Agum Gumelar Minta Jokowi Menegur Menpora
Editor Bolanet | 27 Agustus 2015 14:18
- Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Agum Gumelar, menilai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, tidak bijaksana dalam menjalankan tugasnya. Bahkan, dilanjutkan Agum, cenderung melakukan pendekatan kekuasaan.
Karena itu, Agum Gumelar juga mengemukakan imbauan sekaligus harapannya kepada Presiden RI, Joko Widodo atau Jokowi.
Sikap Menpora Imam Nahrawi dengan keukeuh mempertahankan pembekuan terhadap PSSI, meski terus dikecam oleh berbagai elemen masyarakat, juga dikesankan sebagai wujud dari penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).
Tidak mengherankan kalau BOPI, mungkin karena dilindungi oleh Menteri, cenderung terus melontarkan statemen yang ngawur, ungkapnya.
Sudah sering saya menegaskan, BOPI jangan jadi alat kekuasaan. Tetapi itulah yang terus terjadi. Hal-hal seperti tidak boleh dibiarkan. Presiden harus menegur menterinya, terang Agum Gumelar.
Mantan Ketua Komite Normalisasi (KN) PSSI bentukan FIFA pada tahun 2011 tersebut, juga menuturkan sisi lain dari adanya rencana kunjungan petinggi FIFA ke Indonesia. Menurut Agum Gumelar, apa yang diberitakan di media sebenarnya kurang tepat.
Kata Agum, wacana kunjungan otoritas sepak bola dunia tersebut sebenarnya mengemuka dari Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA), Fahad Al Sabah, saat diterima oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 19 Agustus lalu.
Selain membahas rencana persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, dan dukungan penuh Presiden Jokowi untuk gelaran Pesta Olahraga empat tahunan Negara-negara Benua Asia itu, Presiden OCA yang didampingi oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo, juga membicarakan kondisi persepakbolaan Tanah Air.
Terkait dengan itu, Presiden OCA mengungkapkan niatnya untuk menghadirkan petinggi FIFA ke Indonesia. Hal tersebut, kemudian didukung Presiden Jokowi.
Jadi, terkait dengan wacana kunjungan otoritas sepak bola dunia itu ke Indonesia, itulah proses yang sebenarnya, imbuh Agum Gumelar.
Menpora Imam Nahrawi sebelumnya menyatakan bahwa ia sudah mendapat kepastian akan adanya kunjungan FIFA ke Indonesia dalam waktu dekat, kemungkinan sebelum Oktober. Namun, klaim Imam Nahrawi tersebut langsung dibantah mandataris sepak bola dunia yang bermarkas di Swiss itu.
FIFA tidak pernah berencana melakukan kunjungan ke Indonesia, apalagi atas permintaan pihak yang melakukan intervensi terhadap kewenangan FIFA.
Masih terkait dengan kunjungan Presiden OCA itu, sebelum diterima oleh Presiden Jokowi, Fahad Al Sabah yang disertai oleh beberapa pengurus KOI menghadap Menpora Imam Nahrawi di kantornya. Disayangkan, bahwa Menpora Imam tidak langsung menerima orang nomor satu di OCA itu.
Fahad Al Sabah dibiarkan menunggu hampir seperempat jam di ruang tunggu bersama sejumlah tamu lainnya. Menpora baru menerima utusan resmi OCA setelah salah seorang pengurus KOI, yakni Ahmed Solihin, berinisiatif mengetuk pintu ruangan Menpora Imam.
Saat menerima Fahad Al Sabah bersama rombongannya, Menpora Imam Nahrawi justru mengatakan bahwa karena kesibukannya, Presiden Jokowi tidak bisa menerima mereka. (esa/dzi)
Karena itu, Agum Gumelar juga mengemukakan imbauan sekaligus harapannya kepada Presiden RI, Joko Widodo atau Jokowi.
Sikap Menpora Imam Nahrawi dengan keukeuh mempertahankan pembekuan terhadap PSSI, meski terus dikecam oleh berbagai elemen masyarakat, juga dikesankan sebagai wujud dari penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).
Tidak mengherankan kalau BOPI, mungkin karena dilindungi oleh Menteri, cenderung terus melontarkan statemen yang ngawur, ungkapnya.
Sudah sering saya menegaskan, BOPI jangan jadi alat kekuasaan. Tetapi itulah yang terus terjadi. Hal-hal seperti tidak boleh dibiarkan. Presiden harus menegur menterinya, terang Agum Gumelar.
Mantan Ketua Komite Normalisasi (KN) PSSI bentukan FIFA pada tahun 2011 tersebut, juga menuturkan sisi lain dari adanya rencana kunjungan petinggi FIFA ke Indonesia. Menurut Agum Gumelar, apa yang diberitakan di media sebenarnya kurang tepat.
