Jabulani Diuji Pakar Aeronotika
Editor Bolanet | 24 Juni 2010 16:16
Namun pada Rabu, mereka menguji objek yang lain dari biasanya, yaitu Jabulani, bola resmi Piala Dunia tahun ini yang kontroversial.
Riuh rendah kontroversi seputar Jabulani ini --baik di lapangan maupun di dunia maya-- memicu ilmuwan di institut peraih nobel tersebut untuk menguji perbedaan antara bola tradisional dan Jabulani.
Kedua bola dimasukkan ke dalam Lucas Wind Tunnel.
Angin berkekuatan 10 meter per detik ditiupkan ke dalam lorong, lebih lambat dibandingkan tendangan bola. Sebuah mesin asap digunakan untuk memvisualisasikan pergerakan udara di sekitar bola.
Bagaimana hasilnya? Seperti kebanyakan laga di Piala Dunia yang saat ini tengah digelar di Afrika Selatan, hasilnya seri.
Asisten profesor aeronotik Caltech Beverley McKeon mengatakan sulit untuk mengatakan bola mana yang lebih bagus.
Namun ia menegaskan bahwa permukaan Jabulani yang halus lebih sedikit menghasilkan tahanan sehingga pergerakannya lebih sulit diprediksi.
Jabulani yang diciptakan oleh produsen alat-alat olahraga Adidas dibuat tanpa kelim sehingga memiliki permukaan yang lebih halus. Sementara bola yang lama mempunyai alur yang lebih dalam di antara panel, sehingga menimbulkan pergerakan udara yang lebih bergolak.
"Ini sangat tidak masuk akal, namun semakin kasar bola, semakin bisa diprediksi lesatannya," kata McKeon seraya menambahkan bahwa bola yang lebih halus yang bergerak dengan kecepatan tinggi tidak akan bergerak lurus.
Keluhan Piala Dunia
Penemuan tersebut sejalan dengan keluhan yang disampaikan dalam Piala Dunia. Pemain, pelatih maupun para pendukung menuding Jabulani sebagai biang permainan buruk tim serta arah bola yang aneh.
Penyerang Spanyol Fernando Torres termasuk salah satu yang mengeluhkan kualitas bola setelah ia beberapa kali gagal membaca gerak bola dan melewatkan kesempatan untuk menjebol gawang, meski akhirnya timnya menang 2-0 melawan Honduras pada laga Grup H, Senin.
"Kami harus lebih lama berlatih menggunakan Jabulani karena kami sedikit kesulitan mengatasinya," kata Torres.
Namun, di tengah segala kontroversi dan hasil uji Caltech tersebut, Adidas tetap pada pendiriannya bahwa bola baru itu telah memenuhi atau melampaui standar FIFA, dan hasil tes Universitas Loughborough secara ilmiah membuktikan bahwa bola tersebut bergerak stabil dan memiliki ketepatan seperti laser.
McKeon merekomendasikan para pemain untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan Jabulani.
Layaknya ilmuwan lain, ia mengatakan bahwa uji lanjutan diperlukan untuk mempertimbangkan faktor lain seperti putaran dan peningkatan kecepatan.
Namun secara pribadi, ia memiliki pendapat sendiri mengenai kegagalan kiper Inggris Robert Green menangkap bola saat laga pembuka yang berakhir imbang 1-1 melawan Amerika Serikat.
"Tentu saja, saya menyalahkan bolanya," katanya. (ant/cax)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Wasit Piala Dunia 2026 Asal Somalia Ditolak Masuk Amerika Serikat
Piala Dunia 9 Juni 2026, 08:42
-
Hasil Lengkap Pertandingan AVC Women's Volleyball Cup 2026
Voli 9 Juni 2026, 08:37
-
Jadwal Lengkap Pertandingan AVC Women's Volleyball Cup 2026, 6-14 Juni 2026
Voli 9 Juni 2026, 08:37
-
Alasan Mengapa Fans Liverpool Harus Antusias Menyambut Andoni Iraola
Liga Inggris 9 Juni 2026, 06:29
LATEST EDITORIAL
-
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
Editorial 4 Juni 2026, 13:59
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19
-
3 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraola ke Liverpool
Editorial 3 Juni 2026, 16:05
-
6 Transfer yang Bisa Membawa Manchester United Juara Liga Champions
Editorial 3 Juni 2026, 15:47











