Pemain-Pemain yang Duduk Manis di Bangku Cadangan, Eh Ikut Angkat Trofi Piala Dunia!
Richard Andreas | 17 Desember 2022 02:30
Bola.net - Piala Dunia 2022 akhirnya mencapai babak final. Argentina bakal menghadapi Prancis di partai pemungkas, Minggu (18/12/2022) malam WIB besok.
Argentina kini disebut sebagai favorit juara, khususnya karena ada Lionel Messi. Menariknya, hingga babak semifinal kemarin, masih ada pemain Argentina yang baru debut di Qatar, yaitu Paulo Dybala.
Kesempatan emas itu dia dapatnya saat masuk sebagai pemain pengganti dalam kemenangan 3-0 Argentina atas Kroasia di semifinal beberapa waktu lalu.
Dybala sebelumnya hanya duduk manis di bangku cadangan, menanti kesempatan dari sang pelatih Lionel Scaloni. Penantian panjang pemain kepunyaan AS Roma itu terjawab pada menit ke-74. Dybala masuk menggantikan juniornya, Julian Alvarez.
Belum bisa dipastikan, apakah Dybala akan kembali mendapat kesempatan di partai final, Argentina akan menantang juara bertahan Prancis pada Minggu (18/12) malam WIB.
Tampil di pentas sepak bola terakbar empat tahunan menjadi impian semua pemain. Soalnya, selain bangga menjadi duta bangsa di ajang paling bergengsi, ini juga menjadi momen pemain untuk TTP alias tebar-tebar pesona. Siapa tahu ada klub tajir melintir yang naksir.
Mau tahu siapa saja pemain yang tak berkeringat sama sekali namun menyandang gelar Piala dunia? Yuk disimak, Bolaneters!
Ronaldo (1994)
Pada edisi ini, Ronaldo masih bocah 17 tahun. Meski berjuluk bocah ajaib di Brasil, tapi dia tak mendapat kesempatan tampil sepanjang Piala Dunia 1994.
Meski begitu, orang-orang tak terlalu mempersoalkan. Membawa pemain muda ke ajang paling bergengsi tentu saja punya pertimbang matang. Carlos Alberto Parreira selaku juru taktik mahfum betul soal itu.
Brasil kemudian tampil sebagai juara. Di final, Selecao menggebuk Italia 3-2 via adu penalti setelah bermain tanpa gol hingga babak perpanjangan waktu.
Ronaldo ikut angkat piala. Dia terlihat begitu senang.
Beberapa tahun berselang, Ronaldo menjelma menjadi bintang kedigdayaan Tim Samba di Piala Dunia 2002. Empat tahun sebelumnya, "Fenomeno" juga sosok penting membawa Brasil ke final walau akhirnya harus puas sebagai runner-up.
Pepe Reina (2010)
Iker Casillas tak tergoyahkan. Pesonanya masih begitu kuat di bawah mistar La Furia Roja. Yang lain minggir dulu.
Demikianlah, Casillas tak tergantikan dalam kemenangan bersejarah di Piala Dunia 2010. Tak hanya itu, legenda Real Madrid itu juga jadi andalan di Euro 2008 dan 2012.
Pepe Reina hanya bisa pasrah. Dia sebenarnya berharap bisa eksis di panggung terakbar. Namun, dia hanyalah kiper cadangan yang berada di bawah bayang-bayang sang Casillas.
Adil Rami (2018)
Jangan salahkan kalau Rami sama sekali tak beraksi di Piala Dunia 2018. Sebagai pemain, dia tentu saja siap tempur. Namun, itu semua berpulang kepada keputusan pelatih.
Sampai Prancis mengalahkan Kroasia di final dan Les Bleus tampil sebagai juara untuk kali kedua di Rusia, Rami magabut atau makan gaji buta.
Didier Deschamps masih lebih percaya kepada pemain lain menjaga lini belakang Prancis ketimbang mantan pemain AC Milan yang kini berusia 36 tahun itu.
Dida (2002)
Di mana pun, nasib kiper cadangan sama saja. Mereka akan tampil jika kiper utama cedera atau memang mendapat perintah khusus dari pelatih.
Hal tersebut juga menerpa Dida, saat Brasil tampil di Piala Dunia 2002 Korea Selatan - Jepang.
Dida hanya sebagai penghangat bangku cadangan sembari menyaksikan rekan-rekannya beraksi.
Meski begitu, kehadiran Dida sangat penting disaat genting. Ya! Beberapa saat sebelum bentrok kontra Jerman di final, striker andalan Selecao, Ronaldo, tiba-tiba gelisah.
