Publik Afrika Selatan Mulai Hapalkan Lagu Kebangsaan
Editor Bolanet | 4 Juni 2010 20:45
Tapi lucunya di pertengahan lagu akan ada beberapa kelompok orang yang diam atau terlihat seperti bergumam-gumam.
Itu mungkin karena lirik lagu kebangsaan Afrika Selatan terdiri atas lima dari total 11 bahasa nasional yang dipakai di negara itu. Jadi ada beberapa orang yang bisa menyanyikan dua atau tiga lirik dalam bahasa yang bisa mereka ucapkan namun selebihnya mereka hanya diam saja karena tidak mengerti.
"Masalah lidah" ini telah mendorong kementerian kebudayaan merencanakan cara-cara untuk mendorong semua orang bisa menyanyikan seluruh lirik lagu nasional.
Lerato Matshikiza (25) dari Johannesburg mengatakan bahwa dia hanya bisa menyanyikan lirik lagu yang memakai bahasa Xhosa, Zulu dan Inggris, sedangkan di lirik lagu berbahasa Sotho dan Afrikaans dia hanya bisa bergumam saja.
Tapi dia mengaku akhirnya memutuskan untuk mempelajari semua lirik setelah menghadiri sebuah acara gereja pada Desember lalu.
"Saat itu semua orang di gereja menyanyikan lagu kebangsaan. Mereka bernyanyi dengan nada tinggi di awal lagu tapi ketika sampai pada bagian lagu berbahasa Afrikaans mendadak semua diam karena tidak ada yang tahu cara mengucapkannya. Jadi kami akhirnya hanya mengarang lirik-lirik tersebut kemudian menyambungnya dengan lirik bahasa inggris," kata Matshikiza.
Themba Mabaso dari Departemen Kebudayaan Nasional mengatakan saat pembukaan Piala Dunia 11 Juni nanti di mana tim nasional akan bertanding melawan Meksiko, seluruh suporter akan menyanyikan lagu nasional dengan sempurna.
"Penelitian yang kami lakukan menunjukkan orang-orang tidak menyanyikan sebagian lirik lagu nasional karena mereka tidak mengerti bahasanya. Jadi kami merancang sebuah bacaan yang akan membongkar isi dan makna dari lagu tersebut dalam semua bahasa agar semua orang bisa menyanyikannya," kata Mabaso.
"Bacaan itu menyederhanakan ejaan kata-kata agar masyarakat lebih mudah mengucapkannya," tambahnya.
Departemen Kebudayaan Nasional juga bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan di seluruh negeri untuk mengadakan sesi latihan menyanyikan lagu nasional yang direkam lewat CD atau MP3 dan bahkan nada dering ponsel agar masyarakat bisa berlatih di mana saja.
Tahun lalu saat pertandingan rugby antara Springboks melawan tuan rumah Prancis, penyanyi reggae Afsel Ras Dumisani memancing kemarahan nasional karena salah menyanyikan lirik lagu kebangsaan.
Publik juga dibuat geram saat pertandingan pembukaan Piala Konfederasi FIFA tahun lalu karena lagu kebangsaan dibawakan dengan cara dipotong menjadi dua versi. Tidak ada penjelasan mengenai pemotongan lagu itu.
Dulu saat Afsel masih berada di bawah kekuasaan orang kulit putih, lagu kebangsaan resmi berjudul "Die Stem" (Suara Afrika Selatan) diubah versi menyanyikannya menjadi "Nkosi Sikelel`iAfrika" (Tuhan Memberkati Afrika) oleh orang-orang kulit hitam sebagai bentuk protes terhadap rezim kekuasaan saat itu.
Kedua versi lagu kebangsaan itu akhirnya digabung menjadi satu tahun 1997 sebagai tanda persatuan negara.
Tapi tahun lalu di sebuah acara pemuda, penyanyi pop Afsel Thandiswa Mazawi menolak untuk menyanyikan lagu nasional versi bahasa Afrikaans. Dalam situs jejaring sosial Facebook miliknya penyanyi itu mengungkapkan kebenciannya terhadap lagu kebangsaan versi baru.
"Bagaimana bisa lagu dan doa bagi Afrika dengan begitu mencoloknya digabungkan dengan lagu kebangsaan lama yang menjadi simbol penguasaan tanah dan kebanggaan orang-orang Afrika dulu," katanya.
Banyak orang Afrika Selatan yang tidak tahu arti sebagian ragam bahasa yang ada di negaranya sendiri. Dan walau politik pemisahan warna kulit sudah lama berakhir, di dunia olahraga, sepak bola selalu dipandang sebagai miliknya orang kulit hitam dan rugby sebagai olahraga kulit putih.
Saat lagu kebangsaan diputar sebelum pertandingan dimulai, pemain sepak bola sering diam di lirik berbahasa Afrikaans, sementara pemain rugby selalu melewatkan tiga ayat pertama.
Mabaso berharap lagu kebangsaan akan muncul sebagai kekuatan pemersatu, seperti ketika tuan rumah Afsel memenangi Piala Dunia Rugby 1995. Sebelum pertandingan diadakan semua pemain yang kebanyakan berkulit putih (Afrikaan) sebelumnya mengikuti pelajaran musik supaya mereka bisa menyanyikan keseluruhan lirik lagu.
"Lagu ini dimaksudkan untuk menyatukan negara dan menampilkan identitas Afrika Selatan. Dari semua simbol nasional Afsel, lagu kebangsaan merupakan lambang di mana semua orang merasa terhubung," kata Mabaso.
"Kami sangat beruntung diberi kesempatan menjadi tuan rumah turnamen dunia untuk kedua kalinya sehingga kami bisa merekatkan nasionalisme lagi," katanya. (ant/row)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Hasil Brasil vs Maroko: Vinicius Balas Gol Saibari, Duel Berakhir Imbang
Piala Dunia 14 Juni 2026, 07:11
-
Pemain-pemain Andalan Jepang untuk Menantang Belanda
Piala Dunia 14 Juni 2026, 07:00
-
Link Live Streaming Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026 Pagi Ini
Piala Dunia 14 Juni 2026, 06:07
-
Link Live Streaming Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 14 Juni 2026, 06:05
-
Klasemen Grup B Piala Dunia 2026 Setelah Laga Qatar vs Swiss
Piala Dunia 14 Juni 2026, 04:59
-
Man of the Match Qatar vs Swiss: Mahmoud Abunada
Piala Dunia 14 Juni 2026, 04:39
-
Hasil Qatar vs Swiss: Gol Menit Akhir Gagalkan Kemenangan Swiss
Piala Dunia 14 Juni 2026, 04:08
-
Link Live Streaming Brasil vs Maroko di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 14 Juni 2026, 04:04
-
Ralf Rangnick Resmi Perpanjang Kontrak Bersama Timnas Austria hingga 2028
Piala Dunia 14 Juni 2026, 03:39
-
Link Live Streaming Piala Dunia 2026: Brasil vs Maroko
Piala Dunia 14 Juni 2026, 03:03
LATEST EDITORIAL
-
10 Target Transfer Arsenal yang Patut Dipantau di Piala Dunia 2026
Editorial 12 Juni 2026, 14:41
-
10 Negara dengan Koleksi Trofi Mayor Terbanyak, Argentina Ungguli Brasil
Editorial 11 Juni 2026, 14:28