Kata Agum, wacana kunjungan otoritas sepak bola dunia tersebut sebenarnya mengemuka dari Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA), Fahad Al Sabah, saat diterima oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 19 Agustus lalu.
Selain membahas rencana persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, dan dukungan penuh Presiden Jokowi untuk gelaran Pesta Olahraga empat tahunan Negara-negara Benua Asia itu, Presiden OCA yang didampingi oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo, juga membicarakan kondisi persepakbolaan Tanah Air.
Terkait dengan itu, Presiden OCA mengungkapkan niatnya untuk menghadirkan petinggi FIFA ke Indonesia. Hal tersebut, kemudian didukung Presiden Jokowi.
Jadi, terkait dengan wacana kunjungan otoritas sepak bola dunia itu ke Indonesia, itulah proses yang sebenarnya, imbuh Agum Gumelar.
Menpora Imam Nahrawi sebelumnya menyatakan bahwa ia sudah mendapat kepastian akan adanya kunjungan FIFA ke Indonesia dalam waktu dekat, kemungkinan sebelum Oktober. Namun, klaim Imam Nahrawi tersebut langsung dibantah mandataris sepak bola dunia yang bermarkas di Swiss itu.
FIFA tidak pernah berencana melakukan kunjungan ke Indonesia, apalagi atas permintaan pihak yang melakukan intervensi terhadap kewenangan FIFA.
Masih terkait dengan kunjungan Presiden OCA itu, sebelum diterima oleh Presiden Jokowi, Fahad Al Sabah yang disertai oleh beberapa pengurus KOI menghadap Menpora Imam Nahrawi di kantornya. Disayangkan, bahwa Menpora Imam tidak langsung menerima orang nomor satu di OCA itu.
Fahad Al Sabah dibiarkan menunggu hampir seperempat jam di ruang tunggu bersama sejumlah tamu lainnya. Menpora baru menerima utusan resmi OCA setelah salah seorang pengurus KOI, yakni Ahmed Solihin, berinisiatif mengetuk pintu ruangan Menpora Imam.
Saat menerima Fahad Al Sabah bersama rombongannya, Menpora Imam Nahrawi justru mengatakan bahwa karena kesibukannya, Presiden Jokowi tidak bisa menerima mereka. (esa/dzi)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Belum Menyerah! Inter Milan Nego Liverpool Lagi untuk Curtis Jones
Liga Italia 17 Agustus 2026, 23:59
-
Dewata Challenge Series 2026: Eliano Reijnders Siap Bermain Lawan Bali United
Bola Indonesia 17 Agustus 2026, 23:36
-
Klub Saudi Pro League Bermiant Pada Pedro Neto, Chelsea Tergoda Jual?
Liga Inggris 17 Agustus 2026, 23:30
-
Real Madrid Siap Lepas Eduardo Camavinga ke MU, Minta Harga Segini
Liga Spanyol 17 Agustus 2026, 23:00
-
Michael Carrick Pelatih Bagus, Tapi Tidak Akan Sanggup Bawa MU Juara!
Liga Inggris 17 Agustus 2026, 22:34
-
Rodri Pilih Nomor Punggung Ini di Barcelona, Ada yang Harus Mengalah!
Liga Spanyol 17 Agustus 2026, 22:12
-
Mariano Peralta Merasa Makin Nyetel di Persib Bandung
Bola Indonesia 17 Agustus 2026, 22:12
-
Barcelona Siapkan Manuver Kejutan: Viktor Gyokeres Masuk Radar Transfer
Liga Spanyol 17 Agustus 2026, 21:23
-
Here We Go! AC Milan Gelontorkan Rp 1 Triliun untuk Boyong Pemain Timnas Belgia Ini
Liga Italia 17 Agustus 2026, 20:57
-
Tidak Ada yang Gratis Bagi Marcus Rashford di MU: Dia Harus Berjuang!
Liga Inggris 17 Agustus 2026, 20:30
-
3 Tahun Deco di Barcelona: Sang Arsitek Era Baru Blaugrana
Liga Spanyol 17 Agustus 2026, 20:16
-
Juventus Incar 2 Pemain AC Milan Sekaligus: Youssouf Fofana dan Fikayo Tomori
Liga Italia 17 Agustus 2026, 19:18
-
Juventus Resmikan Transfer John Lucumi dari Bologna
Liga Italia 17 Agustus 2026, 19:04
LATEST EDITORIAL
-
5 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
Editorial 12 Agustus 2026, 12:51
-
6 Pemain yang Bisa Dijual Real Madrid demi Datangkan Rekrutan Baru
Editorial 5 Agustus 2026, 10:59
-
5 Pemain yang Masih Bisa Direkrut Manchester United Sebelum Bursa Transfer Ditutup
Editorial 4 Agustus 2026, 13:00
-
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United Pekan Ini
Editorial 3 Agustus 2026, 10:59






