Tim Putri Ubaya Juara Libamanas 2011/2012
Editor Bolanet | 20 Februari 2012 21:00
- Tim Putri Universitas Surabaya (Ubaya) menjuarai Liga Basket Mahasiswa Nasional (Libamanas) 2011/2012 setelah memenangkan laga final yang digelar di Hall Basket Senayan Jakarta, mengalahkan Tim Universitas Pelita Harapan (UPH) dengan skor 77-64.
Ubaya yang menggunakan seragam putih-putih meski kalah dukungan dari suporter terlihat tenang dalam bermain. Berbeda dengan UPH yang terlihat lebih agresif dalam melakukan serangan. Hasilnya kejar mengejar perolehan poin pun terjadi. Terbukti pada kuarter pertama kedudukan sama kuat 15-15.
Memasuki kuarter kedua, Mega Nanda Perdana Putri dan kawan-kawan berbalik lebih trengginas dibandingkan tim UPH. Tekanan demi tekanan terus dilakukan. Bahkan beberapa kali lemparan tiga angka dari tim asal Surabaya itu membuat margin poin melebar.
UPH yang dimotori Yolanda berusaha menekan pergerakan pemain Ubaya. Bahkan tim asal Karawaci, Tangerang itu mampu menyusul perolehan poin lawan. Hanya saja di akhir kuarter kedua harus mengakui tim asal Surabaya itu dengan skor 34-38.
Memasuki kuarter tiga pertandingan sangat ketat. Kedua tim yang sama-sama ingin memenangkan pertandingan terus menunjukkan kemampuan terbaiknya. Seperti yang dilakukan pemain Ubaya, Jumriah. Pemain dengan nomor punggung 18 dengan lincahnya menyarangkan bola ke jaring lawan.
UPH pun tidak tinggal diam. Melalui lemparan tiga angka membuat poin terus bertambah dan membuat margin poin mendekat. Sorakan dari suporter UPH terus menggema. Hasilnya perguruan tinggi milik Grup Lippo itu mampu mendekat dengan skor 50-53.
Memasuki kuarter terakhir, permainan sengit kembali terjadi. Namun, Ubaya lebih bermain agresif. Hasilnya tim asal Surabaya itu berhasil lepas dari tekanan UPH yang berambisi memenangkan pertandingan. Akhirnya anak asuh Wellianto Pribadi mampu unggul dengan skor akhir 77-64.
Kunci dari kemenangan ini adalah bisa keluar tekanan di kuarter empat. Kami juga tidak memberi instruksi teknis. Hanya membangkitkan rasa percaya diri pemain saja. Dan ternyata berhasil, kata pelatih Ubaya, Wellianto Pribadi.
Menurutnya, menjuarai Libamanas 2011/2012 sebenarnya bukan target karena sebelumnya hanya membidik empat besar nasional. Namun, kata dia, kondisi di lapangan berbeda. Anak asuhnya bermain lepas sehingga mampu menjadi yang terbaik.
Kami tidak terpancing emosi meski diprovokasi lawan. Kami juga bermain tenang. Hasilnya, kami mampu menjuarai turnamen ini, kata kapten Ubaya, Mega Nanda Perdana Putri usai pertandingan.
Sementara itu pelatih UPH Karawaci Daniel Rahadi Gondosaputro mengaku kurang puas dengan hasil yang diraih anak asuhnya. Padahal pada Libamanas tahun ini timnya ditargetkan menjadi juara.
Kami tidak akan menyalahkan pemain. Pelatih juga salah. Kami berharap pertandingan ini bisa dijadikan bahan evaluasi ke depan terutama bagi saya sebagai pelatih muda, katanya. (ant/kny)
Ubaya yang menggunakan seragam putih-putih meski kalah dukungan dari suporter terlihat tenang dalam bermain. Berbeda dengan UPH yang terlihat lebih agresif dalam melakukan serangan. Hasilnya kejar mengejar perolehan poin pun terjadi. Terbukti pada kuarter pertama kedudukan sama kuat 15-15.
Memasuki kuarter kedua, Mega Nanda Perdana Putri dan kawan-kawan berbalik lebih trengginas dibandingkan tim UPH. Tekanan demi tekanan terus dilakukan. Bahkan beberapa kali lemparan tiga angka dari tim asal Surabaya itu membuat margin poin melebar.
UPH yang dimotori Yolanda berusaha menekan pergerakan pemain Ubaya. Bahkan tim asal Karawaci, Tangerang itu mampu menyusul perolehan poin lawan. Hanya saja di akhir kuarter kedua harus mengakui tim asal Surabaya itu dengan skor 34-38.
Memasuki kuarter tiga pertandingan sangat ketat. Kedua tim yang sama-sama ingin memenangkan pertandingan terus menunjukkan kemampuan terbaiknya. Seperti yang dilakukan pemain Ubaya, Jumriah. Pemain dengan nomor punggung 18 dengan lincahnya menyarangkan bola ke jaring lawan.
UPH pun tidak tinggal diam. Melalui lemparan tiga angka membuat poin terus bertambah dan membuat margin poin mendekat. Sorakan dari suporter UPH terus menggema. Hasilnya perguruan tinggi milik Grup Lippo itu mampu mendekat dengan skor 50-53.
Memasuki kuarter terakhir, permainan sengit kembali terjadi. Namun, Ubaya lebih bermain agresif. Hasilnya tim asal Surabaya itu berhasil lepas dari tekanan UPH yang berambisi memenangkan pertandingan. Akhirnya anak asuh Wellianto Pribadi mampu unggul dengan skor akhir 77-64.
Kunci dari kemenangan ini adalah bisa keluar tekanan di kuarter empat. Kami juga tidak memberi instruksi teknis. Hanya membangkitkan rasa percaya diri pemain saja. Dan ternyata berhasil, kata pelatih Ubaya, Wellianto Pribadi.
Menurutnya, menjuarai Libamanas 2011/2012 sebenarnya bukan target karena sebelumnya hanya membidik empat besar nasional. Namun, kata dia, kondisi di lapangan berbeda. Anak asuhnya bermain lepas sehingga mampu menjadi yang terbaik.
Kami tidak terpancing emosi meski diprovokasi lawan. Kami juga bermain tenang. Hasilnya, kami mampu menjuarai turnamen ini, kata kapten Ubaya, Mega Nanda Perdana Putri usai pertandingan.
Sementara itu pelatih UPH Karawaci Daniel Rahadi Gondosaputro mengaku kurang puas dengan hasil yang diraih anak asuhnya. Padahal pada Libamanas tahun ini timnya ditargetkan menjadi juara.
Kami tidak akan menyalahkan pemain. Pelatih juga salah. Kami berharap pertandingan ini bisa dijadikan bahan evaluasi ke depan terutama bagi saya sebagai pelatih muda, katanya. (ant/kny)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Mozambik
Tim Nasional 9 Juni 2026, 15:16
-
Timnas Indonesia Ditantang Jaga Konsistensi Saat Hadapi Mozambik
Tim Nasional 9 Juni 2026, 15:14
-
Update Ranking BWF 2026 Setelah Indonesia Open 2026
Bulu Tangkis 9 Juni 2026, 14:41
-
Tino Livramento Bongkar Kehebatan Kobbie Mainoo di Timnas Inggris
Piala Dunia 9 Juni 2026, 14:02
-
Kick-off Jam Berapa dan Tayang di Mana Indonesia vs Mozambik?
Tim Nasional 9 Juni 2026, 12:55
LATEST EDITORIAL
-
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
Editorial 4 Juni 2026, 13:59
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19











