4 Nama yang Bisa Gantikan Maurizio Sarri Sebagai Pelatih Juventus Musim Depan
Asad Arifin | 28 Juli 2020 13:02
Bola.net - Maurizio Sarri sukses memberikan gelar scudetto pada Juventus di musim 2019/2020. Namun, gelar itu diyakini tidak cukup bagi Si Nyonya Tua. Potensi Maurizio Sarri bakal dipecat masih cukup tinggi pada akhir musim ini.
Buat Maurizio Sarri, itu merupakan gelar Serie A pertamanya selama menjadi pelatih di Liga Italia. Sebelumnya bersama Napoli, pelatih yang doyan merokok itu urung memberikan gelar.
Setelah dari Napoli, Sarri mencoba peruntungan di Premier League bersama Chelsea. Jorginho, pemain kesayangannya, diboyong serta. Namun, ia dicap gagal dan akhirnya ditendang balik ke Italia.
Nasib mujur didapatnya bersama La Vecchia Signora. Sarri memberikan gelar buat Juventus, gelar kesembilan beruntun klub asal Turin tersebut. Sementara itu, Sarri didaulat menjadi pelatih tertua yang merengkuh titel di Serie A.
Satu hal yang ia lakukan untuk merayakan keberhasilan tersebut yakni berlari menuju ruang ganti, mengambil rokok dan menghisapnya seraya berkata, "Ini rokok buatmu, Wojciech Szczesny, kamu layak mendapatkannya."
Mungkin sebatang rokok yang ia hisap bisa sedikit menghilangkan kegelisahannya baru-baru ini. Ya, dalam beberapa pekan belakangan, sejumlah media melaporkan bahwa ia akan dilengserkan dari kursi kepelatihan Juventus.
Bagaimana Sarri menanggapi pemberitaan tersebut, hanya dia yang tahu. Menariknya, ia diketahui melontarkan candaan kepada anak asuhnya setelah memastikan gelar scudetto.
"Kalau kalian bisa juara scudetto bersama saya, berarti kalian adalah pemain yang sangat bagus," katanya dilansir dari The Guardian.
Kini, kabar mengenai masa depannya di Juventus terdengar samar. Namun, kegagalan di Coppa Italia dan Supercoppa mutlak adalah kekalahan telak buatnya. Liga Champions masih dalam genggaman. Kalau sampai kandas lagi, mungkin manajemen klub bakal menimbang kariernya di Allianz Arena.
Berikut ini empat pelatih yang juga pantas menangani Juventus jika Maurizio Sarri didepak dari kursi kepelatihan.
Frank Rijkaard

Pada Desember 2016, Frank Rijkaard memutuskan bahwa ia tidak berminat untuk meneruskan kariernya sebagai manajer atau pelatih. Namun, tidak ada yang bisa memprediksi masa depan, bukan?
Semasa aktif bermain, Frank Rijkaard dianggap sebagai satu di antara gelandang bertahan terbaik yang pernah dimiliki Belanda. Tak heran, setiap gelandang bertahan asal Belanda kini seringkali dibanding-bandingkan dengan pria berusia 57 tahun tersebut.
Selepas pensiun, Rijkaard dipercaya menangani Timnas Belanda pada 1998. Sebelumnya, ia menjadi asisten manajer Guus Hiddink. Ia dinilai 'tidak serius', namun nyatanya berhasil membawa Pasukan Oranje lolos ke semifinal Piala Eropa 2000.
Pada musim 2001-2002, ia didapuk sebagai pelatih kepala Sparta Rotterdam. Sayangnya, Rijkaard gagal total karena tim sepak bola profesional tertua di Belanda itu terdegradasi dari Eredivisie.
Menariknya, pada 2003, ia diangkat sebagai manajer Barcelona sesaat setelah Joan Laporta dipilih sebagai presiden klub. Rijkaard nyaris dipecat lantaran performa buruk pada awal musim. Akan tetapi, meski pada akhirnya hanya finis sebagai runner-up di bawah Real Madrid, manajemen klub tetap menaruh kepercayaan.
