Patah, Bangkit, Bersinar: Perjalanan Malik Risaldi yang Sempat Kesulitan Cari Kerja Hingga Jadi Andalan Persebaya
Gia Yuda Pradana | 1 Mei 2025 07:00
Bola.net - Malik Risaldi kini dielu-elukan sebagai pilar tangguh Persebaya Surabaya. Sosoknya begitu identik dengan kecepatan, ketajaman, dan determinasi tinggi di lapangan. Namun, gemerlap karier yang dia nikmati hari ini tak datang dengan mudah. Ada jalan panjang yang harus ditempuh, penuh tanjakan curam, dan belokan tak terduga.
Bagi Malik, sepak bola bukan sekadar permainan. Ini adalah impian yang tumbuh sejak kecil di sudut Kota Pahlawan, Surabaya. Setiap pagi, dia menendang bola di lapangan tanah, di bawah terik matahari dan sorak riuh teman-temannya. Kedua orang tuanya yang juga mencintai sepak bola, menjadi fondasi kuat yang menanamkan mimpi itu sejak dini. Tak heran, mereka mendaftarkan Malik ke sekolah sepak bola saat usianya masih sangat belia.
Dari situ, jalan Malik mulai terbentuk. Dia melangkah dari satu klub ke klub lain, meniti tangga karier dari akar rumput. Namun, di balik itu semua, ada saat-saat di mana cahaya nyaris padam dan harapan sempat hilang arah. Kisah Malik bukan hanya tentang gol dan kemenangan, tapi juga tentang kekuatan untuk bangkit ketika hidup terasa tak berpihak.
Mimpi yang Tumbuh di Tanah Surabaya

Segalanya berawal dari lapangan sederhana di Surabaya. Malik kecil bukan hanya bermain bola, dia hidup di dalamnya. Dia tumbuh bersama debu dan panasnya siang, berlari mengejar mimpi dengan semangat anak-anak yang belum tahu apa itu kegagalan. Namun, sejak awal, dia sudah tahu apa itu cinta: cinta pada bola, dan cinta dari orang tuanya yang selalu mendukung.
“Saya suka olahraga sejak kecil. Orang tua juga suka sepak bola. Jadi, dari kecil sudah didaftarkan ke SSB oleh orang tua,” ujar Malik dengan senyum hangat mengenang masa itu.
Ketika masuk bangku SMA, langkahnya mulai mengarah ke jalur yang lebih serius. Di kelas 2, dia bergabung dengan Perssu Sumenep, klub amatir yang menjadi gerbang pertamanya ke dunia sepak bola profesional. Ini bukan hanya soal berganti kostum, tapi perubahan besar dalam hidupnya—dari pemain muda biasa menjadi seseorang yang mulai menatap masa depan di sepak bola.
Setelah Perssu, Malik terus bergerak. Dia memperkuat Persegres Gresik United U-21, lalu Persela Lamongan U-21. Setiap klub adalah pelajaran baru. Setiap latihan adalah ujian mental. Setiap seleksi, pertarungan sunyi antara rasa percaya diri dan keraguan. Namun, Malik bertahan. Sebab, bagi dia, mimpi yang sudah dimulai di tanah Surabaya itu tak boleh berhenti di tengah jalan.
Terjatuh di Titik Tergelap

Tahun 2017 menjadi titik balik—bukan ke atas, tapi ke bawah. Setelah memperkuat PS Timah Babel di Liga 2, Malik hanya diberi kesempatan tampil lima kali sebelum akhirnya dicoret. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada kesempatan kedua. Hanya rasa hampa yang tersisa dan perasaan gagal yang sulit ditepis.
Dia pulang ke Gresik dengan hati berat. Dunia yang dulu terasa luas dan penuh kemungkinan, kini seperti menyempit. Malik mencoba bertahan dengan cara lain: melamar pekerjaan, berharap menemukan peran baru ketika sepak bola terasa seperti jalan buntu. Namun, di luar lapangan, tak ada yang mudah. Lamaran demi lamaran ditolak.
“Sudah melamar ke mana-mana, tidak diterima. Terus akhirnya ikut seleksi di Persegres pada 2018 di Liga 2, akhirnya masuk,” ujarnya mengenang dengan mata menerawang jauh.
Titik terendah itu justru menjadi awal yang baru. Ketika tak ada lagi yang bisa diandalkan, Malik kembali ke sepak bola. Dia lolos seleksi di Persegres. Bukan klub besar, tapi cukup untuk menyalakan kembali nyala api yang sempat padam. Di situlah dia belajar bahwa terkadang, kita harus jatuh dulu agar bisa melihat seberapa tinggi kita ingin bangkit.
Dari Kegigihan, Lahir Kemenangan

