Ironi Real Madrid Yang Kembali Gagal di Liga Champions

Editor Bolanet | 13 Maret 2010 20:35
Ironi Real Madrid Yang Kembali Gagal di Liga Champions
Manuel Pellegrini (c)ap

Bola.net -

Oleh: Chandra Wijaya

10 Maret 2010 jadi tanggal yang akan diingat oleh semua publik Real Madrid. Di tanggal itulah Real Madrid untuk keenam kalinya secara beruntun tidak bisa melewati babak 16 besar Liga Champions. Padahal Real Madrid adalah pemegang rekor juara Liga Champions terbanyak dengan 9 kali gelarnya, jadi sebenarnya Los Blancos cukup kaya pengalaman untuk sekedar lolos dari babak 16 besar saja. Tetapi kenapa bisa gagal? Selain begitu pengalaman yang begitu melimpah di Eropa, di awal musim ini skuad klub raksasa Spanyol ini pun sudah dibanjiri dengan begitu banyaknya pemain baru. Bahkan tidak main-main, 2 pemain termahal dan terbaik dunia pun mereka beli. Cristiano Ronaldo dan sudah menjadi milik mereka sejak awal musim ini dengan rekor transfer sebesar 94 dan 65 juta Euro. Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga membeli pemain bintang lainnya yang tentu saja harganya tidak murah sebut saja seperti Karim Benzema dan Xabi Alonso yang masing-masing seharga 35 juta Euro dan 30 juta Euro. Selain itu masih ada nama seperti (4 juta Euro), Negredo (5 juta Euro), Raul Albiol (15 juta Euro), dan Granero (4 juta Euro). Total di bursa transfer awal musim ini, mereka telah menghabiskan 252 juta Euro hanya untuk mendatangkan 8 pemain baru. Pengeluaran yang mencapai 3 triliun rupiah itu masih ditambah juga dengan penunjukan manajer baru. Manuel Pellegrini, jelas bukanlah sembarang manajer. Dialah sosok di belakang kesuksesan , yang dia sulap dari sebuah klub biasa menjadi langganan tetap posisi 4 besar Liga Spanyol dan selalu rutin berlaga di Liga Champions tiap tahunnya. Karena itu datangnya para pemain bintang dan pelatih baru yang bertaktik jitu tersebut, sudah dipandang sebagai modal yang sangat kuat untuk meraih kesuksesan di musim ini. Presiden Real Madrid, Florentino Perez sejak dia kembali terpilih menjadi presiden 1 Juni 2009 lalu sudah mengutarakan dengan kuat target ambisiusnya. Dia langsung mengutarakan keinginannya untuk membangun kembali Real Madrid untuk menjuarai La Liga dan Liga Champions. Karena itu dia tidak segan-segan mengeluarkan dana dalam jumlah yang super besar demi mendatangkan pemain dan pelatih yang terbaik. Dan keinginannya itu sudah tercapai dengan mendatangkan 8 pemain bintang baru plus pelatih Manuel Pellegrini. Dan impian di Liga Champions sepertinya akan terwujud setelah memulai 2 pertandingan awal Liga Champions dengan gemilang yaitu dengan mengalahkan Zurich 5-2 dan Marseille 3-0 pada tanggal 15 dan 30 September 2009. Hasil yang cukup mencolok itu lumayan membuat hati publik menjadi lega dan makin percaya klub kebanggaannya ini sedang merentas jalan meyakinkan untuk merebut trofi Liga Champions untuk kali ke 10 dalam sejarah mereka. Tetapi semua kegemilangan itu langsung berganti dengan keraguan besar begitu kalah 2-3 di kandang sendiri atas AC Milan pada tanggal 21 Oktober 2009. Hasil itu sangat mengejutkan karena saat itu masih berada dalam kondisi labil karena tampil tidak konsisten di Liga Italia maupun Liga Champions. Sebelum lawan saja, sudah kalah 2 kali beruntun lawan Marseille dan Zurich di Liga Champions. Hasil itu diteruskan kembali dengan gagal membalas dendam saat mereka pergi ke kandang pada 3 November 2009 di mana hanya bisa menahan imbang 1-1. Dilanjutkan lagi dengan kemenangan super tipis 1-0 atas Zurich, yang dianggap tim terlemah di grup C, di kandang mereka sendiri. Untungnya penampilan saingan terdekat mereka di grup C, AC Milan dan Marseille juga tidak begitu baik. Akhirnya ditambah dengan kemenangan 3-1 mereka di kandang Marseille, pun menjadi juara grup C dan lolos ke babak 16 besar. Hasil undian tanggal 18 Desember 2010 mempertemukan Real dengan Lyon yang menjadi runner-up grup E. Meski transfer Lyon di awal musim 2009-2010 lumayan besar mencapai jumlah 72,5 juta Euro, tetapi tentulah masih kalah jauh dibanding dengan biaya belanja yang mencapai 252 juta Euro. Apalagi pemain andalan utama Lyon, Karim Benzema, yang beberapa musim berperan sangat penting mempersembahkan gelar juara Ligue 1, juga pindah ke Real Madrid. Dengan kondisi seperti ini ditambah lagi dengan begitu bertaburnya pemain bintang di Real Madrid, sebenarnya tidak sulit bagi Los Merengues untuk melewati hadangan Lyon. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Pada pertandingan leg pertama 16 Februari 2009 di kandang Lyon, mereka pun kalah 0-1 oleh gol luar biasa dari Jean Makoun. Tetapi memang kesempatan mereka masih terbuka lebar jika mereka bisa menang dengan selisih 2 gol pada pertandingan leg kedua di kandang mereka sendiri. Optimisme tinggipun masih membara di publik . "Saya percaya sepenuhnya tim ini akan mampu mengatasi situasi ini. Saya tidak berpikir bahwa akan kembali gagal melaju ke perempat final seperti lima tahun sebelumnya. Kami marah tetapi kita tidak akan kehilangan harapan," tegas Manuel Pellegrini saat itu. "Kami tidak terlalu peduli dengan hasil leg pertama. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, kalah dalam suatu pertandingan adalah bagian dari sepak bola. Kami akan memulai laga kandang dengan penuh percaya diri, dan kami tahu kalau kami mampu mengalahkan Lyon dengan 2 atau 3 gol," kata Cristiano Ronaldo dengan optimisme super tinggi setelah pertandingan. Menjelang pertandingan leg kedua pada tanggal 10 Maret lalu, Real Madrid pun masih sangat yakin bisa menyingkirkan Lyon. Apalagi sebelumnya mereka berhasil mengalahkan rival berat mereka di La Liga, , dengan skor 3-2 dan berhasil duduk ke puncak klasemen menggusur karena unggul selisih gol. Bahkan dari optimisme yang berkembang, beberapa di antaranya cenderung menyepelekan Lyon. "Tim ini dalam bentuk permainan yang luar biasa, kami bermain di rumah dan kita bisa melakukan lebih baik daripada di , karena itu saya yakin kami akan lolos ke babak berikutnya. Dengan semua orang bersama-sama, kami harus menunjukkan bahwa di Bernabeu kami yang berkuasa," kata penuh percaya diri. "Kami bakal menang 3-0. Sekali lagi para fans bakal meneriakkan nama kami seperti yang mereka lakukan seusai laga kami melawan . Saya yakin, kami bakal kembali menghadirkan malam penuh keajaiban lagi di Santiago Bernabeu," ujar dengan begitu yakinnya. juga tidak ketinggalan mengungkapkan keyakinannya kalau timnya pasti bisa lolos, "Saya yakin kami akan lolos meskipun Lyon adalah lawan yang kuat. Kami harus bermain bagus. Kemudian baru kami lihat seberapa jauh kami bisa melangkah di Liga Champions." Tetapi sekali lagi apa hasilnya? Di pertandingan leg kedua ini, jangankan menang dengan selisih lebih dari 1 gol, sekedar menang saja Real Madrid sudah sulit melakukannya. Pertandingan penentuan ini hanya berakhir dengan kedudukan imbang 1-1. Ini artinya Lyon yang lolos dengan agregat 2-1. Ironisnya lagi mereka kebobolan gol Miralem Pjanic di 15 menit terakhir di mana masih mencari gol kedua mereka. Pendukung pun kecewa berat apalagi final tahun ini akan diadakan di Santiago Bernabeu, kandang kebanggaan mereka sendiri. Impian mereka untuk menyaksikan tim mereka berlaga di final di kandang mereka sendiri pun musnah. Seiring tersingkirnya mereka dari ajang yang paling ingin dimenangkan oleh Presiden Florentino Perez, masalah internal tim pun kembali bermunculan. Yang pertama tentunya masalah pelatih, banyak yang menuntut digantikan. Tetapi bersikukuh tidak akan mundur dan Direktur Real Madrid Jorge Valdano juga menegaskan bahwa pelatih Manuel Pellegrini tetap akan menjadi pelatih . Meski di luar itu banyak beredar berita, sudah mulai mendekati beberapa nama untuk menggantikan yang dianggapnya gagal. Nama Arsene Wenger, Rafael Benitez dan Jose Mourinho pun santer diberitakan sedang dirayu habis-habisan oleh manajemen untuk membawa kembali kejayaan . Tidak hanya pelatih, dalam internal pemain pun mulai muncul riak-riak. Bintang mereka, terlihat mengamuk dan mengucapkan beberapa kata sebelum meninggalkan lapangan dengan wajah marah ketika digantikan pada menit ke 77. Meski pada akhirnya dia mengonfirmasi bahwa dia memang kecewa saat diganti. Namun, bukan keputusan pelatih yang membuatnya kesal tapi karena permainan yang gagal berkembang sepanjang pertandingan. Terakhir Marca memberitakan terlihat 2 kali mengeluh pada Higuain karena tidak mengumpankan bola kepadanya ketika dia dalam posisi yang lebih bagus untuk mencetak gol saat mereka menghadapi Lyon. Pemain Portugal itu semakin frustrasi dengan gaya bermain bermain, di mana ada yang mengklaim kalau pemain termahal sedunia itu khawatir rekan setimnya itu begitu terobsesi menyelesaikan musim ini menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Spanyol. Dan entah masalah apa lagi yang akan muncul di kubu . Semua ini begitu ironis mengingat begitu besarnya ambisi mereka di awal musim. Kini mereka tinggal hanya bisa berusaha sekuat tenaga merebut gelar liga, sebagai satu-satunya kompetisi yang tersisa bagi mereka. Bisakah mereka melakukan itu? (bola/cax)

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT

LATEST UPDATE