Roberto Mancini dan Niccolo Machiavelli

Roberto Mancini dan Niccolo Machiavelli

Bola.net - -
Oleh: A.A. Aribowo

Berasal dari tanah penuh anggur dan sarat roti di bakul kelezatan laga kehidupan, keduanya kini menuai jelai gandum dan memetik merahnya anggur di kebun Italia. Mereka berdua, yakni Roberto Mancini dan Niccolo Machiavelli.

Sama-sama berasal dari Italia, baik Mancini maupun Machiavelli menulis buku berjudul Kemurahan Hati dengan huruf kecil. Mancini lahir di kota kecil Iesi, Ancona, 27 November 1964, sedangkan Machiavelli lahir di kota Florence (Firenze) di jazirah Italia pada 3 Mei 1469. Keduanya mengarungi Zaman berbeda dan melewatkan profesi yang berbeda pula.

Dibesarkan dari keluarga Katolik, kehidupan Iesi banyak diwarnai dengan agama dan sepak bola. Dan Mancini menghirup senyawa oksigen kehidupan dari keduanya. Sementara Machiavelli, sang penulis buku Il Principe (Sang Penguasa) menjadi politikus dengan ide-ide konkret, praktis, dan peka terhadap prioritas tindakan.

Di laga bola, sebagai pelatih Manchester City, Mancini menerapkan ide konkret kemurahan hati kepada anak buahnya. Di laga politik, Machiavelli menyoal perilaku raja ketika mengelola kemurahan hati.

Seorang raja tidak perlu bertindak murah hati untuk membuat dirinya tersohor, kecuali kalau ia mau mempertaruhkan dirinya; jika ia bijaksana, ia tidak akan berkeberatan dianggap sebagai raja yang kikir, tulis Machiavelli.

Sang Penguasa, bertolak dari profil manajemen kekuasaan Cesare Borgia, yang selayaknya diterapkan bagi roda kehidupan ketatanegaraan Florence di masa depan.

Borgia tampil sebagai sosok yang berambisi memiliki kekuasaan apa saja dan menjalankan roda kekuasaan secara efisien. Tindakan politik sangat beda dengan penilaian moral, kata Borgia. Dan Machiavelli menegaskan bahwa tujuan berpolitik adalah memperkuat dan memperluas kekuasaan.

Mancini ingin memperkuat dan memperluas kekuasaan, setidaknya meninggalkan Italia kemudian melanglangbuana sampai ke Inggris. Di tanah air sepak bola itu, Mancini menawarkan kemurahan hati dan kerendahan hati. Sikap itu jelas-jelas berlawanan dengan kiblat sepak bola Inggris yang menekankan pada kemenangan dan kejayaan tim.

Mancini memaafkan kemudian memberi kesempatan kepada Carlos Tevez untuk bergabung kembali ke tim utama City. Pintu maaf Mancini atas Tevez merupakan respons atas drama Munich pada September lalu. Saat itu Tevez menolak perintah sang pelatih. "Apa yang terjadi dengan dia enam bulan lalu, itu sudah masa lalu," kata pelatih City.

Ketika menghadapi ulah bengal Mario Balotelli, lagi-lagi Mancini memberi maaf kepadanya. Keberadaan pemain City asal Italia itu bagaikan duri dalam daging. Meskipun menceploskan dua gol saat meladeni Sunderland dalam lanjutan Premier League, Sabtu (31/3), Balotelli bersikap seperti pahlawan kesiangan.

Ketika pertengahan babak kedua, Balotelli sempat terlibat cekcok dengan rekan satu timnya, Aleksandar Kolarov. Keduanya berebut mengambil tendangan bebas. Alhasil, City ditahan imbang 3-3 oleh Sunderland. Sejumlah pemain City menyalahkan sikap Mancini yang terlalu memberi toleransi kepada Balotelli.

Sebuah sumber mengatakan, "Mario kini mulai membuat para pemain merasa tertekan. Harusnya ia mampu menunjukkan perilaku terpuji layaknya seorang bintang. Ia (Balotelli) berpikir bahwa ia dapat berada di atas peraturan. Ulahnya itu sungguh berdampak negatif bagi semangat dan kekompakan tim". Kubu City gunjang-ganjing.

