Curhat Alex Manninger: Menyesal Cabut dari Arsenal dan Cerita Miris Tak Digaji di Fiorentina

Afdholud Dzikry | 6 April 2026 09:30
Curhat Alex Manninger: Menyesal Cabut dari Arsenal dan Cerita Miris Tak Digaji di Fiorentina
Alex Manninger ketika bermain untuk Juventus melawan Manchester City pada 30 Sept 2010 silam. (c) AP Photo/Scott Heppell

Bola.net - Alex Manninger memiliki perjalanan karier yang sangat berwarna di kompetisi elit Eropa. Mantan penjaga gawang timnas Austria ini pernah merasakan tangan dingin Arsene Wenger hingga Jurgen Klopp.

Namun, tidak semua perjalanannya berjalan mulus dan penuh dengan trofi. Manninger secara terbuka mengakui ada beberapa keputusan di masa lalu yang kini ia sesali.

Advertisement

Salah satu momen yang paling membekas adalah saat ia memulai petualangan di Premier League. Di sana, ia belajar banyak hal dari para pemain bertahan legendaris Inggris.

Manninger merasa beruntung bisa mencicipi atmosfer sepak bola Inggris di usia muda. Namun, ambisinya untuk bermain reguler justru membawanya pada sebuah penyesalan panjang.

1 dari 3 halaman

Penyesalan Meninggalkan Arsenal

Bergabung dengan Arsenal di usia 20 tahun adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Manninger. Arsene Wenger saat itu memang sedang membangun proyek pemain muda di London Utara.

Manninger mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kapten legendaris, Tony Adams. Kehadiran bek tangguh itu membuatnya merasa sangat aman saat mengawal gawang The Gunners.

"Itu masih membuat saya bersemangat hanya dengan memikirkannya. Saya berusia 20 tahun, saya masih anak-anak. Wenger ingin membawa dimensi internasional ke klub dan fokus pada pemain muda, saya salah satunya," kenang Manninger.

"Meskipun usia saya masih muda, saya merasa tenang di gawang. Saya memiliki monster seperti Tony Adams di depan saya. Dia mengajari saya banyak hal. Saya hanya punya satu penyesalan: Pergi terlalu cepat. Tapi Anda tahu, saya ingin bermain," tambahnya.

2 dari 3 halaman

Pengalaman Pahit di Fiorentina yang Bangkrut

Setelah meninggalkan Arsenal, Manninger mencoba peruntungan di Serie A bersama Fiorentina. Namun, kepindahan tersebut justru menjadi mimpi buruk karena kondisi finansial klub yang hancur.

Ia menggambarkan situasi di Florence saat itu sangat tidak masuk akal bagi seorang pemain profesional. Klub berada di ambang kebangkrutan dan internal tim menjadi sangat kacau.

"Itu adalah keputusan yang salah. Saya merasa itu situasi yang tidak masuk akal. Saat itu tahun 2001 dan klub berada di ambang kebangkrutan. Kami tidak dibayar selama beberapa bulan," ungkap Manninger blak-blakan.

"Pelatihnya adalah Mancini dan sesekali dia memberi tahu kami 'siapa yang tahu apakah kita akan berlatih besok'. Dia baru bergabung, tetapi kami semua tahu itu semua bisa gagal kapan saja," lanjutnya.

3 dari 3 halaman

Panggilan Mendadak dari Jurgen Klopp

Di penghujung kariernya, Manninger secara mengejutkan bergabung dengan Liverpool. Semua itu berawal dari sebuah panggilan telepon pribadi dari Jurgen Klopp yang mengagumi kemampuannya.

Klopp rupanya belum lupa bagaimana Manninger tampil perkasa saat membela Augsburg. Saat itu, Manninger berhasil menggagalkan semua peluang Borussia Dortmund yang dilatih oleh Klopp.

"Semuanya dimulai dengan panggilan telepon. Jurgen tahu segalanya tentang saya. Saya telah mengalahkan tim Dortmund-nya bersama Augsburg dua tahun sebelumnya," kata Manninger bercerita.

"'Saya ingin penjaga gawang itu di sini. Hari itu Anda menyelamatkan segalanya melawan kami. Anda harus melakukannya untuk saya juga'," ucap Manninger menirukan perkataan Klopp saat itu.

LATEST UPDATE