Alex Ferguson percaya Manchester United bisa mengulangi treble fenomenal mereka seperti tahun 1999. Bukan tanpa alasan sang manajer berkata demikian.
Faktor pendukung utama untuk kesuksesan Red Devils musim ini adalah lini depan mereka yang memiliki kekuatan perusak luar biasa. Nama Wayne Rooney, Robin van Persie dan Javier Hernandez adalah jaminannya.
Selain itu, United juga mempunyai skuad yang komplet di semua lini yang bisa diandalkan untuk meraih trofi Liga Champions keempat sekaligus memupus rasa sakit hati yang diberikan Barcelona di Wembley 2011 silam.
Meski Real Madrid menghadang di babak 16 besar, United tetap layak diunggulkan lolos ke babak berikutnya, bahkan hingga final dan berdiri di tangga tertinggi ketika peluit panjang dibunyikan 25 Mei nanti.
PSG

PSG harus bersyukur memiliki Carlo Ancelotti. Pria Italia itu memiliki nama besar di percaturan Eropa. Dia hanya satu dari sedikit orang yang pernah mengangkat trofi kompetisi ini sebagai pemain (1989, 1990) serta pelatih (2003, 2007), dan semuanya bersama AC Milan.
PSG sendiri diperkuat sejumlah talenta hebat dunia dari lini belakang sampai depan. Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic adalah pemain bermental juara yang mereka butuhkan.
DItambah kepiawaian Carletto dalam menyatukan para bintang serta kemampuannya meracik strategi hebat, maka PSG bisa dibilang telah memiliki semua komposisi utama untuk menjadi raja di Benua Biru musim ini.
Shakhtar Donetsk

Meski prestasi terbaiknya di Liga Champions hanya sampai perempat final, sang jawara Ukraina telah membuktikan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk diperhitungkan musim ini.
Jangan lupa, pasukan Mircea Lucescu lolos dari Grup E yang sulit dengan menyingkirkan juara bertahan Chelsea. Tak perlu diragukan lagi, tak ada tim yang suka menghadapi Shakhtar Donetsk dalam partai dua leg di fase knockout.
Apa yang membuat Shakhtar berbahaya dan berpeluang manjadi juara Mei nanti adalah kombinasi antara performa kandang nyaris sempurna dan serangan balik nan tajam saat bertandang. Kita semua tahu bahwa away goal sangatlah berharga di pentas Eropa.
Borussia Dortmund, yang notabene menyandang status juara group of death, Grup D, tak boleh lengah sedikit pun saat bentrok dengan Shakhtar di Donbass Arena (13 Februari) dan Signal Iduna Park (5 Maret).
Arsenal

Arsenal adalah tim yang identik dengan Liga Champions. Sejak Arsene Wenger tiba di London Utara 1996 silam, The Gunners telah menjadi langganan kompetisi ini. Satu final bahkan tercatat atas nama mereka, yaitu pada tahun 2006.
Arsenal memang hanya finis sebagai runner-up Grup B dan mungkin harus bersusah payah untuk finis di empat besar Premier League musim ini demi lolos ke edisi berikutnya.
Namun, begitu masuk babak knockout, Arsenal tak bisa dipandang sebelah mata. Berbekal pengalaman plus motivasi mencapai final yang digelar di kota sendiri, tak ada alasan untuk tidak menjagokan mereka musim ini.
Ujian pertama Arsenal pada fase knockout tidak main-main beratnya, yaitu raksasa Jerman yang juga finalis edisi sebelumnya, Bayern Munich. Untuk mewujudkan ambisi meraih trofi bergengsi, Arsenal harus tampil konsisten di Emirates (19 Februari) dan Allianz Arena (13 Maret).
Porto

