Curhatan Pedih Conte: Pemain Bertumbangan, Disingkirkan Como, Transfer Pasif, Kini Dituntut Juara?
Afdholud Dzikry | 11 Februari 2026 15:23
Bola.net - Antonio Conte tidak bisa menahan amarahnya usai Napoli tersingkir secara dramatis dari ajang Coppa Italia. Sang pelatih menyoroti kinerja wasit dan badai cedera yang menghantam timnya.
Kekalahan menyakitkan dari Como lewat adu penalti membuat suasana ruang ganti memanas. Conte merasa situasi musim ini sangat tidak berpihak pada Il Partenopei.
Laga di Stadio Diego Armando Maradona itu berakhir imbang 1-1 di waktu normal. Sayangnya, Romelu Lukaku dan Stanislav Lobotka gagal menjalankan tugasnya saat babak sudden death.
Conte pun blak-blakan menyebut kondisi timnya saat ini jauh dari kata ideal untuk bersaing. Ia merasa ada banyak faktor eksternal yang merugikan Napoli.
Semprot Kinerja Wasit dan VAR

Kekesalan Conte bermula dari keputusan wasit terkait insiden Jacobo Ramon. Pemain Como itu lolos dari kartu merah meski melanggar keras Rasmus Hojlund.
Pelatih asal Italia itu menilai standar perwasitan musim ini sangat mengecewakan. Ia meminta otoritas terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh.
"Janganlah kita selalu pergi dan membicarakan wasit, karena akan selalu ada seseorang yang mengeluh," ujar Conte kepada Sport Mediaset.
Meski enggan banyak alasan, ia tetap menekankan perlunya perbaikan sistem. Menurutnya, semua pihak kini merasa dirugikan oleh keputusan pengadil.
"Ini tentu bukan musim yang baik bagi wasit dan VAR, saya berharap mereka dapat menemukan sesuatu yang akan memperbaiki situasi," tegas Conte.
Mantan pelatih Chelsea itu menuntut adanya peningkatan kualitas dari para ofisial. Hal ini dianggap krusial demi kemajuan sepak bola Italia.
"Faktanya adalah, semua orang mengeluh, pelatih, pemain, dan penggemar, jadi olahraga ini perlu melangkah maju dan berbenah," lanjutnya.
Badai Cedera Tak Masuk Akal
Selain masalah wasit, Conte lebih pusing memikirkan krisis pemain yang tak kunjung usai. Daftar pemain Napoli yang masuk ruang perawatan semakin panjang.
Cedera parah menimpa pilar-pilar utama yang menjadi tulang punggung tim. Conte merasa nasib buruk ini sangat aneh dan belum pernah ia alami sebelumnya.
"Apa yang bisa kami lakukan adalah pergi ke kuil dan berdoa, karena ini adalah cedera yang berlangsung sepanjang musim," keluh Conte dengan nada frustrasi.
Situasi ini membuat sang pelatih kehabisan opsi taktik di lapangan. Ia menyebutkan sederet nama bintang yang harus menepi dalam waktu lama.
"Bagaimana Anda bisa memprediksi cedera Di Lorenzo, atau Lukaku dengan tendon lepas, De Bruyne dengan kerusakan tendon, atau Gilmour yang butuh operasi," tambahnya.
Skuad Tipis dan Kelelahan
Absennya enam hingga tujuh pemain inti memaksa Conte memutar otak lebih keras. Pemain yang tersisa harus terus bermain tanpa henti setiap pekannya.
Kondisi ini menciptakan efek domino berupa kelelahan fisik yang ekstrem. Scott McTominay dan Amir Rrahmani menjadi korban dari minimnya rotasi pemain.
"Dengan enam atau tujuh pemain penting absen selama berbulan-bulan, itu memaksa pemain yang sama untuk terus bermain sepanjang waktu," jelas Conte.
Masalah ini diperparah dengan pasifnya manajemen di bursa transfer lalu. Conte merasa tidak mendapat dukungan yang cukup untuk menambal skuad.
"Saya diberitahu kami tidak bisa melakukan apa pun di bursa transfer, kami mendatangkan dua anak muda untuk membantu kami," ungkapnya.
Lupakan Mimpi Scudetto
Ketika ditanya soal peluang mengejar Inter Milan di jalur Scudetto, Conte tertawa getir. Ia menganggap pertanyaan tersebut sangat tidak masuk akal.
Jarak sembilan poin dan kondisi skuad yang pincang membuat target juara terasa mustahil. Ia meminta media untuk lebih realistis melihat fakta di lapangan.
"Sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal," cetus Conte sambil tertawa pahit.
Baginya, fokus utama saat ini adalah bertahan hidup dengan sumber daya seadanya. Bicara gelar juara di tengah krisis hanya akan terdengar konyol.
"Mengenai Scudetto, ada jarak sembilan poin, kami punya masalah serius dan Anda berbicara tentang Scudetto, ayolah," pungkasnya dengan nada tinggi.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Hasil Argentina vs Mauritania: Nico Paz Unjuk Gigi Gantikan Lionel Messi
Piala Dunia 28 Maret 2026, 08:50
-
Prediksi Kolombia vs Prancis 30 Maret 2026
Piala Dunia 28 Maret 2026, 01:00
LATEST UPDATE
-
Bantah akan Cabut, Kai Havertz Tegaskan Komitmennya di Arsenal
Liga Inggris 29 Maret 2026, 02:00
-
Klasemen Pembalap WorldSBK 2026
Otomotif 28 Maret 2026, 23:19
-
Jadwal Lengkap, Hasil Balapan, dan Klasemen WorldSBK 2026
Otomotif 28 Maret 2026, 23:18
-
Hasil FP2 MotoGP Amerika 2026: Jorge Martin Asapi Duo Ducati Lenovo Team
Otomotif 28 Maret 2026, 22:46
-
Klasemen Pembalap WorldSSP 2026
Otomotif 28 Maret 2026, 22:14
-
Maarten Paes Jadi Kiper Terbaik di PSSI Awards 2026
Bola Indonesia 28 Maret 2026, 22:13
-
Jadwal Lengkap, Hasil Balapan, dan Klasemen WorldSSP 2026
Otomotif 28 Maret 2026, 22:11
-
Hasil Race 1 WorldSSP Portugal 2026: Valentin Debise Kalahkan Jaume Masia
Otomotif 28 Maret 2026, 21:56
LATEST EDITORIAL
-
5 Pencapaian Luar Biasa Mohamed Salah di Liverpool
Editorial 27 Maret 2026, 15:50
-
5 Kiper Pengganti Potensial untuk Chelsea, Solusi dari Krisis di Bawah Mistar
Editorial 26 Maret 2026, 14:56
-
Cedera Jadi Mimpi Buruk! 6 Bintang Ini Terancam Absen di Piala Dunia 2026
Editorial 26 Maret 2026, 14:43
-
5 Mega Transfer yang Wajib Dipantau pada Musim Panas 2026
Editorial 25 Maret 2026, 13:37