Hasilnya, Barcelona berhasil memutus dominasi Real Madrid di La Liga. Dua musim berikutnya, Rijkaard sanggup meraih gelar La Liga, masing-masing musim 2004-2005 dan 2005-2006, serta mengorbitkan nama-nama lokal seperti Victor Valdes dan Andres Iniesta.
Massimiliano Allegri

Melihat situasi tak menentu di Juventus terkait masa depan Maurizio Sarri, Massimiliano Allegri mungkin bakal berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk melatih tim Premier League.
Mantan pelatih AC Milan ini dikabarkan menolak melatih Borussia Dortmund. Allegri disebut-sebut tertarik ke Inggris, namun tidak diketahui klub apa yang dimaksud.
Allegri saat ini menganggur dan siap kembali ke dunia sepak bola. Allegri memutuskan untuk beristirahat dari lapangan hijau setelah kontraknya habis bersama Juventus. Ia beralasan, ingin lebih dekat dengan keluarganya, yang mana jarang ia lakukan selama 12 tahun lamanya.
"Sudah cukup istirahatnya, baterai saya sudah penuh setelah tinggal bersama keluarga saya di Livorno. Selanjutnya, tidak penting di mana (melanjutkan karier lagi), yang jelas saya mencari klub yang memiliki proyek dan ambisi untuk menang," kata Allegri dilansir Marca.
Suporter Juventus pasti membuka pintu lebar-lebar jika Allegri ingin kembali lagi ke Turin. Pelatih berusia 52 tahun itu pernah lima musim melatih dan memenangi lima gelar Scudetto. Jelas ini membuktikan bahwa Juventus dan Allegri adalah pasangan cocok.
"Juventus itu diciptakan untuk menang. Saya rasa mereka bisa terus menang dari tahun ke tahun. Soal Milan, seperti ada yang hilang. Milan butuh konsistensi. Kalau dikit-dikit ganti skuat, ganti pelatih, ya tidak bakal berkembang," ujarnya.
"Saya punya komitmen moral bersama Juventus dan orang-orang di sana," katanya memungkasi.
Carlo Ancelotti

Karier Ancelotti bersama Everton tak bisa dibilang memuaskan, bahkan jauh dari kata layak mengingat pengalamannya di sepak bola Eropa. Bahkan pada laga pamungkas Premier League 2019-2020, ia gagal memberikan kemenangan melawan Bournemouth yang akhirnya turun kasta.
Kendati demikian, Carlo Ancelotti menunjukkan bahwa ia adalah manajer dengan mentalitas tinggi. Sempat terseok-seok di lubang degradasi pada awal musim ini, ia sanggup memperbaiki performa tim pada paruh kedua.
Namun tetap saja Don Carlo tak puas dengan apa yang anak asuhnya tampilkan sepanjang musim. Setelah laga menghadapi Bournemouth, ia meminta pemainnya untuk kembali dengan tambahan motivasi.
"Pemain-pemain yang memutuskan bertahan di sini, saya katakan pada mereka untuk kembali dengan motivasi dan ambisi yang jelas!" katanya menggebu-gebu.
Melihat komitmen kuat Ancelotti bersama Everton musim depan, tampaknya kans untuk kembali ke Juventus sangat sulit. Terlebih, ia punya memori kurang bagus bersama La Vecchia Signora.
Ia menangani Juventus pada 1999, namun gagal bersaing dengan Lazio yang pada akhir musim keluar sebagai juara Serie A. Musim berikutnya pun sama, finis kedua di bawah AS Roma.
Fabio Cannavaro

Semasa bermain, Fabio Cannavaro adalah andalan Juventus, klub yang ia bela pada 2006 hingga 2009. Sayangnya, suporter mungkin menganggapnya tak loyal karena memutuskan untuk pindah ke Real Madrid saat Juve terlibat skandal Calciopoli.