Ketika undian babak knockout digelar di Swiss bulan Desember lalu, pasti hampir semua tim 'besar' berharap bisa mendapatkan Porto sebagai lawan. Namun, seperti itu jugalah yang terjadi pada tahun 1987 dan 2004 ketika sang raksasa Portugal akhirnya keluar sebagai juara.
Porto memiliki darah juara. Kubu yang sudah memenangi kompetisi paling elit antarklub Eropa lebih banyak daripada tim-tim top seperti Chelsea, Arsenal, Manchester City, PSG dan Borussia Dortmund tersebut pasti memiliki motivasi untuk meraih gelar ketiga mereka di musim ini.
Namun, sebelum itu, Porto harus melewati ujian melawan sensasi baru bernama Malaga dalam partai dua leg pada babak 16 besar, 19 Februari di Estadio do Dragao dan 13 Maret di La Rosaleda.
Malaga

Para pengamat dan pakar sepak bola kerap mengatakan bahwa Liga Champions merupakan kompetisi yang hanya bisa dimenangi dengan pengalaman. Lihatlah bagaimana Manchester City kesulitan bersaing meski memiliki skuad penuh talenta hebat, kata mereka. Untuk melangkah lebih jauh, faktor itulah yang harus ada.
Namun, sang debutan Malaga memupus teori tersebut secara mutlak. Mereka maju ke babak 16 besar dengan status juara Grup C yang juga dihuni raksasa AC Milan, Zenit St Petersburg dan Anderlecht. Lebih istimewanya lagi, wakil Spanyol itu lolos undefeated alias tak terkalahkan.
Jika pasukan Manuel Pellegrini sanggup menjaga mental dan performa serta percaya dengan kekuatan yang mereka miliki, maka kita dapat berharap ada sebuah tim yang menjadi juara pada musim perdananya berkiprah di Liga Champions.
Schalke

Schalke finis di puncak Grup B dengan mengungguli Arsenal, yang mereka kalahkan 2-0 di Emirates Stadium. Hal itu membuktikan bahwa sang wakil Jerman memiliki kekuatan untuk bersaing dengan para raksasa Eropa.
Performa Schalke di London bulan Oktober lalu sungguh meyakinkan dan nyaris sempurna. Klaas-Jan Huntelaar menjadi ancaman konstan di lini depan, sedangkan empat bek mereka tampil solid dalam mementahkan serangan cepat The Gunners.
Jika bisa mengulangi penampilan apik itu di babak-babak berikutnya, maka Schalke layak diperhitungkan. Galatasaray pun wajib waspada saat melakoni bentrokan di Istanbul (20 Februari) maupun kala melawat ke Veltins-Arena (12 Maret).
Valencia

Tak ada tempat senyaman rumah sendiri. Kata-kata itu cukup tepat untuk menggambarkan Valencia dengan bentengnya yang bernama Mestalla.
Markas Valencia itu merupakan salah satu stadion yang atmosfernya tidak menyenangkan untuk tim-tim lawan di pentas Eropa. Los Che bahkan lolos dari Grup F tanpa sekali pun tersentuh kekalahan kandang.
Selama beberapa tahun terakhir terjun di Liga Champions, tak banyak yang pulang dari Mestalla dengan kemenangan.
Jika wakil Spanyol itu sanggup menjaga performa hebat di kandang saat memasuki babak knockout, maka mereka patut diwaspadai. Terlebih, Roberto Soldado dan kawan-kawan juga tak mudah ditaklukkan meski bermain di rumah lawan.
Mestalla akan menyambut kedatangan PSG pada leg pertama (12 Februari) sebelum sang empunya rumah ganti melawat ke Paris di leg kedua (6 Maret).
AC Milan

