Inter 1997/98, Kandidat Raja Yang Gagal Naik Takhta
Gia Yuda Pradana | 25 Oktober 2017 13:41
Bola.net - Bola.net - Inter Milan musim 2017/18 ini memiliki kesamaan dengan Inter Milan musim 1997/98 silam. Kesamaannya adalah start yang sama-sama kencang di Serie A.
Total 26 poin sama-sama mereka raih dalam sepuluh giornata awal. Dua Inter dari dua era yang berbeda itu pun sama-sama memiliki skuat berkualitas dan disebut-sebut sebagai kandidat juara.
Namun Inter yang sekarang pasti berharap kalau hasil akhirnya nanti bisa lebih baik dibandingkan pendahulu mereka.
Ya, karena Inter musim itu memang hanya mampu menjadi kandidat juara tanpa bisa merengkuh takhta Serie A.
Inter menang 3-2 menjamu Sampdoria di giornata 10 Serie A 2017/18, Rabu (25/10). Gol-gol Inter dicetak oleh bek Milan Skriniar serta striker dan kapten Mauro Icardi (2).
Dengan hasil tersebut, berarti pasukan Luciano Spalletti tetap belum terkalahkan di liga tertinggi Italia musim ini. Mereka memiliki 26 poin dari delapan kemenangan dan dua hasil seri.
Inter pun menyamai rekor klub (26 poin dalam 10 giornata), yang sebelumnya baru pernah sekali mereka catatkan, yakni di musim 1997/98.
Mari kilas balik sejenak ke musim 1997/98.
Musim itu, presiden Massimo Moratti berharap banyak Luigi Simoni sebagai pelatih dan Ronaldo sebagai bintang utamanya.
Ronaldo direkrut dari Barcelona pada musim panas 1997 dengan nilai transfer $27 juta. Nilai transfer tersebut adalah rekor transfer termahal dunia waktu itu.
Selain striker Brasil itu, Moratti juga mendatangkan beberapa pemain lain. Termasuk di antaranya adalah sayap kanan Moriero dari AS Roma, Diego Simeone dari Atletico Madrid dan Alvaro Recoba dari Nacional.
Dibandingkan musim-musim sebelumnya, musim 1997/98 itu diakui sebagai musim di mana Inter dianggap sebagai kandidat serius untuk meraih Scudetto pertama mereka sejak 1988/89.
Sepuluh pertandingan pertama mereka lalui tanpa terkalahkan. Sama seperti musim ini, 26 poin dari delapan kemenangan dan dua hasil imbang pun mereka dapatkan. Dalam sepuluh giornata pembuka itu, Inter hanya gagal menang lawan Lazio (1-1) dan di derby melawan AC Milan (2-2).
10 Pertandingan pertama Inter di Serie A 1997/98
MD 01: Inter 2-1 Brescia (Gol Inter: Recoba 2)
MD 02: Bologna 2-4 Inter (Gol Inter: Fabio Galante, Maurizio Ganz, Ronaldo, Ivan Zamorano)
MD 03: Inter 3-2 Fiorentina (Gol Inter: Ronaldo, Moriero, Youri Djorkaeff)
MD 04: Lecce 1-5 Inter (Gol Inter: Djorkaeff 2, Ronaldo 2, Ganz)
MD 05: Inter 1-1 Lazio (Gol Inter: Ronaldo)
MD 06: Napoli 0-2 Inter (Gol Inter: Galante, Turrini-OG)
MD 07: Inter 1-0 Parma (Gol Inter: Ronaldo)
MD 08: Atalanta 1-2 Inter (Gol Inter: Djorkaeff, Taribo West)
MD 09: Inter 2-2 Milan (Gol Inter: Simeone, Ronaldo)
MD 10: Vicenza 1-3 Inter (Gol Inter: Simeone 2, Ronaldo).
Hingga giornata 10 musim itu, Inter belum terkalahkan dan memimpin klasemen dengan keunggulan dua poin empat poin atas juara bertahan Juventus di peringkat dua. Kepercayaan diri Inter pun memuncak.
Hanya sayang, setelah itu inkonsistensi mulai datang menyerang mereka. Menang, imbang dan kalah bergantian mereka catatkan.
Dari kekalahan-kekalahan itu, satu yang paling fatal dan paling menyakitkan adalah saat bentrok langsung melawan sang rival di Turin pada giornata 31.
April 1998, Inter dikalahkan Juventus 0-1. Hasil tersebut sangat krusial dalam kesuksesan Juventus merebut Scudetto musim itu. Kubu Inter sangat geram, karena menilai wasit berpihak pada La Vecchia Signora.
Penyebabnya adalah bodycheck yang dilakukan Mark Iuliano terhadap Ronaldo di kotak terlarang namun tak membuahkan hadiah penalti. Moratti, yang saat ini sudah tidak lagi menjabat presiden Inter, bahkan masih ingat insiden tersebut.
