Bola.net -
Oleh: Ronny Wicaksono
Memalukan!
Mungkin kata itulah yang cukup tepat untuk menggambarkan kiprah Italia di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan kali ini.
Berstatus sebagai juara bertahan,
Gli Azzurri mengawali dua laga Grup F dengan meraih hanya dua poin dari hasil imbang 1-1 melawan Paraguay serta tim gurem, Selandia Baru. Berharap untuk bangkit di laga pamungkas grup, mereka malah dilibas satu lagi tim kuda hitam, Slovakia dengan skor 3-2.
Hasil tersebut membuat Italia harus menyusul juara dunia lainnya, Prancis yang angkat koper lebih dini. Seakan masih kurang menyedihkan, Italia terpaksa finis di dasar klasemen, di bawah Selandia Baru - tim yang berada di posisi 78 peringkat FIFA, 73 tingkat di bawah mereka!
Gli Azzurri dipastikan gagal mempertahankan mahkota juara dunia (c)AFP
Jadi, apa yang salah dengan
Azzurri?
Banyak faktor yang bisa dilihat dari kegagalan Italia lolos dari fase grup di Piala Dunia kali ini, kegagalan pertama mereka sejak tahun 1974. Namun yang paling kentara adalah susunan pemain yang dibawa pelatih
Marcello Lippi ke Afrika Selatan.
Kritik selalu dialamatkan kepada , bahkan sebelum ia mengumumkan skuad pilihannya. Namun pelatih yang untuk kali kedua menangani
La Nazionale itu selalu berkilah bahwa publik Italia memang selalu optimis dengan timnas, termasuk di tahun 2006 saat mereka menjadi juara dunia.
Namun kali ini tak ada lagi yang bisa dijadikannya alasan, sehingga dengan ksatria menyatakan kalau kegagalan Italia kali ini adalah sepenuhnya tanggung jawab yang harus ia pikul.
pun masih bersikukuh mempertahankan sejumlah pemain yang berjasa membawa Italia merengkuh trofi Piala Dunia meski usia mereka tak lagi muda, termasuk kapten
Fabio Cannavaro. Bahkan ia mencoba membujuk
Alessandro Nesta dan
Francesco Totti untuk keluar dari masa pensiun mereka, meski akhirnya batal mengingat kebugaran fisik dua pemain bersangkutan.
Jauh-jauh hari Lippi sudah menegaskan kalau ia lebih mementingkan pengalaman - atau dalam pengertian lain 'pemain tua' - ketimbang pemain muda penuh talenta ke Afrika Selatan. Rata-rata pemain yang dibawa ke Afrika Selatan sudah memasuki usia kepala tiga dan efeknya pun terlihat kala mereka bermain melawan tim yang lebih
fresh macam Slovakia dan Selandia Baru.
gagal menutup pergerakan
Shane Smeltz ketika penyerang
Tim Kiwi itu menjebol gawang Italia lebih dulu sebelum akhirnya mereka selamat dari kekalahan lewat gol penalti
Vincenzo Iaquinta.
Cannavaro gagal mengantisipasi bola yang berbuntut gol Selandia Baru oleh Shane Smeltz (c)AFP
Bukti paling gres adalah ketika mereka gagal menandingi kecepatan para pemain Slovakia dalam melakukan serangan balik dan harus menyerah 3-2, margin skor yang bisa saja lebih besar andai Slovakia lebih serius memanfaatkan peluang ketika sudah unggul 2-0.
Selain itu lini belakang Italia kerap kerepotan menghadapi situasi bola-bola mati, hal yang bisa dilihat dari proses semua gol yang bersarang di gawang Italia. Postur yang tak cukup tinggi tak bisa lagi ditutupi oleh cara bertahan lugas seperti yang ia peragakan empat tahun lalu.
Namun tak punya pilihan lain ketimbang memainkan bek muda minim pengalaman macam
Leonardo Bonucci,
Salvatore Bocchetti maupun
Christian Maggio, terlalu beresiko untuk turnamen sebesar Piala Dunia.
Masalah regenerasi yang terkesan terlambat itu juga menjadi perhatian serius presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC),
Giancarlo Abete. Menurut orang nomor satu di lingkungan sepak bola Italia itu, negara-negara besar tampil loyo karena mereka tidak memiliki sistem pemain muda yang bagus. Klub hanya mementingkan uang dari kontrak siaran langsung pertandingan, tanpa menghiraukan program pengembangan dan pembinaan para pemain muda yang akan bermain di level internasional.
"Jika melihat Piala Dunia ini, kamu akan melihat kenyataan bahwa semua tim besar Eropa memiliki persoalan. Antara Spanyol, Prancis, Inggris, Jerman dan Italia, hanya satu yang meraih kemenangan. Selain Belanda, hanya tim-tim Amerika Tengah dan Selatan yang tersenyum."
"Klub-klub memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan federasi," lanjut .
Selain itu, masalah lain ada di lini serang
Gli Azzurri.
memang membawa
Antonio Di Natale - top skorer Serie A musim ini, serta
Giampaolo Pazzini yang bermain gemilang untuk Sampdoria musim ini. Namun kunci serangan Italia selama ini bukan terletak pada
target man di lini depan, tetapi pada penyerang lini kedua di belakang mereka atau dikenal dengan istilah
trequartista. Pemain dengan talenta, visi, dan kreativitas membangun serangan - sesuatu yang tak dimiliki skuad Italia kali ini.
Italia masih mempunyai sosok
playmaker dalam diri
Andrea Pirlo namun ia lebih bermain ke belakang dan ketika pemain AC Milan itu cedera serta harus melewatkan dua laga awal, kreativitas serangan Italia pun menjadi kering.
Riccardo Montolivo yang diplot menggantikan gagal membuktikan perannya.
Riccardo Montolivo gagal memainkan peran sebagai pengatur serangan di skuad Italia (c)AFP
Francesco Totti dan
Alessandro Del Piero, sebagian dari
trequartista berpengalaman yang dimiliki Italia dan bermain impresif untuk klubnya masing-masing, tak lagi dipertimbangkan - pun mengingat usia dan kebugaran fisik keduanya.
Namun sejatinya masih punya pilihan dalam diri
Antonio Cassano,
Fabrizio Miccoli maupun
Mario Balotelli - tiga pemain pujaan publik Italia yang selalu dikesampingkan oleh meski tampil mengesankan untuk klub masing-masing.
Dan ketika serangan Italia mengalami kebuntuan di Piala Dunia, publik pun kembali menyoroti sikap keras kepala Lippi yang ogah mempertimbangkan mereka masuk dalam skuad
Gli Azzurri.
Namun
toh semua sudah tak ada artinya lagi sekarang karena Italia telah dipastikan bakal pulang kampung dengan kepala tertunduk. Tugas berat kini diemban arsitek baru
Cesare Prandelli untuk membangun kembali tim yang solid, tim yang mampu mengembalikan kejayaan Italia dan membuat seluruh negeri mengumandangkan yel-yel 'Forza, Italia!'
(bola/row)