Dari Royal Rumble ke Clean Sheet: Malam Sempurna Senne Lammens di Kandang Everton
Richard Andreas | 24 Februari 2026 16:45
Bola.net - Sepak pojok di Premier League musim ini sering berubah menjadi adu fisik di kotak penalti, penuh dorongan dan perebutan ruang yang nyaris tak terkendali. Dalam situasi seperti itu, bertahan bukan lagi sekadar soal organisasi, tetapi juga keberanian dan ketenangan individu.
Manchester United merasakannya secara langsung saat bertandang ke markas Everton, Senin malam. Dalam kemenangan tipis 1-0 tersebut, satu sosok menjadi kunci di tengah kekacauan, yaitu penjaga gawang muda Senne Lammens.
Di saat Everton terus menekan lewat bola mati dan crossing, Lammens tampil dingin, tegas, dan nyaris tanpa cela. Penampilannya bukan hanya menjaga keunggulan United, tetapi juga menjadi pernyataan kuat tentang pentingnya figur kiper di era sepak bola modern.
Kotak Penalti Premier League yang Semakin Brutal

Sepak pojok kini menjadi salah satu fase paling sulit dikendalikan di Premier League. Blok, tarikan, dan kerumunan pemain di depan gawang membuat ruang gerak kiper semakin sempit, sementara wasit kerap kesulitan melihat pelanggaran kecil di tengah keramaian.
Ada banyak pendekatan untuk menghadapinya. Beberapa tim memilih meninggalkan lebih banyak pemain di depan untuk mengancam serangan balik, sementara yang lain membalas dengan permainan fisik serupa. Ada pula wacana mendorong pembuat aturan untuk memperketat regulasi soal blocking dan grappling.
Namun, dalam laga di Goodison Park, United memilih solusi paling sederhana sekaligus paling efektif: memiliki kiper yang berani keluar dari kerumunan dan menguasai area udara. Dalam konteks inilah peran Lammens menjadi krusial.
Malam Sibuk Senne Lammens di Goodison Park

Dalam laga yang berjalan ketat, Everton melepaskan 10 sepak pojok berbanding satu milik United. Mereka juga mengirimkan 35 crossing, angka yang jauh melampaui enam crossing dari tim tamu. Tekanan demi tekanan diarahkan ke area kotak penalti.
Lammens menjawabnya dengan ketenangan luar biasa. Ia dua kali menangkap crossing secara bersih dan memukul keluar empat bola lain, sering kali dengan tubuh lawan dan rekan setim mengerubunginya. Beberapa kali ia bahkan terdorong mundur mendekati garis gawang.
Usai laga, kiper berusia 23 tahun itu mengakui situasinya nyaris berlebihan. Kepada Sky Sports, ia mengatakan bahwa dirinya sampai harus berdiri di belakang garis gawang untuk bisa maju menyambut bola, seraya menyebut kondisi itu sulit dipantau wasit.
Statistik, Clean Sheet, dan Pujian Pelatih
Tekanan Everton tidak berbuah gol. United mencatatkan clean sheet ketiga dalam enam laga di bawah asuhan Michael Carrick, sebuah peningkatan signifikan dibanding dua clean sheet dari 16 pertandingan sebelumnya.
Carrick menyebut performa Lammens sebagai “teladan”, sementara David Moyes tak ragu melontarkan pujian dengan menyebutnya “sangat brilian”. Moyes bahkan mengakui bahwa rencana sepak pojok Everton berangkat dari asumsi kiper United tak akan tampil sebaik itu.
Secara statistik, Lammens juga memimpin kategori expected goals prevented per 90 menit di Premier League musim ini. Saat melawan Everton, angkanya mencapai 0,86, dengan penyelamatan paling krusial datang pada menit ke-83 saat menggagalkan tembakan jarak jauh Michael Keane.
Lebih dari Sekadar Aksi Spektakuler
Meski sempat melakukan satu penyelamatan akrobatik yang mencuri perhatian kamera, kekuatan utama Lammens justru terletak pada hal-hal mendasar. Ia menahan free kick James Garner dengan aman dan mematikan peluang Tyrique George tanpa memantulkannya kembali ke area berbahaya.
Pendekatan itu membuat United terhindar dari sepak pojok tambahan atau peluang rebound. Dalam konteks laga dengan tekanan konstan, keputusan-keputusan sederhana tersebut bernilai sama pentingnya dengan penyelamatan heroik.
Carrick bahkan melihat kemiripan karakter Lammens dengan mantan rekan setimnya, Edwin van der Sar, sosok yang juga memuji kiper Belgia itu saat menjadi pundit di Sky Sports.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Performa Mendukung, Yakinlah Manchester United Amankan Tiket Liga Champions
Liga Inggris 24 Februari 2026, 18:44
-
Dari Royal Rumble ke Clean Sheet: Malam Sempurna Senne Lammens di Kandang Everton
Liga Inggris 24 Februari 2026, 16:45
LATEST UPDATE
-
Jadwal Liga Champions Minggu Ini: Misi Berat Juventus dan Inter
Liga Champions 24 Februari 2026, 19:19
-
Tempat Menonton Malut United vs Persija: Live Streaming BRI Super League di Vidio
Bola Indonesia 24 Februari 2026, 18:58
-
Performa Mendukung, Yakinlah Manchester United Amankan Tiket Liga Champions
Liga Inggris 24 Februari 2026, 18:44
-
Lini Serang Real Madrid Sebenarnya Tak Sebagus Itu
Liga Spanyol 24 Februari 2026, 18:14
-
Tak Diduga-duga, Anthony Gordon Bersaing dengan Mbappe di Top Skor UCL!
Liga Champions 24 Februari 2026, 17:47
-
Soal Kasus Vinicius, Jose Mourinho Disebut Salah Berkomentar
Liga Champions 24 Februari 2026, 17:17
-
Prediksi Juventus vs Galatasaray 26 Februari 2026
Liga Champions 24 Februari 2026, 17:04
-
Prediksi PSG vs Monaco 26 Februari 2026
Liga Champions 24 Februari 2026, 17:03
-
Prediksi Real Madrid vs Benfica 26 Februari 2026
Liga Champions 24 Februari 2026, 17:02
-
Prediksi Atalanta vs Dortmund 26 Februari 2026
Liga Champions 24 Februari 2026, 17:01
-
Dari Royal Rumble ke Clean Sheet: Malam Sempurna Senne Lammens di Kandang Everton
Liga Inggris 24 Februari 2026, 16:45
LATEST EDITORIAL
-
6 Pemain Arsenal yang Kontraknya Habis pada 2027, Siapa Bertahan dan Siapa Dijual?
Editorial 24 Februari 2026, 14:21
-
4 Rekrutan Gratis Manchester United, Adakah yang Benar-Benar Sukses?
Editorial 24 Februari 2026, 13:58
-
6 Calon Pengganti Casemiro di Manchester United: Siapa Pewaris Tahta Gelandang Bertahan?
Editorial 20 Februari 2026, 00:00
-
7 Pemain yang Tenggelam Usai Pindah Klub Musim 2025/2026: Masih Ingat Darwin Nunez?
Editorial 19 Februari 2026, 23:35





