Ciro Ferrara dan Era Baru Bianconeri

Editor Bolanet | 16 September 2009 07:30
Ciro Ferrara dan Era Baru Bianconeri
Ciro Ferrara dan David Trezeguet merayakan gol Juventus ke gawang Lazio. (c)AP

Bola.net -
Oleh: Zulfikar Aleksandri

Apa yang istimewa dari di akhir 90an? Jawabannya adalah Zinedine Zidane dan Marcello Lippi. Satu dekade berselang, Bianconeri memiliki dua sosok istimewa itu pada diri Diego Ribas da Cunha dan Ciro Ferrara. Masih terlalu dini menyebut Juventus sebagai kandidat kuat scudetto Seri A musim ini. Masih ada 35 pertandingan lagi sebelum Azzurri berangkat ke Afrika Selatan untuk mempertahankan gelar juara dunia yang diraihnya tiga tahun lalu di Jerman. Grafik permainan dan hasil yang diraih skuad asuhan Ferrara menunjukkan kini berada pada jalur yang benar menuju scudetto. Tiga kemenangan dalam tiga pertandingan awal, dua di antaranya menghadapi dua tim ibu kota, AS Roma dan , menjadi bukti konsistensi adalah target yang ingin dicapai Ferrara musim ini, berkaca pada hasil-hasil buruk ketika masih diarsiteki Claudio Ranieri musim lalu. Musim ini merupakan debut Ferrara melatih klub Seri A, tidak tanggung-tanggung yang dilatihnya adalah peraih scudetto terbanyak, . Sinyal kesuksesan Ferrara sudah terbaca ketika musim lalu sebagai caretaker menggantikan Ranieri meraih dua kemenangan pada dua laga sisa . Mengawali karir di , Ferrara "ditemukan" oleh Marcello Lippi yang memboyongnya ke Delle Alpi tahun 1994 dan kemudian menjadi salah satu bek terbaik Italia hingga pensiun empat tahun lalu. Ilmu kepelatihan Ferrara merupakan "rangkuman" dari pelatih-pelatih papan atas Italia seperti Marcello Lippi, Carlo Ancelotti, dan Claudio Ranieri. Pengaruh strategi Lippi paling menonjol karena bersama pelatih yang identik dengan cerutu itu, mampu meraih gelar Copa Italia, scudetto, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antar Klub. Bila menyimak komposisi pemain saat ini, karakter permainan dan pola yang dimainkan tidak jauh beda dengan Juventus akhir 90an. Ketenangan dan kepemimpinan Angelo Peruzzi di era Lippi kini diteruskan Gianluigi Buffon yang semakin matang memasuki kepala tiga. Di lini belakang, senioritas dan pengalaman Fabio Cannavaro, seperti yang diperankan Ferrara ketika masih aktif bermain, diimbangi dengan kekuatan bek sayap Fabio Grosso dan Zdanek Grygera atau Jonathan Zebina, mengingatkan orang pada Gianluca Pessotto dan Moreno Torricelli di era Lippi. Sebagai destroyer di lini tengah, Felipe Melo bahkan disebut-sebut memiliki skill dan agresivitas lebih baik dibandingkan "tukang jagal" Juve akhir 90an, Didier Deschamps dan Edgar Davids. Peran dan eksplosivitas Mauro Camoranesi di sektor sayap juga mengingatkan pada sosok gelandang andalan Lippi, Angelo di Livio. Setelah Pavel Nedved pensiun, tidak salah memilih sebagai aktor baru di lini tengah Bianconeri. disebut-sebut memiliki kualitas setara dengan dua legenda , Michel Platini dan Zidane. Bahkan, Diego dianggap mampu seperti Diego Maradona, bukan hanya kesamaan nama depan, tetapi juga skill dan bakat yang dimilikinya. Di lini depan, meski Ferrara sangat mengenal kemampuan Alessandro Del Piero, pelatih berusia 42 tahun itu tidak menutup kesempatan trio penyerang Juventus lainnya dengan kemampuan sepadan, yakni , Vincenzo Iaquinta, dan David Trezeguet. Ini merupakan nilai lebih Ferrara dibandingkan di era Lippi yang hanya mengandalkan duet Del Pippo, Alessandro Del Piero dan Fillippo Inzaghi. Lippi, yang kini mengarsiteki timnas Italia, memanggil delapan pemain ke skuad Azzurri. Di Piala Dunia 2010 nanti, Lippi bahkan bisa meramu kesebelasan yang terdiri dari seluruh pemain karena Alessandro Del Piero, , hingga antre masuk daftar skuad La Nazionale. Ferrara kini memiliki apa yang pernah dipunyai Lippi di akhir 90an lalu. Skuad komplit, pemain berkualitas, dan mental juara yang selalu dimiliki Bianconeri. Inter Milan yang mendominasi Seri A sejak tersandung calciopolli harus mulai waspada untuk meraih gelar scudetto kelima berturut-turut musim ini. (bola/bola)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT

LATEST UPDATE