6 Aspek Taktik Patrick Kluivert Saat Indonesia Kalah 1-5 dari Australia: 3-4-2-1, Apa Bedanya dengan Shin Tae-yong?
Asad Arifin | 20 Maret 2025 18:16
Bola.net - Timnas Indonesia kalah ketika berjumpa Australia pada matchday ke-7 Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026, Kamis (20/3) petang WIB. Bermain di Stadion Sidney, Skuad Garuda menelan kekalahan dengan skor 1-5.
Indonesia memulai laga dengan baik. Namun, kegagalan Kevin Diks mengeksekusi penalti jadi titik balik. Indonesia tertinggal 0-3 pada babak pertama dari gol Martin Boyle, Nishan Velupillay, dan Jackson Irvine.
Pada babak kedua, Australia menambah satu gol dari aksi Lewis Miller dan Jackson Irvine. Keduanya bermula dari sepak sudut. Sedangkan, kubu Indonesia mendapatkan gol hiburan dari aksi Ole Romeny.
Skuad Garuda kalah dengan skor 1-5 dari Socceroos, pada laga debut Patrick Kluivert sebagai pelatih. Lantas, taktik apa yang diterapkan Kluivert pada laga ini dan apa bedanya dengan Shin Tae-yong?
Simak ulasan lebih lengkapnya di bawah ini ya Bolaneters.
Formasi dan Pemilihan Pemain

Kluivert memakai formasi awal 3-4-2-1, formasi yang juga sering dipakai Shin Tae-yong. Kluivert sepertinya tidak ingin membuat perubahan besar dari sisi formasi awal.
Kluivert memainkan Calvin Verdonk sebagai bek tengah kiri. Shin Tae-yong juga pernah memberi tugas yang sama kepada pemain 27 tahun tersebut. Sementara, posisi wingback kiri dipercayakan pada Dean James.
Di tengah, Nathan Tjoe-A-On dimainkan sejak menit awal. Berduet dengan Thom Haye. Sedangkan, di lini depan, Ole Romeny jadi penyerang tengah. Dia dapat dukungan dari Marselino Ferdinan dan Rafael Struick.
Permainan Agresif yang Positif

Pada era Shin Tae-yong, Timnas Indonesia acap kali memulai laga dengan permainan pasif. Indonesia lebih sering menunggu lawan menyerang dan mencari peluang dari serangan balik.
Kluivert, memilih pendekatan berbeda dan meminta Timnas Indonesia bermain agresif. Indonesia langsung menyerang dan punya peluang pada menit ke-4 dari sundulan Jay Idzes.
Serangan masif Indonesia kemudian berujung pada penalti, ketika Rafael Struick dijatuhkan Kye Rowles. Indonesia mendapat penalti, akan tetapi sepakan Kevin Diks gagal jadi gol.
Garis Pertahanan Tinggi Berujung Petaka

Keputusan Indonesia bermain terbuka harus dibayar mahal oleh Kluivert. Sebab, dengan garis pertahanan tinggi, ada ruang lebar di lini belakang dan itu bisa dilihat oleh Australia.
Jay Idzes acap kali maju untuk memulai progresi bola. Faktor ini membuat Indonesia hanya punya dua bek tersisa yakni Calvin Verdonk dan Mees Hilgers, dengan posisi melebar.
Australia melihat situasi itu dengan baik. Gol kedua Australia, Nishan Velupillay, lahir dari celah itu. Jarak Verdonk dan Mees terlalu jauh. Mirip ketika Skuad Garuda kalah lawan China beberapa waktu lalu.
Lubang di Lini Tengah

Kluivert memainkan Nathan Tjoe-A-On sejak menit awal, berduet dengan Thom Haye. Ini keputusan yang patut dipertanyakan karena menit bermain Nathan bersama Swansea City sangat minim.
Nathan terlihat tidak cukup bagus pada beberapa momen dan itu berdampak buruk bagi Indonesia. Dia membuat pelanggaran yang berujung penalti dan tidak maksimal pada proses gol Jackson Irvine.
Duet Nathan dan Haye cukup bagus ketika Indonesia menguasai bola. Namun, ketika menyerang, mereka kurang kreatif. Mereka juga terkesan saling mengandalkan ketika bertahan.
Mengandalkan Individu di Lini Depan

Kluivert memainkan Rafael Struick, Ole Romeny, dan Marselino Ferdinan di lini depan. Ole Romeny jadi penyerang tengah dan dua pemain lain banyak beroperasi di belakangnya.
Pergerakan ketiga pemain ini cukup cair dan bagus. Romeny beberapa kali turun dan melebar untuk mencari bola. Bahkan, Romeny mampu mencetak gol untuk Skuad Garuda.
Hanya saja, belum ada struktur menyerang yang pasti. Kluivert terkesan hanya mengandalkan kemampuan individu tiga pemain itu. Situasi agak membaik pada babak kedua saat Diks dan James lebih terlibat dalam serangan.
Antisipasi Bola Mati yang Buruk