Beberapa waktu lalu, Moratti sempat mengungkitnya dan mengaitkannya dengan penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) di Serie A musim 2017/18. Moratti percaya, anda sudah ada VAR kala itu, Inter mungkin sudah diberi penalti dan hasil akhirnya bisa saja berbeda.
VAR? Saya masih perlu memahaminya secara utuh, kata Moratti seperti dikutip Football Italia.
Teknologi ini mungkin sedikit mengurangi emosi dari pertandingan, juga para penonton, sebagai ganti keamanan maksimal. Namun mungkin di Juve-Inter 1998 itu bisa sangat membantu.
Kekalahan itu membuat Juventus memiliki 69 poin di puncak klasemen, sedangkan Inter jadi tertinggal empat poin di tangga kedua.
Di tiga laga tersisa, Inter tak sanggup mengejar. Hasil imbang 0-0 lawan Piacenza, kalah 1-2 kontra Bari dan hanya menang atas Empoli pada pekan pemungkas jelas tak cukup bagi Inter untuk menggusur Juventus.
Inter akhirnya finis dengan 69 poin di peringkat dua. Sementara itu, Juventus menutup musim dengan 74 poin dan merengkuh Scudetto mereka yang ke-25.
Ronaldo mencetak 25 gol, tapi itu tak cukup baginya untuk meraih gelar Capocannoniere. Meski unggul atas Alessandro Del Piero (Juventus), Gabriel Batistuta (Fiorentina) dan Roberto Baggio (Bologna), dia kalah dua gol dari Olivier Bierhoff (Udinese).
Inter lagi-lagi gagal. Inter baru bisa menjuarai Serie A di musim 2005/06 menyusul dicabutnya gelar Juventus akibat skandal Calciopoli. Setelah itu, Inter berturut-turut menguasai Italia hingga musim 2009/10.
Musim berikutnya, gelar jatuh ke tangan sang tetangga AC Milan. Kemudian, Juventus yang telah bangkit dari kubur kembali mendominasi dan mereka melakukannya selama enam musim beruntun ke depan.
Inter musim ini berpeluang mengakhiri dominasi enam musim Juventus di Serie A. Inter punya segala yang dibutuhkan untuk melakukannya.
Start kencang dan skuat berkualitas, juga pelatih hebat, semua ada pada diri Nerazzurri. Jika dahulu mereka punya Il Fenomeno asal Brasil, sekarang adalah eranya bomber Argentina yang bernama Mauro Icardi.
Musim ini, selain juara bertahan Juventus, saingan terberat Inter adalah Napoli - yang pada musim 1997/98 silam finis peringkat terbawah dan terdegradasi ke kasta kedua.
Mengingat absennya mereka di Eropa musim ini, target juara Serie A untuk pertama kalinya sejak 2009/10 pun bukan target yang mustahil. Jika ada yang sangat dibutuhkan oleh Inter, maka itu adalah konsistensi.
Inter juga butuh mental kuat, yang membuat mereka tetap tegar meski dihadapkan pada situasi yang tak sesuai harapan - seperti insiden Ronaldo vs Juventus 1998.
Tanpa itu semua, kekecewaan seperti yang 20 tahun silam pernah mereka rasakan bisa saja terulang. Tanpa itu semua, mereka bisa saja kembali menjadi kandidat raja yang pada akhirnya gagal naik takhta.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Christian Chivu Tegaskan Inter Milan Tahu Cara Hadapi Arsenal
Liga Champions 20 Januari 2026, 14:49
-
3 Pemain Arsenal Absen Lawan Inter Milan, Siapa Saja?
Liga Inggris 20 Januari 2026, 14:40
-
Rekor Sempurna Arsenal Jadi Motivasi Hadapi Inter di Liga Champions
Liga Champions 20 Januari 2026, 14:23
-
Inter Milan vs Arsenal: Ketika 'Pedang Italia' Berhadapan dengan 'Perisai Inggris'
Liga Champions 20 Januari 2026, 14:18
LATEST UPDATE
-
Tempat Menonton Real Madrid vs Monaco: Live SCTV, Mengenang Drama 2004 di Bernabeu
Liga Champions 20 Januari 2026, 18:08
-
Tempat Menonton Bodo/Glimt vs Man City: Live SCTV dan Streaming di Vidio
Liga Champions 20 Januari 2026, 18:00
-
Tempat Menonton Inter vs Arsenal: Jam Berapa Siaran Langsung UCL Laga Ini?
Liga Inggris 20 Januari 2026, 17:45
-
Kebangkitan Kobbie Mainoo Jadi Momen Emas bagi Ineos di Manchester United, Kok Bisa?
Liga Inggris 20 Januari 2026, 17:11
-
Prediksi Slavia Praha vs Barcelona 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 17:00
-
Marc-Andre ter Stegen Absen dari Barcelona, Segera Jalani Tes Medis di Girona
Liga Spanyol 20 Januari 2026, 16:45
-
Daftar Pemain Barcelona untuk Laga Liga Champions Kontra Slavia Praha
Liga Champions 20 Januari 2026, 16:26
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06








