
Bola.net - Olimpiade London ternyata membawa arti tersendiri bagi pebulu tangkis senior Tony Gunawan.
Meski tersingkir di babak penyisihan grup, Tony, yang tampil berpasangan dengan Howard Bach mengaku tidak menyesal mengikuti kompetisi olahraga terbesar di dunia yang diselenggarakan empat tahun sekali itu.
"Semula saya ragu untuk mengikuti Ollimpiade ini. Maklumlah sudah 12 tahun berselang, dan saya sudah tidak muda lagi," ujar Tony yang ditemui usai bertanding di Wembley Arena, London, Senin.
Tetapi untung saya akhirnya memutuskan berangkat, karena rasanya saya jadi mengingat kembali momen-momen itu," kata peraih medali emas ganda putra Olimpiade Sydney 2000 bersama Candra Wijaya itu.
Bedanya, saat itu ia masih membela Merah Putih, sekarang ia membela "The Star Spangled Banner", bendera Tanah Air keduanya setelah ia resmi menjadi warga negara Amerika sejak 6 September 2011.
Bedanya lagi, tahun 2000 ia menyumbang emas untuk Merah Putih, sementara kali ini, ia dan pasangannya Howard Bach, tersingkir di babak penyisihan grup setelah tidak meraih satu kemenangan pun.
"Dulu masih muda, sekarang sudah berumur, tidak bisa lagi bersaing dengan yang muda-muda," kata ayah dua putra itu seperti yang dilansir Antara.
Namun, kenangan dan kebanggaan tentang Olimpiade yang dilaluinya membuat ia bermimpi suatu saat nanti dapat kembali lagi.
Bersama Candra Wijaya, ia mempertahankan tradisi medali emas bagi Indonesia pada 2000 di Sydney. Ia juga meraih sejumlah gelar bergengsi di antaranya juara dunia dan All England, sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Amerika Serikat.
Ia memutuskan mengawali karir sebagai pelatih di Orange County Badminton Club di Orange County, California dan membantu mempopulerkan bulu tangkis di AS.
Ia bahkan masih sempat meraih gelar juara dunia bagi AS saat berpasangan dengan Bach pada 2005 saat kejuaraan tersebut digelar di Anaheim, AS.
Dan kini, setelah 12 tahun berlalu, ia kembali lagi ke arena bergengsi Olimpiade, yang pesertanya harus melalui kualifikasi yang ketat dan panjang di usianya yang sudah mencapai 37 tahun.
Kembali lagi
Dua kali Olimpiade ternyata tidak cukup bagi Tony, namun untuk yang ketiga kalinya ia tidak ingin datang sebagai pemain.
"Mudah-mudahan saya bisa kembali lagi sebagai pelatih," katanya seperti yang dilansir Antara.
Untuk mewujudkan mimpinya itu, mantan pemain Pelatnas Indonesia tersebut sejak setahun yang lalu mendirikan akedemi bulu tangkis di Pomana, California.
Akademi yang dinamai Global Badminton Academy itu ia dirikan bersama istrinya yang juga mantan pebulu tangkis Indonesia Etty Tantri.
Tony mengatakan, saat ini akademi yang ia dirikan itu sudah menjaring 33 murid yang usianya berkisar antara 7-16 tahun. "Akademi ini membuka latihan empat kali seminggu, tetapi pesertanya terserah mau ambil berapa kali seminggu," kata pria kelahiran Surabaya 9 April 1975.
Karena ingin fokus pada akademi yang ia dirikan itu, Tony memutuskan untuk meninggalkan bulu tangkis internasional sebagai pemain dan hanya akan ambil bagian dalam turnamen-turnamen lokal seperti AS Terbuka.
"Olimpiade ini mungkin turnamen terakhir saya. Mungkin saya hanya akan bertanding di turnamen lokal seperti AS Terbuka," kata Tony yang di Indonesia pernah berpasangan dengan Candra Wijaya, Halim Haryanto bahkan dengan Rexy Mainaky.
"Kalau saya bertanding terus, siapa yang mengurus akademi," kata peraih penghargaan "US Olympic Committee Team of The Year 2005" karena menjadi pasangan peraih gelar juara dunia bulu tangkis pertama bagi AS. (ant/opw)
Meski tersingkir di babak penyisihan grup, Tony, yang tampil berpasangan dengan Howard Bach mengaku tidak menyesal mengikuti kompetisi olahraga terbesar di dunia yang diselenggarakan empat tahun sekali itu.
"Semula saya ragu untuk mengikuti Ollimpiade ini. Maklumlah sudah 12 tahun berselang, dan saya sudah tidak muda lagi," ujar Tony yang ditemui usai bertanding di Wembley Arena, London, Senin.
Tetapi untung saya akhirnya memutuskan berangkat, karena rasanya saya jadi mengingat kembali momen-momen itu," kata peraih medali emas ganda putra Olimpiade Sydney 2000 bersama Candra Wijaya itu.
Bedanya, saat itu ia masih membela Merah Putih, sekarang ia membela "The Star Spangled Banner", bendera Tanah Air keduanya setelah ia resmi menjadi warga negara Amerika sejak 6 September 2011.
Bedanya lagi, tahun 2000 ia menyumbang emas untuk Merah Putih, sementara kali ini, ia dan pasangannya Howard Bach, tersingkir di babak penyisihan grup setelah tidak meraih satu kemenangan pun.
