Mohammad Hatta, Si Ujung Tombak Yang Tajam
Editor Bolanet | 10 Agustus 2015 02:09
Bola.net - Bola.net - Suatu sore di salah satu sudut kota Fort de Kock - kini dikenal dengan nama Bukittinggi- seorang bocah menangis sesunggukkan. Ia tak berdaya, hanya mampu mengelap air mata sembari terus berdiri. Dari kejauhan, sang Kakek, yang juga guru mengajinya dengan wajah garang mengawasi segala gerak-gerik sang bocah.
Rupanya, bocah tersebut sedang mendapatkan hukuman dari kakeknya karena telat pulang ke rumah, dan yang lebih fatal lagi, dia sengaja melewatkan jam mengajinya dengan bermain sepakbola. Pak Gek, demikian sang Kakek dipanggil, dia memang keras terhadap cucu kesayangannya tersebut. Ia ingin kelak sang cucu menjadi orang penting bagi negerinya. Oleh karenanya Pak Gaek ingin memastikan bekal ilmu agamanya cukup.
Lantas siapakah cucu Pak Gaek yang berani melewatkan jam mengajinya dengan bermain sepakbola tersebut?. Nama kecilnya Mohammad Atthar, kelak ketika dia dewasa, ia akan Belajar hingga ke Belanda dan menjadi tokoh penting bagi tanah airnya, ialah, bersama Sukarno, yang akan memproklamasikan kemerdekaan negaranya pada 17 Agustus 1945.
Ya benar, dialah Mohammad Hatta.
Hatta memang sangat gandrung dengan olahraga sepak bola. Kendati posturnya kecil, ia dikenal sebagai seorang ujung tombak yang jago. Keahliannya membobol gawang lawan tak kalah dengan keahliannya dalam memperjuangkan nasib Indonesia agar bebas dari penjajahan.
Bung Hatta, demikian sapaan karibnya, selalu menjadikan sepak bola sebagai olahraga favoritnya. Lepas dari auhan Pak Gaek, Hatta mengawali pendidikannya di MULO (Meet Uitgebreid Lagere Onderwijs) pada tahun 1916 di kota Bukittinngi. Pada tingkatan ini, Hatta tak lantas meninggalkan sepak bola kerena beban belajar yang semakin tinggi. Ia justru semakin serius bermain sepak bola.
Tak ingin kepalang tanggung, ia bergabung dengan perkumpulan sepakbola yang terdapat di kota yang sama dengan dia menempuh pendidikan. Awalnya, dia hanya anggota biasa, hanya berlatih dan bermain layaknya pemain lainnya.
Namun, karena pengurus klub tahu bahwa Hatta jago dalam hal perhitungan dan pengelolaan keuangan, maka dirinya mendapat tugas ganda, menjadi bendahara perkumpulan.
Pada masa ini, sepakbola memang masuk sebagai salah satu kurikulum dalam mata pelajaran olahraga di sekolah-sekolah, utamanya sekolah yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda. Merujuk pada Indische Verslag yang dikeluarkan pada tahun 1932, maka sepakbola adalah olah raga favorit pada era ini.
Sepakbola biasa dimainkan di kantor dinas pemerintah, pabrik-pabrik dan sentra industri, instansi swasta dan tentu saja yang tidak ketinggalan adalah instansi penddidikan.
Aktifitas Hatta dalam bermain sepakbola belum berhenti bahkan ketika dirinya aktif dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan. Pada masa pengasingan di Boven Digul, pada tahun 1935, Hatta banyak meluangkan waktu dengan empat hal, beribadah, menulis, mengajar, dan bermain sepakbola.
Bahkan, bersama dengan kolega karibnya, Sutan Sjahrir, Hatta sewaktu masa pengasingan ini sempat mendirikan perkumpulan sepakbola yang kemudian mereka beri nama Suci Hati (SH). Anggota terdiri dari para aktifis yang diasingkan serta penduduk setempat. Lewat sarana inilah Hatta menemukan cara yang tepat untuk berinteraksi dengan warga lokal.
Jelang kepindahannya ke Banda Neira, Hatta -dan juga Sjahrir- sempat melakukan sebuah pertandingan perpisahan pada Januari 1936. Seperti biasanya, Hatta berada satu tim dengan Sjahrir, mereka berduet sebagai juru gedor. Sebelum bertanding bahkan sempat ada sesi foto untuk mengabadikan momen bersejarah ini. Hatta ditandai dengan huruf H di dada, sedangkan Sjahrir dengan tanda S.
