5 Pelajaran Final Liga Europa 2024/2025: Seni Bertahan Bawa Tottenham Juara dan Awal Bencana untuk MU
Asad Arifin | 22 Mei 2025 05:59
Bola.net - San Mames menjadi saksi kejayaan Tottenham di Liga Europa musim 2024/2025. Son Heung-min dan kawan-kawan meraih gelar usai menang 1-0 atas Manchester United pada laga final hari Kamis (22/5) dini hari WIB.
Tottenham datang sebagai tim yang haus gelar, sementara Manchester United membawa nama besar dan rekor impresif sepanjang turnamen. Namun malam itu, justru semangat dan keteguhan Spurs yang keluar sebagai pemenang.
Gol tunggal kemenangan dicetak oleh Brennan Johnson pada pengujung babak pertama. Gol ini jadi titik balik pertandingan—mengubah arah laga dan menghancurkan mental Setan Merah.
Gelar Liga Europa membuat musim buruk Tottenham yang terpuruk di peringkat ke-16 klasemen Premier League tidak akan dihitung lagi. Mereka punya trofi yang mengubah segalanya. Lantas, apa pelajaran yang bisa dipetik dari laga Tottenham vs MU?
Simak ulasan lengkapnya di bawah ini ya Bolaneters.
Seni Bertahan Tottenham

Tottenham menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal menyerang. Memainkan sepak bola bertahan juga bisa memberikan kemenangan, bahkan trofi penting seperti Liga Europa.
Tottenham bertahan pada hampir sepanjang laga. Mereka lebih banyak berada dalam tekanan MU. Penguasaan bola The Lilywhite hanya 27 persen. Tottenham juga hanya melepas satu shots on target.
Namun, bertahan adalah hal rumit. Banyak yang bikin permainan bertahan adalah bagian dari seni dan Tottenham memberi bukti. Mereka membuat 73 persen penguasaan bola MU terasa hampa karena tidak mampu bikin gol.
Duet Cristian Romero dan Micky van de Ven

Tottenham bertahan secara kolektif di final Liga Europa. Richarlison tampil sangat bagus. Pemain asal Brasil itu menunjukkan etos kerja besar saat membantu pertahanan.
Namun, ada ada pemain yang layak dapat apresiasi khusus yakni duet bek tengah Cristian Romero dan Micky van de Ven. Mereka bermain konsisten sangat fokus sepanjang laga.
Romero saat kuat pada situasi bola mati. Dia memastikan Tottenham tidak seperti Lyon dan Bilbao yang diobok-obok Harry Maguire. Sedangkan, Van de Ven melakukan penyelamatan penting dari peluang emas Casemiro.
Musim Bencana Setan Merah

Bagi MU, kekalahan di final Liga Europa akan berdampak sangat besar. Bukan hanya pada aspek olahraga, akan tetapi finansial. MU harus bersiap dengan skenario buruk.
MU tidak akan bermain di Liga Champions musim depan. Bahkan tidak bermain di kompetisi antarklub Eropa sama sekali. Faktor ini akan berdampak pada pemasukan klub.
"Partisipasi di Liga Champions sangat penting, karena dapat menghasilkan lebih dari £100 juta (sekitar Rp2,2 Triliun) dari tiket, uang siaran, dan bonus sponsor," pakar ekonomi olahraga, Kieran Maguire, pada BBC Sport.
Tanpa bermain di kompetisi Eropa, MU mungkin akan dapat penalti dari sponsor mereka. Selain itu, MU juga kehilangan daya tarik untuk merekrut pemain bintang.
Tangis untuk Penantian Panjang Son Heung-min

Tottenham sudah sangat lama tidak meraih gelar. Trofi terakhir yang mereka raih adalah Piala Liga (Carabao Cup) musim 2007/2008. Artinya, mereka menunggu hingga 17 tahun untuk juara lagi.
Gelar Liga Europa juga sangat berarti bagi Son Heung-min. Sang kapten melakukan apa yang tidak bisa dilakukan Harry Kane dan Gareth Bale yakni meraih trofi bersama Tottenham.
Liga Europa juga jadi trofi mayor pertama yang didapat Son Heung-min pada level klub. Son Heung-min akan mengenang malam di San Mames dengan tangis bahagia. Begitu juga Tottenham yang akan mengenang Son Heung-min sebagai legenda.
Ange Postecoglou, Sang Legenda!

Ange Postecoglou melanjutkan tradisi unik dalam kariernya. Pria asal Australia itu punya rekor selalu memberikan trofi pada musim kedua secara penuh. Hal itu sudah dilakukan di South Melbourne, Brisbane Roar, Yokohama Marinos, dan Celtic.
Setelah Juande Ramos, Ange Postecoglou jadi pelatih pertama yang membawa Tottenham menjadi juara. Dia melakukan apa yang tidak bisa dilakukan nama besar lain seperti Jose Mourinho, Antonio Conte, hingga Mauricio Pochettino.
"Luar biasa untuk klub. Itu telah lama dinantikan. Senang untuk klub dan semua penggemar. Sekarang Ange turun sebagai manajer legendaris yang memenangi piala Eropa," kata Gareth Bale.
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
-
Rayakan Ultah Ducati Ke-100, Ini 6 Potret Livery Retro Ducati Lenovo Team di MotoGP 2026
Otomotif 19 Januari 2026, 18:45
-
Prediksi Real Madrid vs Monaco Rabu 21 Januari 2026
Liga Champions 19 Januari 2026, 18:26
-
Di Bawah Thom Haye, Seberapa Mahal Nilai Layvin Kurzawa Dibanding Skuad Persib?
Bola Indonesia 19 Januari 2026, 17:55
LATEST UPDATE
-
Prediksi Kairat vs Club Brugge 20 Januari 2026
Liga Champions 19 Januari 2026, 22:30
-
Cristiano Ronaldo Menang Telak di Meja Hijau: Juventus Harus Bayar Rp165 Miliar
Liga Italia 19 Januari 2026, 21:54
-
Update Saga Mike Maignan: Ada Kabar Positif dari AC Milan
Liga Italia 19 Januari 2026, 21:53
-
Daftar Pebulu Tangkis Indonesia dan Hasil Drawing Indonesia Masters 2026
Bulu Tangkis 19 Januari 2026, 20:30
-
Jadwal Persib Bandung di BRI Super League 2025/2026
Bola Indonesia 19 Januari 2026, 20:22
-
Jadwal Lengkap BRI Super League 2025/2026
Bola Indonesia 19 Januari 2026, 20:10
-
Vinicius Jr ke Chelsea? Mantan Pemain The Blues Anggap Itu Sekadar Khayalan
Liga Inggris 19 Januari 2026, 19:39
-
Prediksi Villarreal vs Ajax 21 Januari 2026
Liga Champions 19 Januari 2026, 19:30
-
Real Sociedad vs Barcelona: Barca Keok, Fermin Lopez Tertawakan Keputusan Wasit
Liga Spanyol 19 Januari 2026, 19:11
LATEST EDITORIAL
-
5 Pemain Liverpool yang Bisa Ikuti Jurgen Klopp ke Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:24
-
4 Bek Tengah yang Bisa Jadi Target Chelsea di Bursa Januari: Ada Eks Real Madrid
Editorial 19 Januari 2026, 12:06
-
5 Kekalahan Terburuk Real Madrid di Copa del Rey Abad Ini
Editorial 16 Januari 2026, 10:19
-
5 Kandidat Pelatih Real Madrid Musim Depan: Zidane, Klopp, Siapa Lagi?
Editorial 15 Januari 2026, 07:26








