FOLLOW US:


Google Stadia Butuh Koneksi Internet 25 Mbps, Indonesia Bagaimana?

22-03-2019 15:30
Google Stadia Butuh Koneksi Internet 25 Mbps, Indonesia Bagaimana?
Google Stadia. © Google Stadia

Bola.net - Terobosan anyar Google dalam dunia gim, Google Stadia terus jadi perbincangan hangat dalam beberapa hari terakhir. Stadia dinilai mampu mengubah wajah dunia gaming jika bisa mewujud dengan sempurna di seluruh belahan dunia.

Singkatnya, Stadia adalah platform gim yang bukan merupakan benda, ia adalah tempat yang menyediakan banyak gim. Pengguna cukup berlangganan Stadia dan menggunakan Chrome Browser untuk memainkan berbagai jenis gim.

Stadia membuat segalanya jadi lebih mudah. Jika saat ini pengguna masih dipisahkan oleh Xbox, PlayStation, PC tingkat tinggi, juga mobile gaming, Stadia bermaksud menyatukan itu semua pada satu tempat, yakni gaming berbasis cloud.

Sayangnya, ada satu kelemahan pada Netflix-nya dunia gaming ini: koneksi internet. Bermain gim menggunakan Google Chrome tentu memerlukan internet dengan kecepatan tinggi.

Mengutip Kotaku, bos Google Stadia, Phil Harrison mengakui masalah ini masih jadi satu diskusi utama mereka. Harrison ingin Stadia jadi lebih ramah pada internet lemah.

"Untuk mendapatkan 1080p, 60fps, setidaknya membutuhkan 25 Mbps koneksi internet," ungkap Harrison. "Sebenarnya kami sudah pernah menggunakan yang lebih kecil dari itu, tapi itulah batas rekomendasi kami."

"Ketika kami mencoba itu, kami bisa mendapatkan resolusi 4K tetapi hanya jika meningkatkan bandwidth jadi 30 Mbps."

1 dari 1

Bagaimana di Indonesia?

Sayangnya, Indonesia mungkin belum siap menerima Stadia. Koneksi internet di Indonesia belum cukup baik untuk memainkan gim berbasis cloud seperti itu. Berdasarkan artikel Liputan6.com yang mengutip Hootsuite, di Indonesia rata-rata kecepatan internet kabel adalah 13,79 Mbps, sementara untuk mobile rata-rata memiliki kecepatan 9,82 Mbps.

Memang ada beberapa provider yang menjanjikan sampai 100 Mbps, tetapi pada kenyataannya belum ada provider internet yang mampu melakukannya. Mereka sedikit mengecoh pembeli dengan frasa "up to .... Mbps".

Di sisi lain, Harrison juga mengatakan bahwa sistem Stadia mampu secara dinamis menyesuaikan outputnya berdasarkan bandwidth internet pengguna. Sehingga mereka yang memiliki koneksi lemah bisa tetap bisa memainkan gim meski dengan resolusi yang lebih rendah.

Hal ini tentu akan membuat Stadia lebih mudah diakses, tetapi di saat yang sama ini menimbulkan pertanyaan soal apa yang sebenarnya diinginkan pengguna: konsol tradisional dengan resolusi tinggi, atau akses instan pada teknologi steraming?