Fabio Cannavaro terjun ke dunia kepelatihan setelah pensiun sebagai pemain. Akan tetapi, sepak terjangnya dinilai masih kurang.
Pasalnya, ia hanya berkutat di Asia saja, mulai dari Qatar, Arab Saudi, hingga China. Curriculum Vitae-nya dianggap belum cukup untuk menangani tim Eropa, apalagi Juventus.
Kendati demikian, tak ada yang tak mungkin dalam sepak bola, kan? Gennaro Gattuso, Frank Lampard, dan Steven Gerrard saja membuktikan bahwa pelatih muda bisa memberikan dampak positif meski pengalamannya belum begitu banyak.
Sumber: Berbagai sumber
Disadur dari Bola.com (Penulis: Gregah Nurikhsani, 28 Juli 2020)
Baca Ini Juga:
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Memuji Duo Gabriel Jesus - Viktor Gyokeres, Mengklaim Arsenal Sudah Naik Level
Liga Champions 21 Januari 2026, 08:19
-
Prediksi Juventus vs Benfica 22 Januari 2026
Liga Champions 21 Januari 2026, 03:00
-
Inter Milan Tunda Perekrutan Pemain Besar Hingga Musim Panas
Liga Italia 20 Januari 2026, 15:49
-
Conte Puji Hojlund Setinggi Langit, Tapi Emosi Jiwa Soal Jadwal Liga Champions
Liga Champions 20 Januari 2026, 12:11
LATEST UPDATE
-
Resmi! Vidio Tayangkan UFC di Indonesia
Olahraga Lain-Lain 21 Januari 2026, 14:31
-
Juventus vs Benfica: Spalletti Siap Adu Mekanik dengan Mourinho
Liga Champions 21 Januari 2026, 14:31
-
Juventus vs Benfica: Misi Wajib Menang Bianconeri!
Liga Champions 21 Januari 2026, 14:05
-
Menuju Piala Dunia 2026: Tiga Aturan Baru Disiapkan, VAR dan Timewasting Jadi Fokus
Piala Dunia 21 Januari 2026, 14:02
-
Transformasi Khephren Thuram: Dari Pemuda Naif Jadi 'Monster' Lini Tengah Juventus
Liga Champions 21 Januari 2026, 13:58
-
Atalanta vs Bilbao: Ederson Minta La Dea Berikan 110 Persen!
Liga Champions 21 Januari 2026, 13:42
-
Kontroversi Dalot vs Doku di Derby Manchester, Howard Webb Tegaskan VAR Sudah Tepat
Liga Inggris 21 Januari 2026, 13:30
-
Lupakan Mateta, Juventus Kini Selangkah Lagi Dapatkan Youssef En-Nesyri?
Liga Italia 21 Januari 2026, 13:29
-
Chelsea vs Pafos FC: Estevao Willian Mengejar Rekor Mbappe, Reuni David Luiz
Liga Champions 21 Januari 2026, 13:21
-
Man City Terpuruk di Bodo/Glimt, Guardiola Akui Segala Hal Berjalan Melawan Timnya
Liga Champions 21 Januari 2026, 12:48
-
Setelah 12 Tahun, Ter Stegen Diam-Diam Tinggalkan Barcelona
Liga Spanyol 21 Januari 2026, 12:17
-
Inter Babak Belur di Kandang, Arsenal Terlalu Kejam di Depan Gawang
Liga Champions 21 Januari 2026, 12:17
-
Panduan Membeli Tiket KLBB Festival 2026, Jangan Sampai Nyesel Nggak Nonton Raisa!
Lain Lain 21 Januari 2026, 11:58
-
Kode Keras Arne Slot: Mohamed Salah Siap Starter Lawan Marseille?!
Liga Champions 21 Januari 2026, 11:44
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06


