Michael Carrick Kembalikan Identitas Man United, Hidupkan Aturan Warisan Sir Alex Ferguson yang Sempat Ditinggalkan Ruben Amorim

Ari Prayoga | 28 Januari 2026 05:35
Michael Carrick Kembalikan Identitas Man United, Hidupkan Aturan Warisan Sir Alex Ferguson yang Sempat Ditinggalkan Ruben Amorim
Manajer Manchester United, Michael Carrick, memberi isyarat dari tepi lapangan saat laga Premier League kontra Arsenal, Minggu (25/1/2026). (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Manchester United perlahan mulai menemukan kembali jati dirinya. Meski baru menjalani dua pertandingan sebagai pelatih interim, Michael Carrick sudah menghadirkan perubahan mendasar yang sempat hilang di era Ruben Amorim: menghidupkan kembali prinsip manajemen legendaris Sir Alex Ferguson.

Tak ada yang mengklaim Carrick sebagai “Sir Alex baru”. Namun, keputusannya memulihkan satu aturan krusial warisan Ferguson menjadi sinyal bahwa United mulai belajar dari kesalahan masa lalu. Penunjukan Carrick sendiri seolah menjadi pengakuan tak langsung klub bahwa upaya memutus total tradisi dengan mendatangkan Amorim adalah langkah yang keliru.

Advertisement

Selama masa kepemimpinannya, Amorim kerap dianggap berseberangan dengan nilai-nilai fundamental Manchester United sebagai institusi. Benturan itu paling terlihat ketika ia menghapus prinsip utama Sir Alex: memberi kebebasan kepada pemain untuk mengekspresikan kemampuan terbaiknya dalam kerangka tim.

1 dari 3 halaman

Sistem Kaku Amorim, Individu Jadi Korban

Sistem Kaku Amorim, Individu Jadi Korban

Ruben Amorim dalam laga Premier League antara Manchester United vs Bournemouth, Selasa (16/12/2025). (c) AP Photo/Jon Super

Sebagian fans memang menginginkan United berhenti hidup dalam bayang-bayang Sir Alex Ferguson. Amorim awalnya dipandang sebagai simbol masa depan baru. Namun, kenyataannya justru membuktikan bahwa kekuatan klub besar seperti United, mirip Real Madrid, terletak pada kemampuan merangkul masa lalu untuk membangun masa depan.

Amorim terlalu terobsesi pada sistem dan formasi. Akibatnya, karakter dan keunikan pemain terpinggirkan. Bruno Fernandes, misalnya, dipaksa bermain lebih dalam demi memenuhi tuntutan sistem, meski kreativitasnya paling mematikan di area ofensif. Matheus Cunha yang dikenal bermain spontan juga harus “jinak” sebagai bagian dari mesin taktis.

Pendekatan tersebut membuat United kehilangan esensi permainan mereka. Fans tidak meminta sepak bola tanpa struktur, tetapi juga bukan sepak bola yang mematikan kreativitas. Di era Sir Alex, pemain diberi tanggung jawab terhadap tim, namun tetap didorong untuk menjadi pembeda di momen krusial.

Sayangnya, Amorim menilai pemain semata dari kecocokan mereka terhadap sistem. Jika tidak pas, mereka dianggap tak layak dan harus diganti. Padahal, di dalam skuad itu terdapat banyak penentu laga yang bisa mengubah pertandingan ketika diberi kepercayaan.

2 dari 3 halaman

Carrick dan Keseimbangan yang Hilang

Carrick dan Keseimbangan yang Hilang

Pelatih interim Manchester United, Michael Carrick saat memberikan arahan di laga melawan Arsenal, 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Di bawah Michael Carrick, perbedaan itu langsung terasa. Bukan sekadar soal “vibes” atau atmosfer positif semata, melainkan keseimbangan antara struktur dan kebebasan, sesuatu yang dulu menjadi ciri khas Manchester United di era keemasan.

Carrick tidak ekstrem seperti Amorim, namun juga tidak sepenuhnya lepas kendali. Ia menemukan titik tengah: pemain bermain untuk tim, tetapi tetap diberi ruang untuk berkreasi dan mengambil keputusan.

Dua laga awal memang belum cukup untuk menilai segalanya. Namun, perubahan pendekatan ini membuat momen-momen magis lebih mungkin tercipta. Gol-gol yang kini hadir bukan karena keberuntungan, melainkan karena pemain dibebaskan dari belenggu sistem yang sebelumnya membatasi mereka.

Michael Carrick, setidaknya untuk sementara, berhasil mengembalikan identitas Manchester United. Dengan menghidupkan kembali aturan pertama Sir Alex Ferguson, United kembali menjadi tim yang percaya pada kualitas individu tanpa melupakan kepentingan kolektif.

Sumber: United In Focus

LATEST UPDATE