Dia kemudian curhat ke Dida. Ronaldo merasa trauma final 1998 melawan Prancis menghantuinya. Dida berhasil menenangkan sekaligus meyakinkan Ronaldo.
Benar saja, di final melawan Jerman, Ronaldo tampil buas degan dua gol yang membawa Brasil ke singgasana juara.
Erik Durm (2014)
Setelah menanti sekian lama, Jerman akhirnya kembali ke jalur juara. Di final Piala Dunia 2014, Panser Eropa mengalahkan Argentina 1-0.
Masih adakah yang mengingat, Durm? Jelas tidak ada. Saat itu, Durm bukanlah pilihan utama di lini belakan skuad besutan Joachim Löw.
Dalam tujuh laga yang dimainkan Jerman, Durm tak ubahnya seorang penonton di bangku tribun. "Bahkan hari ini, saya tidak berpikir bahwa saya adalah juara dunia," keluhnya.
Franco Baresi (1982)
Dia dijuluki "libero yang sempurna". Namun, di Piala Dunia 1982, dia sama sekali tak tampil.
Enzo Bearzot, pelatih Gli Azzurri kala itu, lebih condong kepada libero kepunyaan Juventus, Gaetano Scirea.
Apa daya, kapten yang juga legenda AC Milan itu hanya sebatas "pelengkap". Italia keluar sebagai kampiun usai melumat Jerman Barat 3-1 di partai puncak.
Daniel Passarella (1986)
El Gran Capitan, itulah julukan Passarella. Dia adalah kapten saat Argentina memenangkan Piala Dunia 1978.
Di edisi 1986, situasi berubah. Ban kapten diambil alih Diego Maradona. Maradona dan kawan-kawan kemudian mengulang sejarah delapan tahun sebelumnya. Di partai puncak, La Albiceleste meremukkan Jerman Barat 3-2.
Passarella sama sekali tak beraksi di Meksiko. Serangan enterokolitis (Infeksi usus) membuatnya terbaring di tempat tidur. Posisinya sebagai bek digantikan oleh Jose Luis Brown.
Sumber: Squawka
Disadur dari: Bola.com (Choki Sihotang/Wiwig Prayugi) 16 Desember 2022
Jangan lewatkan ya, Bolaneters!
- Tak Remehkan Maroko, Zlatko Dalic: Kami Menaruh Respek kepada Mereka
- Jadwal Perebutan Peringkat 3 dan Final Piala Dunia 2022, Tayang di SCTV, Indosiar, Vidio dan Nex Par
- Starting XI Timnas Prancis Saat Juara Piala Dunia 2018: Bagaimana Nasibnya Sekarang?
- Gagal di Piala Dunia 2022, Sergio Busquets Putuskan Pensiun dari Timnas Spanyol
- Final Piala Dunia 2022 Argentina vs Prancis: Deschamps Siapkan Formula Redam Messi
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Media Vietnam Mengulas Babak Baru Timnas Indonesia Bersama John Herdman
Tim Nasional 14 Januari 2026, 20:52
-
Era Baru Timnas Indonesia: John Herdman Tekankan Peran Liga Lokal
Tim Nasional 14 Januari 2026, 17:04
LATEST UPDATE
-
Prediksi Qarabag FK vs Eintracht Frankfurt 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 21:09
-
Real Madrid vs Monaco: Statistik Gol Mbappe Jadi Ancaman Nyata buat Mantan Klubnya
Liga Champions 20 Januari 2026, 21:04
-
Villarreal vs Ajax: Jaminan Gol dalam Laga yang Berpotensi Berjalan Terbuka
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:55
-
Prediksi Galatasaray vs Atletico Madrid 22 Januari 2026
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:49
-
Copenhagen vs Napoli: Panggung Istimewa bagi Rasmus Hojlund
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:17
-
Update Transfer Resmi 18 Klub BRI Super League pada Januari 2026
Bola Indonesia 20 Januari 2026, 20:14
-
Madrid vs Monaco: Ujian Arbeloa, Reuni Mbappe, dan Angkernya Bernabeu
Liga Champions 20 Januari 2026, 20:00
-
Sporting vs PSG: Tamu yang Sangat Berbahaya
Liga Champions 20 Januari 2026, 19:58
-
Inter vs Arsenal: Catatan Historis Nerazzurri Berada dalam Ancaman
Liga Champions 20 Januari 2026, 19:47
-
Tottenham vs Dortmund: Catatan 23 Laga Kandang Eropa Tanpa Kalah Jadi Modal Spurs
Liga Champions 20 Januari 2026, 19:36
-
Bodo/Glimt vs Man City: Panggung sang Predator Gol di Tanah Kelahirannya
Liga Champions 20 Januari 2026, 19:00
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06







