Cara Del Bosque Mengalahkan Prandelli
Editor Bolanet | 2 Juli 2012 15:30
Bola.net - Oleh: Bayu Yulianto
Permainan di final Euro 2012 saat melawan dini hari tadi menunjukkan bahwa La Furia Roja unggul segalanya dari Andrea Pirlo cs. Mereka memecahkan rekor hattrick juara kompetisi Internasional, sementara Italia, walaupun kalah, bisa pulang dengan kepala tegak karena mereka telah melebihi ekspektasi dengan menembus babak final, dan bahkan mengalahkan favorit juara, .
Persaingan taktik antara Spanyol dan Italia juga patut mendapat perhatian. Sama seperti saat pertemuan pertama mereka di pertandingan Grup C, Spanyol tetap menggunakan striker bayangan, namun lebih banyak melakukan serangan-serangan yang efektif, sementara Italia mengganti lini belakang mereka yang biasanya tiga menjadi empat pemain bertahan.
Berikut adalah ulasan dari adu strategi antara Vicente del Bosque dan Cesare Prandelli.
* Ketajaman Spanyol
Strategi false nine Spanyol banyak dikritik karena dinilai menampilkan permainan yang negatif dan tidak jelas.
Bila dibandingkan dengan peran serupa yang dijalankan Lionel Messi di Barcelona, Cesc Fabregas yang bermain sebagai striker bayangan kesulitan untuk mengembangkan permainan.
Sebuah peran yang sulit, yang hanya bisa optimal bila striker bayangan tersebut mampu melakukan serangan untuk menembus pertahanan lawan.
Disinilah perlunya peran midfielder yang mampu memberikan umpan akurat. Dan hal ini sepertinya menjadi perkara yang mudah bagi dan . Masalahnya, di lima pertandingan pertama mereka selama Euro ini, penyerang bayangan tidak berfungsi maksimal. Pemain depan Spanyol masih kebingungan dan kesulitan membongkar lini belakang lawan.
Di final tadi, Spanyol meminimalisir kesalahan dalam strategi ini. Cesc Fabregas dan David Silva berhasil memporak-poranda pertahanan Italia dengan pergerakan mereka. Gol pertama terjadi karena kemauan Fabregas untuk menembus pertahanan, sesuatu yang jarang terjadi di laga perdana Spanyol melawan Italia.
* Kelemahan Formasi 4-4-2 Diamond
Cesare Prandelli mencoba untuk memakai formasi 4-4-2 diamond untuk laga final. Sebuah keputusan yang mudah ditebak dan del Bosque telah menyiapkan rencana yang matang untuk mengatasinya.
Bek sayap, Alvaro Arbeloa dan Jordi Alba ditekankan untuk membantu penyerangan. Bahkan seorang Arbeloa pun sampai terlalu jauh meninggalkan posisinya.
Bila kita bisa teliti, ada celah dalam formasi diamond Italia dan Spanyol berhasil menemukan celah itu berkat tekanan terus menerus yang dilakukan oleh bek sayap Spanyol.
Hal ini membuat bek sayap Italia terlihat canggung, apakah harus turun atau membantu serangan, sementara para gelandang tidak bisa menetralisir dan melindungi ruang yang terbuka dengan cermat.
Serangan gencar Spanyol membuat Italia kebingungan sehingga membuat pertahanan rapuh dan serangan menjadi tumpul.
* Memberi Tekanan
Pergantian yang dilakukan Vicente del Bosque terhadap Cesc Fabregas dan Fernando Torres mengingatkan kita akan yang terjadi di laga penyisihan grup antara Spanyol melawan Italia, bedanya, di laga final tadi, pergantian ini memberi hasil positif.
Ketika pertandingan pertama, Torres dimasukkan supaya memberi tekanan kepada ketiga defender Italia yang terlihat enjoy dengan pertandingan.
Torres berhasil merepotkan pertahanan dengan serangan melalui posisi Giorgio Chiellini dan memaksa mundur lini belakang Gli Azzurri.
Striker Chelsea ini menghidupkan peluang-peluang Spanyol melalui serangan balik dan memukul mundur Italia, memaksa Gianluigi Buffon menjatuhkan dirinya di dalam kotak penalti. Torres juga berhasil melepaskan dua tembakan walaupun meleset dari sasaran.
Di laga final, Torres melakukan hal serupa. Memposisikan dirinya tepat di depan pertahanan terakhir Italia, merepotkan Andrea Barzagli dan Ignazio Abate, serta mengeksploitasi serangan melalui sayap kiri dan berhasil mencetak satu gol dan satu assist.
* Kesimpulan
Italia kalah segalanya dari Spanyol dan membiarkan Tim Matador menciptakan sejarah.
Mereka membungkam pernyataan media yang menganggap permainan Spanyol membosankan.
Sebuah fakta bahwa tidak ada tim lain yang bermain sebaik mereka, dan laju Spanyol yang tidak bisa dibendung Italia dalam final dini hari tadi telah memberi kita suatu pertunjukan yang menarik. (kpl/bola)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Flashback Euro 2012: Voli Roket Sami Khedira Hancurkan Yunani
Piala Eropa 30 Maret 2016, 16:46
-
Flashback Euro 2012: Kala Balotelli Buyarkan Mimpi Jerman
Piala Eropa 29 Maret 2016, 14:49
-
Flashback Euro 2012: Tyton, From Zero to Hero
Piala Eropa 21 Maret 2016, 15:52
-
Flashback Euro 2012: Kala Si Tua Shevchenko Cerahkan Hari Ukraina
Piala Eropa 21 Maret 2016, 15:41
-
Momen Magis EURO: Penalti Panenka Pirlo
Piala Eropa 7 Oktober 2015, 12:47
LATEST UPDATE
-
Thomas Tuchel Senang Anthony Gordon Gabung Barcelona
Piala Dunia 9 Juni 2026, 15:45
-
Nonton Indonesia vs Hong Kong: AVC Women's Nation Cup 2026 di Vidio
Voli 9 Juni 2026, 15:43
-
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Mozambik
Tim Nasional 9 Juni 2026, 15:16
-
Timnas Indonesia Ditantang Jaga Konsistensi Saat Hadapi Mozambik
Tim Nasional 9 Juni 2026, 15:14
LATEST EDITORIAL
-
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
Editorial 4 Juni 2026, 13:59
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19