Setelah bangkit bersama Persegres, rezeki Malik mengalir pelan, tapi pasti. Tahun 2019 menjadi momen penting. Dia dipercaya bermain di Persela Lamongan. Dari sana, kariernya kembali mendaki. Dia bermain penuh semangat, membuktikan bahwa dirinya pantas berada di lapangan profesional.
Kesempatan demi kesempatan datang. Malik kemudian hijrah ke Madura United, tempat di mana dia benar-benar bersinar. Musim 2024/25 adalah musim terbaiknya: 13 gol dan empat assist, membawa Laskar Sapeh Kerrab menjadi runner-up BRI Liga 1. Sebuah pencapaian yang tak terbayangkan di masa-masa kelamnya dulu.
Tak berhenti di situ, performa impresif Malik membuka pintu ke panggung yang lebih besar: Timnas Indonesia. Dia mengenakan seragam merah putih, membela Skuad Garuda di bawah asuhan Shin Tae-yong. Sebuah mimpi yang akhirnya jadi nyata, setelah sekian lama diperjuangkan dengan keringat dan air mata.
“Pada 2017 itu, pas dicoret itu frustrasi. Di rumah enggak ngapa-ngapain dan enggak ada sepak bola, terus melamar kerja muter di Gresik cari lowongan-lowongan, tapi enggak ada yang keterima, akhirnya di sepak bola lagi,” ungkapnya dengan nada penuh syukur.
(Bola.net/Fitri Apriani)
Klasemen BRI Liga 1
Baca Artikel-artikel Menarik Lainnya:
Pelatih Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2025 Masih Misterius, Erick Thohir Tunggu Regulasi Batasan Usia di Cabor Sepak Bola
Bukan Asisten Gerald Vanenburg, Terungkap Indra Sjafri Masih Punya Jabatan di PSSI usai Tidak Melatih Timnas Indonesia U-20
Eliano Reijnders Tertawa Dengar Rumor Ketertarikan dari Klub Malaysia: Haha, Saya Tetap Ingin di Eredivisie atau Eropa
Timnas Indonesia Mulai TC di Bali pada 26 Mei 2025 untuk Melawan China dan Jepang
PSSI Menunggu Patrick Kluivert Susun Rencana TC Timnas Indonesia untuk Menghadapi China dan Jepang, Berharap Datang Secepatnya
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Link Streaming Persebaya vs PSIM di BRI Super League, 13 September 2026
Bola Indonesia 13 September 2026, 18:00
-
Hasil BRI Suoer League Sore Ini: Persita dan PSM Raih Comeback Dramatis!
Bola Indonesia 13 September 2026, 17:30
-
Link Streaming Persita vs Java United di BRI Super League, 13 September 2026
Bola Indonesia 13 September 2026, 15:03
-
Link Streaming PSM vs Arema di BRI Super League, 13 September 2026
Bola Indonesia 13 September 2026, 15:01
-
Hasil BRI Super League: Bali United dan Borneo FC Raih Kemenangan
Bola Indonesia 12 September 2026, 21:29
LATEST UPDATE
-
Elliot Anderson Puji Bintang MU Ini: Dia Pemain Top!
Liga Inggris 15 September 2026, 00:13
-
Juventus Ngidam Super-sub Arsenal Ini?
Liga Italia 14 September 2026, 23:42
-
Kalah di Derby Manchester, MU Janji Bakal Lekas Bangkit!
Liga Inggris 14 September 2026, 23:30
-
Baru Menang Sekali di EPL 2026/2027, Nasib Michael Carrick di MU Masih Aman?
Liga Inggris 14 September 2026, 23:08
-
Bukan Haaland, Dua Pemain Ini Dinilai Berjasa Besar Hantarkan Man City Kalahkan MU!
Liga Inggris 14 September 2026, 20:40
-
Shin Tae-yong Kirim Pesan Penting usai Persija Sapu Bersih 2 Laga Awal BRI Super League
Bola Indonesia 14 September 2026, 20:19
-
Menuju MotoGP Mandalika 2026, Pertamina Bawa Atmosfer Balap Lebih Dekat ke Masyarakat Indonesia
Otomotif 14 September 2026, 19:51
-
Nama: Erling Haaland, Hobi: Membobol Gawang Manchester United!
Liga Inggris 14 September 2026, 19:41
-
Ketika Jose Mourinho Jatuh Hati Pada Arda Guler
Liga Spanyol 14 September 2026, 19:32
-
Sesumbar Lamine Yamal: Saya Lebih Layak Menangkan Ballon d'Or Ketimbang Mbappe!
Liga Spanyol 14 September 2026, 19:22
-
Kalah dari Sassuolo, Juventus Masih Percaya Luciano Spalletti
Liga Italia 14 September 2026, 19:03
LATEST EDITORIAL
-
Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
Editorial 8 September 2026, 20:58
-
Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
Editorial 27 Agustus 2026, 14:00
-
5 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
Editorial 26 Agustus 2026, 12:06
-
4 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
Editorial 25 Agustus 2026, 11:33




