Mental Juara Dipertanyakan: Arsenal Terlalu Naif atau Mulai Kena Mental Nih?

Afdholud Dzikry | 26 Januari 2026 16:06
Mental Juara Dipertanyakan: Arsenal Terlalu Naif atau Mulai Kena Mental Nih?
Selebrasi pemain Arsenal merayakan gol bunuh diri Lisandro Martinez saat melawan Manchester United, Minggu 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Arsenal seharusnya bisa duduk nyaman dengan keunggulan 10 poin di puncak klasemen Premier League ketika memasuki pekan 23. Namun, kekalahan mengejutkan dari Manchester United di kandang sendiri mengubah segalanya menjadi bencana.

Kekalahan kandang perdana ini membuat persaingan gelar juara Liga Inggris kembali terbuka lebar. Keraguan besar kini mulai menyelimuti skuad asuhan Mikel Arteta untuk mengakhiri puasa gelar 20 tahun.

Advertisement

Keunggulan The Gunners kini terpangkas drastis menjadi hanya empat poin saja. Momentum positif seolah lenyap setelah tiga laga beruntun tanpa kemenangan di liga. Imbang melawan Liverpool dan Nottingham Forest, sebelum kalah 2-3 dari Manchester United.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Arsenal? Mengapa mesin tempur mereka seolah mendadak macet total di momen krusial?

Masalah utama terlihat jelas dalam beberapa laga terakhir: kesalahan individu fatal, saling lempar tanggung jawab, dan demam panggung yang kian parah. Semuanya itu saling berkaitan dan perlahan menggerogoti mentalitas tim.

1 dari 4 halaman

Kurang Kreativitas dan Sosok Pemimpin

Kurang Kreativitas dan Sosok Pemimpin

Penyerang Arsenal, Gabriel Jesus vs bek Manchester United, Patrick Dorgu di laga Liga Inggris, 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Legenda Arsenal, Patrick Vieira, secara terbuka mengkritik mentalitas mantan timnya usai laga kontra United. Ia menyoroti hilangnya kreativitas dan keberanian pemain untuk mengambil risiko.

"Masih ada pertanyaan tentang kekuatan mental tim ini," tegas Patrick Vieira kepada Sky Sports.

"Saya pikir ada kekurangan kreativitas, mereka tidak menciptakan cukup banyak peluang. Saka di kanan atau Trossard di kiri tidak menghasilkan cukup banyak bahaya bagi Man United."

Vieira juga menekankan pentingnya sosok pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab di momen kritis. Sayangnya, para pemain Arsenal terlihat pasif dan berharap rekannya yang lain melakukan sesuatu.

Hal senada diungkapkan kapten Martin Odegaard yang mengakui timnya terlalu mudah kehilangan bola. Ia menyebut The Gunners kalah dalam duel-duel krusial di babak kedua yang memberi momentum bagi lawan.

"Di babak kedua, mereka memenangkan banyak duel yang memberi mereka momentum. Itu membiarkan mereka berlari dan kami tidak pernah benar-benar mendapatkan ritme," aku Odegaard.

Gol penyeimbang Mikel Merino sempat memberi angin segar, namun itu hanya bertahan tiga menit. Gol kemenangan MU tak lama berselang membuktikan Arsenal gagal meredam momentum lawan.

2 dari 4 halaman

Atmosfer Cemas di Emirates

Atmosfer Cemas di Emirates

Kiper Manchester United Senne Lammens (kanan) menepis sundulan pemain Arsenal Martin Zubimendi (kiri) pada laga Premier League/Liga Inggris antara Arsenal vs Man Utd, 25 Januari 2026 (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Untuk pertama kalinya musim ini, Emirates Stadium terasa sangat mencekam dan penuh kecemasan. Ketegangan ini bukan tanpa alasan, mengingat rival seperti Manchester City dan Aston Villa terus meraih kemenangan.

Ketika United unggul 2-1, kepanikan menjalar cepat ke seluruh tim. Umpan-umpan menjadi terburu-buru tanpa tujuan jelas, dan setiap keputusan diambil dengan ragu-ragu.

Gol penyeimbang Mikel Merino sempat memberi angin segar, namun respons emosional tim sangat buruk. Hanya tiga menit berselang, gawang mereka kembali bobol yang menandakan hilangnya fokus dan ketenangan.

Kekalahan ini mengubah jalan mulus menuju tangga juara menjadi ujian karakter yang sesungguhnya. Arsenal tidak kalah secara permainan selama 90 menit, namun kalah cerdik dan kalah tenang di momen-momen vital.

3 dari 4 halaman

Arteta Akui Kesalahan Fatal

Arteta Akui Kesalahan Fatal

Manajer Arsenal Mikel Arteta bereaksi di pinggir lapangan pada laga Premier League/Liga Inggris antara Arsenal vs Man Utd di London, Inggris, Minggu, 25 Januari 2026 (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Mikel Arteta sendiri tak menampik bahwa timnya melakukan kesalahan-kesalahan tidak biasa. Ia menyadari rentetan hasil buruk ini bisa berakibat fatal jika tidak segera diperbaiki.

"Saya pikir kesalahan pertama memicu yang kedua. Fakta bahwa Anda ingin bermain lebih protektif mungkin tidak membantu mencegah kesalahan itu. Ada tiga atau empat kesalahan yang sangat tidak biasa hari ini," jelas Arteta pasca laga.

"Ini adalah realita bahwa kami belum menang dalam tiga pertandingan di Premier League dan kami perlu mengambil poin sekarang," ujarnya.

"Mereka adalah bagian dari sepak bola dan terkadang Anda dihukum dan terkadang tidak, dan hari ini kami dihukum."

Pelatih asal Spanyol itu menegaskan margin kesalahan di level ini sangatlah tipis. Keunggulan empat poin bisa lenyap dalam sekejap jika mentalitas tim tidak segera dibenahi.

4 dari 4 halaman

Ujian Berat Menanti

Ujian Berat Menanti

Pemain Manchester United, Lisandro Martinez, melindungi bola dari hadangan pemain Arsenal, Martin Odegaard, dalam pertandingan Premier League, Minggu (25/1/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Situasi ini menjadi ujian karakter sesungguhnya bagi skuad muda Arsenal. Tekanan psikologis perburuan gelar kini terasa semakin nyata dan mencekik.

Setelah laga Liga Champions melawan Kairat, mereka harus bertandang ke Elland Road markas Leeds United. Laga tandang ini berpotensi menjadi "kulit pisang" berikutnya jika kepercayaan diri tim belum pulih.

Arsenal harus segera meminum obat penawar berupa kemenangan. Jika tidak, mimpi mengangkat trofi Premier League bisa kembali musnah di tikungan terakhir.

Laga tandang akhir pekan nanti akan menjadi ujian mental berikutnya. Apakah Arsenal akan bangkit atau justru semakin terpuruk dalam tekanan?.

LATEST UPDATE