Indra Sjafri dapat kritik tajam saat Indonesia gagal di Piala Asia U-20 2025 lalu. Indra Sjafri dinilai gagal meracik skenario yang tepat pada situasi bertahan dari bola mati.
Kluivert harusnya mendapat kritik yang sama. Sebab, pada laga debutnya, Indonesia terlihat kewalahan dalam situasi bola mati. Terutama saat bertahan. Dua dari lima gol Australia terjadi dari sepak sudut.
Selain itu, pada proses penalti Australia juga bermula dari sepak sudut. Jadi, ini bukan hanya kesalahan individu pemain, akan tetapi ada sistem bermain yang perlu dibenahi.
Hasil dan Jadwal Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026
5 September 2024
- Jepang 7-0 China
- Australia 0-1 Bahrain
- Arab Saudi 1-1 Timnas Indonesia
10 September 2024
- China 1-2 Arab Saudi
- Timnas Indonesia 0-0 Australia
- Bahrain 0-5 Jepang
10 Oktober 2024
- Australia 3-1 China
- Bahrain 2-2 Timnas Indonesia
- Arab Saudi 0-2 Jepang
15 Oktober 2024
- Jepang 1-1 Australia
- China 2-1 Timnas Indonesia
- Arab Saudi 0-0 Bahrain
14 November 2024
- Australia 0-0 Arab Saudi
- Bahrain 0-1 China
- Timnas Indonesia 0-4 Jepang
19 November 2024
- China 1-3 Jepang
- Timnas Indonesia 2-0 Arab Saudi
- Bahrain 2-2 Australia
20 Maret 2025
- Australia 5-1 Timnas Indonesia
- Jepang vs Bahrain
- Arab Saudi vs China
25 Maret 2025
- Jepang vs Arab Saudi
- China vs Australia
- Timnas Indonesia vs Bahrain
5 Juni 2025
- Australia vs Jepang
- Bahrain vs Arab Saudi
- Timnas Indonesia vs China
10 Juni 2025
- Jepang vs Timnas Indonesia
- Arab Saudi vs Australia
- China vs Bahrain
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Man of the Match Real Madrid vs Monaco: Vinicius Junior
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:51
-
Hasil Copenhagen vs Napoli: Partenopei Gagal Menang Meski Unggul Jumlah Pemain
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:29
-
Hasil Villarreal vs Ajax: Kapal Selam Kuning Karam Lebih Dini
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:27
-
Sporting CP vs PSG: Les Parisiens Jatuh di Lisbon
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:19
LATEST UPDATE
-
Man of the Match Sporting CP vs PSG: Luis Suarez
Liga Champions 21 Januari 2026, 07:19
-
Man of the Match Inter vs Arsenal: Gabriel Jesus
Liga Champions 21 Januari 2026, 07:05
-
Man of the Match Bodo/Glimt vs Man City: Jens Petter Hauge
Liga Champions 21 Januari 2026, 06:51
-
Man of the Match Real Madrid vs Monaco: Vinicius Junior
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:51
-
Hasil Copenhagen vs Napoli: Partenopei Gagal Menang Meski Unggul Jumlah Pemain
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:29
-
Hasil Villarreal vs Ajax: Kapal Selam Kuning Karam Lebih Dini
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:27
-
Sporting CP vs PSG: Les Parisiens Jatuh di Lisbon
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:19
-
Hasil Olympiakos vs Leverkusen: Wakil Yunani Buka Peluang Lolos ke Play-off
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:17
-
Hasil Tottenham vs Dortmund: Spurs Jaga Rekor Kandang Sempurna di Liga Champions
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:11
-
Hasil Inter vs Arsenal: Meriam London Hancurkan Nerazzurri di Giuseppe Meazza
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:04
-
Hasil Real Madrid vs Monaco: Kylian Mbappe dkk Pesta Setengah Lusin Gol
Liga Champions 21 Januari 2026, 05:03
-
Gagal Bersinar di Old Trafford, Ugarte Bakal Ditukar dengan Bintang Muda Sunderland
Liga Inggris 21 Januari 2026, 04:59
LATEST EDITORIAL
-
9 Pemain yang Pernah Bermain untuk Inter Milan dan Arsenal
Editorial 20 Januari 2026, 14:06
-
6 Bek Tengah yang Bisa Datangkan Liverpool Setelah Kehilangan Marc Guehi
Editorial 20 Januari 2026, 13:05
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06