"Dulu masih muda, sekarang sudah berumur, tidak bisa lagi bersaing dengan yang muda-muda," kata ayah dua putra itu seperti yang dilansir Antara.
Namun, kenangan dan kebanggaan tentang Olimpiade yang dilaluinya membuat ia bermimpi suatu saat nanti dapat kembali lagi.
Bersama Candra Wijaya, ia mempertahankan tradisi medali emas bagi Indonesia pada 2000 di Sydney. Ia juga meraih sejumlah gelar bergengsi di antaranya juara dunia dan All England, sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Amerika Serikat.
Ia memutuskan mengawali karir sebagai pelatih di Orange County Badminton Club di Orange County, California dan membantu mempopulerkan bulu tangkis di AS.
Ia bahkan masih sempat meraih gelar juara dunia bagi AS saat berpasangan dengan Bach pada 2005 saat kejuaraan tersebut digelar di Anaheim, AS.
Dan kini, setelah 12 tahun berlalu, ia kembali lagi ke arena bergengsi Olimpiade, yang pesertanya harus melalui kualifikasi yang ketat dan panjang di usianya yang sudah mencapai 37 tahun.
Kembali lagi
Dua kali Olimpiade ternyata tidak cukup bagi Tony, namun untuk yang ketiga kalinya ia tidak ingin datang sebagai pemain.
"Mudah-mudahan saya bisa kembali lagi sebagai pelatih," katanya seperti yang dilansir Antara.
Untuk mewujudkan mimpinya itu, mantan pemain Pelatnas Indonesia tersebut sejak setahun yang lalu mendirikan akedemi bulu tangkis di Pomana, California.
Akademi yang dinamai Global Badminton Academy itu ia dirikan bersama istrinya yang juga mantan pebulu tangkis Indonesia Etty Tantri.
Tony mengatakan, saat ini akademi yang ia dirikan itu sudah menjaring 33 murid yang usianya berkisar antara 7-16 tahun. "Akademi ini membuka latihan empat kali seminggu, tetapi pesertanya terserah mau ambil berapa kali seminggu," kata pria kelahiran Surabaya 9 April 1975.
Karena ingin fokus pada akademi yang ia dirikan itu, Tony memutuskan untuk meninggalkan bulu tangkis internasional sebagai pemain dan hanya akan ambil bagian dalam turnamen-turnamen lokal seperti AS Terbuka.
"Olimpiade ini mungkin turnamen terakhir saya. Mungkin saya hanya akan bertanding di turnamen lokal seperti AS Terbuka," kata Tony yang di Indonesia pernah berpasangan dengan Candra Wijaya, Halim Haryanto bahkan dengan Rexy Mainaky.
"Kalau saya bertanding terus, siapa yang mengurus akademi," kata peraih penghargaan "US Olympic Committee Team of The Year 2005" karena menjadi pasangan peraih gelar juara dunia bulu tangkis pertama bagi AS. (ant/opw)
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Italia 19 Oktober 2026 15:39Christian Pulisic Masih Minim Kontribusi di Tengah Kebangkitan AC Milan
-
Tim Nasional 30 September 2026 19:15Benarkah Taktik John Herdman di Timnas Indonesia Terlihat Monoton?
-
Tim Nasional 30 September 2026 17:16Prediksi Timnas Indonesia vs Bangladesh 1 Oktober 2026
LATEST UPDATE
-
Tim Nasional 31 Oktober 2026 16:36Legenda Thailand Dukung Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030
-
Liga Spanyol 31 Oktober 2026 15:21Live Streaming Barcelona vs Alaves: Jadwal dan Link Nonton
-
Liga Italia 31 Oktober 2026 15:16Live Streaming AC Milan vs Inter Milan: Jadwal dan Link Nonton
BERITA LAINNYA
-
bulutangkis 29 September 2026 16:21Leo/Daniel Sumbang Emas dari Bulu Tangkis Ganda Putra di Asian Games 2026
SOROT
-
Liputan6 31 Oktober 2026 00:27Prabowo Ingatkan Generasi Muda Jangan Malas Belajar Sejarah
-
Liputan6 30 Oktober 2026 23:40Naik Whoosh dari Cimahi, Prabowo Sapa Warga di Stasiun Halim
-
Liputan6 30 Oktober 2026 22:56Hadiah Istimewa Pramono untuk 10 Lurah Finalis Benyamin S Award
-
Liputan6 30 Oktober 2026 21:45Menteri Wihaji: Perbaiki Negara Dimulai dari Keluarga
-
Liputan6 30 Oktober 2026 20:48SMA Taruna Nusantara Kini Gratis, Prabowo Perluas Jadi 6 Kampus
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382303/original/097438400_1760576399-Chief_Executive_Officer__CEO__Danantara__Rosan_Perkasa_Roeslani_-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382832/original/057071200_1793012315-Prabowo_Subianto_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386841/original/019767400_1793378421-presidenri.go.id-30102026232744-6ae4c580aa9360.38613246-e1793377727603.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386830/original/012264700_1793375966-IMG_1430.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386812/original/083859800_1793371732-IMG_1252.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386790/original/076408100_1793368092-28f33103-de2e-4df7-828d-659c9aef0269.jpg)
