EDITORIAL: Batistuta, Teladan, Profesional, Legenda
Editor Bolanet | 3 Desember 2013 17:28
Bola.net - Oleh: Gia Yuda Pradana
Dia sudah mundur dari dunia sepak bola profesional sejak tahun 2005 silam. Namun, sosok teladan dan profesional pemain legendaris Argentina bernama Gabriel Batistuta takkan pernah pudar oleh masa.
Sehebat itukah Batistuta? Mereka yang pernah menjadi saksi sepak terjang pemain berjuluk Batigol ini di era 1990-an sampai awal milenium baru pasti takkan ragu menjawab 'ya'. Kenapa bisa demikian? Sederhana saja, yaitu karena dia adalah Batistuta. Dia memang istimewa.
Batistuta lahir di Santa Fe pada tahun 1969. Dia mengawali karier profesional di Newell's Old Boys ketika berusia 19, lalu menyeberang ke duo raksasa Negeri Tango, River Plate (1989-1990) dan Boca Juniors (1990-1991), sebelum mengepakkan sayap ke Eropa.
Petualangan Batistuta di Benua Biru diawalinya bersama tim elit Italia Fiorentina pada tahun 1991. Di Firenze pula, Batistuta kemudian menemukan form terbaik, mendunia, menghabiskan sebagian besar kariernya, termasuk ketika Fiorentina berkubang di Serie B pada musim 1993–94, dan dianggap sebagai legenda oleh para tifosi setia La Viola. Mereka bahkan membuatkan sebuah patung sebagai bentuk pernghormatan kepadanya di tahun 1996.
Dengan seragam Fiorentina, Batistuta mengukir total 207 gol dalam 332 penampilan di semua ajang. Hanya saja, selama bermarkas di Artemio Franchi, Batistuta cuma bisa mempersembahkan gelar Coppa Italia 1995/96 dan Supercoppa Italiana 1996. Scudetto yang diimpikannya tak kunjung kesampaian.
Atas dasar itulah, dengan berat hati, sang Capocannoniere 1995 menerima pinangan AS Roma di tahun 2000. Pada musim pertamanya di ibu kota, Batistuta langsung mengangkat trofi Serie A. Itu adalah Scudetto pertama dan satu-satunya bagi Batistuta. Namun, gelar itu didapat Batistuta melalui sebuah jalan yang tidak mudah - baginya. Pasalnya, Batistuta mau tak mau harus menghadapi mantan klubnya.
Pada giornata 8 2000/01, didasari profesionalisme untuk memberikan yang terbaik bagi Roma, Batistuta mencetak sebuah late winner spektakuler ke gawang Francesco Toldo. Roma bersukacita, tapi Batistuta terpukul. Bagaimana pun, Fiorentina adalah klub yang sudah delapan musim dibelanya. Dia tak merayakan gol tersebut. Dia justru menangis. Seusai laga, dia berlari ke arah para tifosi Fiorentina yang hadir di Olimpico dan memberi salam kepada mereka - kembali dengan air mata yang berlinang. Sungguh malam yang sangat emosional baginya.
Batistuta lalu dipinjamkan ke Inter Milan pada tahun 2003. Setelah hanya mencetak dua gol dalam 12 penampilan, di usia yang sudah 34, Batistuta memutuskan meninggalkan gemerlapnya Serie A dan berlabuh di Qatar.
Dua tahun memperkuat klub lokal Al Arabi, pemain yang turut mengantarkan Argentina juara Copa America 1991 dan 1993 serta Piala Konfederasi 1992 itu akhirnya gantung sepatu dan mundur dari dunia yang telah membesarkan namanya.
Batistuta merupakan salah satu mesin gol paling dahsyat dalam sejarah. Dia satu dari sekian 'nomor 9' paling mematikan dan paling komplet yang pernah ada. Finishing, heading, free-kick dan tembakan kerasnya tak mudah dilupakan. Dia pribadi luar biasa, baik di dalam maupun luar lapangan. Loyalitas dan profesionalismenya tak perlu diragukan. Kawan mencintainya, lawan menaruh respek terhadapnya. Pemain hebat lain yang juga kompatriotnya, Diego Maradona, mengatakan bahwa sosok yang selalu turun ke lapangan dengan antusiasme tinggi dan penuh energi ini sebagai striker terbaik yang pernah dilihatnya dalam kancah persepakbolaan dunia. Dia adalah legenda.
Sampai sekarang, pemain yang tampil di tiga Piala Dunia ini masih memegang rekor top scorer sepanjang masa Argentina dengan 56 gol dalam 78 penampilan, masih unggul jauh dari Lionel Messi di urutan dua dengan 37 gol dalam 83 penampilan.
Nama Pemain Terbaik Dunia urutan ketiga tahun 1999 dan salah satu dari 125 Greatest Living Footballers ini dicantumkan dalam Hall of Fame del Calcio Italiano edisi 2013, menyusul tokoh-tokoh legendaris Serie A lain seperti Roberto Baggio, Michel Platini (2011), Paolo Maldini dan Marco van Basten (2012).
Pantaskah Batistuta? Kita semua sudah tahu jawabannya. (bola/gia)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Bursa Pelatih Milan Memanas, Glasner Ungguli Pochettino dan Slot
Liga Italia 3 Juni 2026, 17:05
LATEST UPDATE
-
Nomor Punggung Skuad Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026
Piala Dunia 4 Juni 2026, 12:44
-
Diminati Juventus, Alisson Becker Putuskan Bertahan di Liverpool
Liga Inggris 4 Juni 2026, 12:23
-
10 Pelatih Termahal di Piala Dunia 2026, Siapa Gajinya Paling Besar?
Piala Dunia 4 Juni 2026, 12:14
-
Ibrahima Konate Gabung Real Madrid Tinggal Menunggu Pengumuman Resmi
Liga Spanyol 4 Juni 2026, 12:14
-
Andoni Iraola Hari Ini Teken Kontrak Sebagai Pelatih Baru Liverpool
Liga Inggris 4 Juni 2026, 12:02
-
Lini Tengah Impian Chelsea dengan Paket Transfer Rp4 Triliun
Liga Inggris 4 Juni 2026, 11:27
LATEST EDITORIAL
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19
-
3 Pemain Bournemouth yang Bisa Dibawa Andoni Iraola ke Liverpool
Editorial 3 Juni 2026, 16:05
-
6 Transfer yang Bisa Membawa Manchester United Juara Liga Champions
Editorial 3 Juni 2026, 15:47














