Rapor Juventus 2024/2025: 6, Proyek yang Terhenti di Tengah Jalan
Gia Yuda Pradana | 27 Mei 2025 14:39
Bola.net - Juventus memulai musim 2024/2025 dengan ekspektasi tinggi. Datangnya Thiago Motta sebagai pelatih anyar diharapkan bisa membawa angin segar setelah Massimiliano Allegri didepak pascainsiden di final Coppa Italia musim lalu. Allegri memang mempersembahkan trofi, tapi sikapnya di laga puncak jadi pemicu kepergiannya.
Paolo Montero menutup musim 2023/2024 sebagai caretaker dan membawa Juventus finis ketiga. Posisi itu cukup untuk mengamankan tiket ke Liga Champions dan menyisakan harapan bagi masa depan. Namun, harapan itu tak bertahan lama ketika Motta mulai menjalani musim penuh pertamanya.
Motta datang dengan modal membawa Bologna ke zona Liga Champions musim sebelumnya. Akan tetapi, proyeknya di Juventus tak berjalan mulus. Manajemen akhirnya mengambil keputusan tegas pada 23 Maret 2025—memecat Motta dan menunjuk Igor Tudor sebagai pengganti.
Performa di Kompetisi Domestik
Di panggung domestik, Juventus tampil di bawah standar. Langkah mereka di Supercoppa Italiana langsung terhenti di semifinal setelah tumbang 1-2 dari AC Milan yang dilatih Sergio Conceicao. Kekalahan itu jadi tanda awal bahwa proyek Motta belum benar-benar siap untuk bersaing.
Kekecewaan berlanjut di Coppa Italia. Bermain di kandang melawan Empoli, Juventus hanya bermain imbang 1-1 dan kalah adu penalti 2-4. Gagal mempertahankan gelar membuat tekanan terhadap Motta makin besar. Pendukung pun mulai kehilangan kesabaran.
Namun, Juventus masih bisa menyelamatkan muka. Pekan terakhir Serie A jadi penentu. Kemenangan dramatis 3-2 di markas Venezia bukan hanya mengantar tim ke Liga Champions, tapi juga memastikan Venezia terdegradasi. Tudor sukses mengantarkan tim melewati garis akhir.
Performa di Kompetisi Eropa
Jika di liga domestik Juventus masih mampu menyelamatkan tiket Eropa, performa mereka di Liga Champions jauh dari kata meyakinkan. Di fase liga, Juventus mencatat tiga kemenangan, tiga imbang, dan dua kekalahan. Dua kekalahan itu terjadi di kandang sendiri—0-1 dari Stuttgart dan 0-2 dari Benfica.
Hasil tersebut membuat Juventus finis di peringkat ke-20. Mereka tak langsung tersingkir, tapi harus mengikuti play-off fase gugur melawan PSV Eindhoven. Laga itu jadi akhir perjalanan Eropa mereka. Juventus kalah agregat 3-4 dan pulang lebih awal.
Padahal, musim ini adalah kembalinya mereka ke Liga Champions setelah satu musim absen. Namun, harapan itu dibalas dengan performa loyo dan minim semangat juang. Kritik terhadap Motta pun makin meluas.
Pemain yang Bersinar dan Tenggelam
Di tengah musim yang tidak konsisten, muncul satu nama yang mendapatkan sorotan positif. Kenan Yildiz tampil menawan di usia 20 tahun. Dua mencetak tujuh gol dan empat assist di Serie A, termasuk satu gol penting di pekan terakhir. Di Liga Champions, dia juga mencatat satu gol dan satu assist.
Performa Yildiz memberi harapan baru bagi masa depan Juventus. Gelandang serang asal Turki ini menjelma jadi motor serangan yang konsisten dan percaya diri. Banyak pihak menilai dia bisa menjadi ikon baru Bianconeri dalam beberapa tahun ke depan.
Sebaliknya, Dusan Vlahovic tak mampu membuktikan kualitasnya sebagai striker utama. Dengan torehan 15 gol dari 41 penampilan di semua kompetisi, Vlahovic dianggap tampil di bawah ekspektasi. Dia tampil melempem dan kontribusinya tak cukup untuk mengangkat tim.
Pelatih Juventus
Statistik Thiago Motta sepanjang musim menunjukkan betapa beratnya tugas yang dia emban. Dari 42 pertandingan, Juventus hanya menang 18 kali, imbang 16 kali, dan kalah delapan kali. Rasio golnya pun tak istimewa—65 memasukkan dan 46 kebobolan.
Tudor mengambil alih di masa genting. Dalam sembilan laga, semua di Serie A, dia mencatat lima kemenangan, tiga imbang, dan hanya sekali kalah. Performa itu cukup untuk memastikan Juventus tetap di zona empat besar dan tampil di Liga Champions musim depan.
Di tengah musim penuh gejolak, langkah cepat Juventus menunjuk Tudor terbukti tepat. Sekarang, Juventus harus menyusun ulang fondasi tim dan memanfaatkan potensi yang tersisa. Juventus mungkin gagal bersinar, tapi belum sepenuhnya padam.
Klasemen Serie A
TAG TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Link Live Streaming Piala Dunia 2026: Irak vs Norwegia
Piala Dunia 17 Juni 2026, 03:01
-
Link Live Streaming Piala Dunia 2026: Prancis vs Senegal
Piala Dunia 17 Juni 2026, 01:20
-
Tempat Menonton Prancis vs Senegal, Grup I Piala Dunia 2026 Hari Ini
Piala Dunia 17 Juni 2026, 01:00
-
Ruben Amorim Buka-bukaan Alasan Terima Pinangan AC Milan
Liga Italia 16 Juni 2026, 23:38
-
Resmi! AC Milan Perkenalkan Ruben Amorim Sebagai Pelatih Baru Rossoneri
Liga Italia 16 Juni 2026, 23:31
-
Link Streaming Piala Dunia 2026: Irak vs Norwegia, Rabu 17 Juni 2026
Piala Dunia 16 Juni 2026, 23:30
-
Inikah Pembelian Pertama Arsenal di Musim Panas 2026?
Liga Inggris 16 Juni 2026, 22:30
-
Link Streaming Prancis vs Senegal, Grup I Piala Dunia 2026
Piala Dunia 16 Juni 2026, 22:27
-
Ditinggal Cucurella, Mantan Bek MU Ini Jadi Kejaran Chelsea?
Piala Dunia 16 Juni 2026, 22:15
-
Prediksi Piala Dunia 2026: Meksiko vs Korea Selatan 19 Juni 2026
Liga Inggris 16 Juni 2026, 22:00
-
Prediksi Piala Dunia 2026: Kanada vs Qatar 19 Juni 2026
Piala Dunia 16 Juni 2026, 21:00
-
Manchester United Intip Peluang Bajak Gelandang Barcelona Ini
Liga Inggris 16 Juni 2026, 20:40
-
Kalau Arsenal Saja Bisa, Kenapa MU Tidak Bisa Juara Premier League Lagi?
Liga Inggris 16 Juni 2026, 20:20
LATEST EDITORIAL
-
6 Kemenangan Terbesar dalam Sejarah Piala Dunia
Editorial 15 Juni 2026, 16:55
-
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di Piala Dunia 2026
Editorial 12 Juni 2026, 14:41
-
10 Negara dengan Koleksi Trofi Mayor Terbanyak, Argentina Ungguli Brasil
Editorial 11 Juni 2026, 14:28







