Pemain Termahal Pun Jadi Cadangan
05-02-2010 21:56
Robinho, pulang kampung ke Brazil setelah gagal di Inggris. (c)AP
Robinho, pulang kampung ke Brazil setelah gagal di Inggris. (c)AP

Bola.net - Oleh : Zulfikar Aleksandri

Kompetisi domestik di Eropa telah menutup jendela transfer pemain musim dingin per 31 Januari kemarin. Tidak ada berita transfer yang heboh, bahkan di Liga Primer Inggris, total nilai transfer tidak lebih dari 20 juta pounds, jauh di bawah tahun sebelumnya hingga ratusan juta pounds.

Fenomena klub tidak mengobral banyak uang pada transfer tengah musim sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Klub lebih memilih mendapatkan pemain dengan cara pinjam dengan opsi kepemilikan permanen di akhir musim bila kontribusinya dinilai bagus pada paruh kedua kompetisi. Robbie Keane dan Robinho bisa menjadi contoh.

Toh, harga mahal seorang pemain tidak selalu berbanding lurus dengan kontribusi mereka di tim yang baru. Semifinal Piala Liga antara Manchester United kontra Manchester City dan bigmatch Super Sunday antara Arsenal menghadapi Manchester United adalah bukti nyata bagaimana pemain termahal tidak selalu menjadi pilihan utama.

Dimitar Berbatov dan Robinho tidak memberi kontribusi apapun bagi timnya pada Derby Manchester. Ketika Robinho dilepas ke Santos untuk "rehabilitasi", Berbatov tetap menjadi penghangat di bangku cadangan United dan hanya bermain di lima menit terakhir ketika Setan Merah telah mengunci kemenangan 3-1 atas rival mereka di perebutan juara Premiership itu.

Sudah terlambat bagi Robinho untuk menyelamatkan karirnya di Eastlands. Bahkan kehadiran Roberto Mancini yang memberi motivasi baru bagi City pun tidak bisa mengembalikan kepercayaan diri pemain termahal di Inggris itu.

Praktis, sepanjang dua musim ini Robinho lebih banyak menjadi headline di surat kabar daripada memberi kontribusi besar bagi City di atas lapangan. Sepanjang putaran pertama, mantan pemain Real Madrid itu begitu heboh digosipkan bakal bergabung dengan Barcelona.

Toh akhirnya tidak ada klub Eropa yang mau menampung Robinho, yang akhirnya memilih pulang kampung ke Brazil, persis seperti apa yang dilakukan dua seniornya di Selecao, Ronaldo dan Adriano. Gagal di Eropa, mudik ke kampung halaman di Brazil adalah solusi terbaik.

Bagaimana dengan Berbatov? Bila anda seorang manajer dan membayar 31 juta pounds untuk seorang pemain, tentu ekspektasi tinggi ditujukan pada pemain bersangkutan. Selama dua musim di Old Trafford, Berbatov lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk menghangatkan bangku cadangan. Bila dimainkan pun, striker asal Bulgaria itu lebih banyak menerima kritik sebagai pemain lamban, malas, dan flamboyan -melebihi Teddy Sheringham- daripada catatan golnya bagi United.

Faktanya, Berbatov memang berstatus "back up players" dengan transfer termahal kedua di Inggris, setelah Robinho. Berbatov menjadi cadangan di final Liga Champions menghadapi Barcelona, cadangan di semifinal Piala Liga penuh gengsi menghadapi rival sekota Manchester City, dan cadangan menghadapi Arsenal pada pertandingan penting di Premiership.


Dimitar Berbatov, selalu menjadi cadangan pada pertandingan penting United

Masih banyak Berbatov dan Robinho lain di Premiership. Roman Pavlyuchenko salah satunya, striker terbaik Rusia ketika mencapai semifinal Piala Eropa 2008 itu dibeli Spurs hanya untuk dimainkan di Piala Liga dan Piala FA, ajang yang gengsinya masih di bawah Premiership dan antar klub Eropa.

Jauh ke belakang, ketika Inggris memiliki striker muda berbakat bernama Gary Lineker, Manchester City mematahkan rekor transfer saat mendatangkan Steve Daley. Beberapa musim kemudian Daley dilepas ke klub di Amerika.

Gianluigi Lentini menjadi pemain termahal di dunia pada tahun 1992 ketika bergabung dengan AC Milan. Dia tidak memberi banyak kontribusi di San Siro, jauh di bawah bayang-bayang Marco van Basten.

Denilson adalah contoh lain. Anda tentu masih ingat bagaimana Real Betis membelinya dengan harga 20 juta pounds dan menjadi pemain termahal di dunia ketika itu. Denilson gagal memberi gelar prestisius bagi Betis dan akhirnya -seperti Robinho- pulang kampung ke Brazil. Bahkan untuk sekedar mendapatkan klub baru, Denilson pernah bermain di Liga Vietnam!

Tentu tidak semua pemain berstatus mahal gagal dalam karir mereka. Namun dengan tingginya harga yang dibayar untuk ongkos transfer, beban pemain pun semakin tidak ringan. Cedera, depresi dan krisis kepercayaan diri seperti Robbie Keane dan Robinho menjadi momok bagi setiap pemain dengan status termahal.

Cristiano Ronaldo? Semoga saja insiden kartu merah dengan menyikut muka bek Malaga, Patrick Mtiliga, tidak menjadi awal kejatuhan sang mega bintang yang sebagai pemain sepak bola pertama di jagad yang ditransfer dengan rekor di atas satu triliun rupiah. (bola/zul)


Artikel Terkait


Artikel Lain

Komentar Pembaca (6 komentar)
socerman, Tarikolot city
17:31 17 Februari 2010
performa mereka tidak memuaskan jadi ya lebih baik duduk manis di bangku cadangan
10, barcelona
01:02 14 Februari 2010
y betul karena berbatov, robinho dan denilson blm mempunyai serangan yg maksimum / kurang didikan dari pelatih.
saiia, jakarta
12:50 13 Februari 2010
iia mungkind robinhoo capegh abiss tanding apalge klu sampe gagal. udah capek eh ditambah kalah kan sakit hati tuh...met istirahat ya binhoo moga aja cepet fresh laghee.. n bisa menang di babak atau liga2 berikutnya