AC Milan memiliki tradisi kuat di Liga Champions. Rossoneri adalah tim tersukses kedua di kompetisi ini dengan koleksi tujuh gelarnya.
Milan yang sekarang mungkin tenggelam dalam bayang-bayang kejayaannya di masa lalu. Namun, Februari nanti, begitu theme song Liga Champions dikumandangkan, Milan bakal menunjukkan karakter mereka yang sebenarnya, yaitu karakter sebuah tim juara. Itu sudah ada dalam DNA mereka.
Dengan lawan bernama Barcelona, yang notabene sangat diunggulkan manjadi kampiun musim ini, Milan dengan senajata barunya, Stephan El Shaarawy, pasti termotivasi untuk membuktikan bahwa mereka lebih baik, entah pada leg pertama di San Siro (20 Februari) maupun pada leg kedua di Camp Nou (12 Maret).
Selain itu, Wembley juga memiliki tempat spesial di hati para tifosi Milan. Di sanalah Rossoneri meraih gelar pertama mereka 1963 silam.
Celtic

Tak peduli siapa pun lawan Celtic di babak 16 besar, tim tersebut pasti akan melakoni lawatan berat ke Glasgow.
Bahkan Barcelona harus menelan kekalahan 1-2 di Celtic Park dalam partai penyisihan grup bulan November lalu. Itu pun bukan pasukan cadangan Barcelona yang mereka kalahkan, tapi Blaugrana berkekuatan penuh yang diperkuat Lionel Messi.
Sederhananya, jika tim yang dianggap terkuat di planet ini saja sanggup mereka tundukkan, maka pantas rasanya menjagokan Celtic untuk melaju sampai ke Wembley, termasuk mengangkat trofi prestisius Eropa.
Sebelum itu, sang jawara Skotlandia harus melewati ujian tidak mudah di hadapan kampiun Serie A dan pemilik dua gelar kompetisi ini, Juventus. Celtic akan menjadi tuan rumah leg pertama (12 Februari) dan melawat ke Turin di leg kedua (6 Maret).
Galatasaray

Galatasaray harus menunggu hingga matchday terakhir fase grup untuk memastikan diri lolos ke fase knockout. Itu pun setelah sang raksasa Turki unggul goal difference atas wakil Rumania, CFR Cluj.
Namun, itu dahulu. Sekarang, Galatasaray punya wajah berbeda. Kehadiran eks bintang Ajax, Real Madrid dan Inter Milan, Wesley Sneijder, diyakini dapat mendongkrak kekuatan Gala.
Apabila pemain timnas Belanda itu serius ingin membangkitkan kembali kariernya yang sempat tenggelam, tak ada panggung yang lebih baik dan lebih akbar untuk mendemonstrasikan bakat hebatnya daripada Liga Champions. Jika Sneijder bisa membuktikan kepada dunia bahwa dia belum habis, maka Galatasaray bakal turut mendapatkan hikmahnya.
Advertisement
Berita Terkait
LATEST UPDATE
-
Olahraga Lain-Lain 26 Januari 2026 14:10 -
Liga Inggris 26 Januari 2026 13:37 -
Otomotif 26 Januari 2026 13:29 -
Liga Inggris 26 Januari 2026 13:17 -
Otomotif 26 Januari 2026 13:00 -
Liga Inggris 26 Januari 2026 12:56
HIGHLIGHT
- Para Pemain yang Pernah Membela Chelsea dan Arsena...
- Pemain yang Diuntungkan dan Dirugikan dari Pemecat...
- 5 Klub Potensial untuk Xabi Alonso Setelah Pergi d...
- 5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan: Zidane...
- 5 Kekalahan Terburuk Real Madrid di Copa del Rey A...
- Prediksi Starting XI Chelsea di Bawah Liam Rosenio...
- 10 Pemain Premier League yang Berpotensi Pindah pa...












:strip_icc()/kly-media-production/medias/5402812/original/018996100_1762301407-000_832M8KE.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477135/original/034018900_1768809759-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5329921/original/051268400_1756349860-WhatsApp_Image_2025-08-28_at_09.53.23.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484013/original/025836000_1769411146-260126_OPINI_Smith_Alhadar.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484027/original/066562000_1769411301-image.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483315/original/041113100_1769373718-000_93XV8UB.jpg)