Tak pelak, manajer gaek Setan Merah Alex Ferguson menyebut sikap Mancini yang memaafkan kemudian memanggil kembali Tevez sebagai bentuk kelemahan City. Sontak asisten Mancini, David Platt mengatakan Mancini tidak ingin meladeni pernyataan ketus Fergie. Kosok balik, manajer asal Skotlandia itu menyebut City sebagai tetangga yang gaduh.

Mancini belajar dari Machiavelli. Bagi Machiavelli, tidak ada nilai etis dalam kehidupan politik. Seorang penguasa dapat saja memutuskan dan melanggar perjanjian yang pernah diucapkan kepada kawulanya. So, Mancini jelas-jelas tidak menjilat ludahnya sendiri saat menghadapi Tevez yang mbalelo dan Balotelli yang ugal-ugalan.

Di mata Machiavelli, tidak ada hal yang menghancurkan dengan sikap bermurah hati, karena dengan menggunakan sikap itu Sang Penguasa tidak akan mampu melaksanakannya...lebih bijaksana untuk menimbulkan kesan bahwa anda seorang yang kikir yang dapat membuat Sang Penguasa dipandang hina tetapi tidak dibenci, ketimbang mencari nama harum dalam kemurahan hati tetapi mendapat sebutan rakus.

Di hadapan ratu kemurahan hati, Mancini bertekuk lutut. Ia membangun City untuk mengungguli pesaing lawasnya United. Di bawah mistar, City lebih unggul dari United. Awal musim kompetisi, kesigapan David De Gea menuai sejumlah kritik. Penjaga gawang asal Spanyol itu perlu menyesuaikan diri dengan iklim sepak bola Inggris. Penampilan kiper City Joe Hart tampak lebih kinclong.

Di lini tengah, City masih berkuasa. Pergerakan gelandang-gelandang City dari awal musim kompetisi terus menunjukkan grafik meningkat. Yaya Toure dan David Silva digadang-gadang bakal merajalela mengobrak-abrik lawan dengan mengandalkan kecepatan.

Sementara pelatih Alex Ferguson masih perlu menurunkan kembali gelandang veteran Paul Scholes untuk lebih memperkuat lini tengah Setan Merah. Di lini depan, pemain-pemain asuhan Ferguson menggungguli para pemain asuhan Roberto Mancini. Mancini masih bertumpu kepada kecepatan dan ketangguhan Carlos Tevez.

Mario Balotelli, Edin Dzeko dan Sergio Aguero masih perlu membuktikan diri sebagai pemain yang subur mencetak gol. Sedangkan, Fergie tidak perlu khawatir dengan penampilan Rooney yang terus berkilap.

Dari sisi manajer, Fergie melewati Mancini. Fergie memberi United 12 gelar Liga Premier. Prestasi ini mengukuhkan dia sebagai salah seorang manajer yang telah teruji di ajang sepak bola Inggris. Sementara, Mancini masih perlu banyak "berguru" ketika mengarungi gejolak samudera sepak bola Inggris.

Diterpa plus minus City jika dibandingkan dengan United, Mancini sejenak bermenung dan berdoa menimba kekuatan dari mata air Ilahi. Ia datang menyambangi sebuah gereja Katolik di Bosnia. Ia tidak ingin terus bergumul dengan keras dan panasnya laga bola, tetapi ia ingin berpasrah diri kepada Yang Ilahi.

Mancini tertangkap kamera sedang mengunjungi sebuah gereja Medjugorje selama perjalanannya ke Bosnia. Medjugorje, sebuah tempat berziarah bagi umat Katolik. Selama perayaan keagamaan berlangsung di gereja itu, Mancini tampak duduk di barisan bangku belakang. Ia tampak khusyuk berdoa dan bermenung di hadapan Ilahi.

Baik Mancini maupun Machiavelli sama-sama ingin "pulang" ke tanah keutuhan nurani. Meminjam artikulasi bapak Psikoanalisa Sigmund Freud, "Si aku bertentangan dengan idealnya. Batin manusia retak, tiada lagi harmoni batin.

Di hadapan pengadilan suara hati, manusia merasa gelisah dan merasa terdorong untuk mengakui kesalahannya. Manusia kemudian melarikan diri dalam kesepian."

Mancini dihinggapi virus rasa bersalah, Machiavelli dihampiri virus kesepian, meskipun keduanya telah menjala di danau kemurahan hati dengan huruf besar. Ungkapan bahasa Latinnya, "bona conscientia paradisus" (hati nurani yang baik adalah Firdaus).

Berita Terkait