Pasca kemerdekaan, usia, kesibukan sebagai wakil presiden dan tentu saja berbagai tugas lain memang tidak memungkinkan Hatta untuk rutin bermain sepakbola. Namun, sesekali dirinya tetap meluangkan waktu untuk bermain atau sekedar menonton pertandingan sepakbola.
Guntur Sukarno Putra, mengkisahkan pada suatu sore di tahun 1950-an, saat itu ayahnya, Sukarno, dan Hatta sedang menghadiri sebuah pertandingan sepakbola yang mempertemukan tim PSSI melawan tim asal India, Aryan Ghimakana. Hatta dengan karakternya yang tenang dengan seksama mengamati jalannya pertandingan dimana pada saat itu tim PSSI kalah tipis, 1-0.
Usai laga, sembari berjalan pulang, Guntur dan Sukarno dibuat jengkel oleh ulah Hatta. Sepanjang jalan Hatta terus menggerutu dan marah dengan kekalahan tersebut. Dengan pemahaman taktikal yang cukup mumpuni, dalam kesaksian Guntur, Hatta mengkritisi permainan tim PSSI dengan berbagai argumen yang diajukannya dengan logis.
Sukarno bahkan sampai menegurnya bahwa hal tersebut hanyalah permainan sepakbola, jangan di analisa dengan teori yang njlimet seperti saat menganalisis kondisi ekonomi dan politik negara.
Demikian kami sajikan kisah Mohammad Hatta dan sepakbola. Tulisan ini adalah bagian dari editorial yang kami persiapkan untuk menyambut peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia yang akan jatuh pada 17 Agustus 2015 mendatang.
Kami masih akan menyajikan beberapa kisah bapak bangsa yang terlibat sebagai pelaku sepakbola, baik sebagai pemain maupun yang lainnya, dalam edisi-edisi selanjutnya. Selamat menikmati Bolaneters.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Prediksi PSG vs Newcastle 29 Januari 2026
Liga Champions 27 Januari 2026, 14:10
-
Nasib Jose Mourinho di Liga Champions Bergantung pada Alvaro Arbeloa
Liga Champions 27 Januari 2026, 13:56
-
Prediksi Man City vs Galatasaray 29 Januari 2026
Liga Champions 27 Januari 2026, 13:54
-
Prediksi Arsenal vs Kairat 29 Januari 2026
Liga Champions 27 Januari 2026, 13:40
-
Reuni Mengejutkan: Andre Onana Bisa Gantikan Gantikan Yann Sommer di Inter Milan
Liga Italia 27 Januari 2026, 13:29
-
Prediksi Barcelona vs Copenhagen 29 Januari 2026
Liga Champions 27 Januari 2026, 13:26
-
Prediksi Monaco vs Juventus 29 Januari 2026
Liga Champions 27 Januari 2026, 12:39
-
Ternyata Bukan Cerita Baru, Skuad Valentino Rossi Sudah Incar Fermin Aldeguer Sejak 2023
Otomotif 27 Januari 2026, 12:29
-
Rooney Soroti Pergantian Arteta Saat Arsenal Kalah dari Man United: Terlihat Panik
Liga Inggris 27 Januari 2026, 12:28
-
Man Utd Bungkam Arsenal, Michael Carrick Ukir Rekor Sempurna atas Arteta
Liga Inggris 27 Januari 2026, 12:11
-
Kekuatan Mental Arsenal Dipertanyakan Usai Kalah dari Manchester United
Liga Inggris 27 Januari 2026, 12:01
-
Bayern Munchen Buka Pembicaraan Kontrak Baru untuk Harry Kane
Liga Eropa Lain 27 Januari 2026, 11:47
-
Nicolo Bulega Masih Jaga Asa Dibawa Ducati ke MotoGP 2027 Meski Bahagia di WorldSBK
Otomotif 27 Januari 2026, 11:39
LATEST EDITORIAL
-
6 Calon Pengganti Casemiro di Manchester United
Editorial 27 Januari 2026, 10:41
-
5 Bintang Manchester United yang Bisa Bersinar di Bawah Michael Carrick
Editorial 23 Januari 2026, 06:04
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24

