FOLLOW US:


Fabio Cannavaro - Legenda Abadi Si Tembok Berlin

13-11-2017 15:24
Fabio Cannavaro - Legenda Abadi Si Tembok Berlin
Fabio Cannavaro © Bola.net

Bola.net - Sepanjang sejarah sepakbola, baru ada 20 pemain yang menyandang status kapten tim pemenang Piala Dunia. Namun dari semua World Cup-winning captains itu, hanya ada satu yang pernah mengangkat trofi juara turnamen paling akbar sejagat bertepatan dengan penampilannya yang ke-100 di pentas internasional.

Dia adalah Fabio Cannavaro.

Cannavaro memimpin Italia jadi juara di Jerman 2006, turnamen di mana Azzurri membukukan lima clean sheet dan cuma kebobolan dua gol dari fase grup hingga final. Di balik pertahanan solid tersebut, Cannavaro adalah poros utamanya.

Ketangguhannya mengawal lini belakang Italia ketika menaklukkan dunia, di saat Calcio berada dalam periode paling gelap, membuat Cannavaro dijuluki Il Muro di Berlino - The Berlin Wall - Si Tembok Berlin.


Italia berangkat ke Jerman diiringi sorotan buruk dunia gara-gara skandal Calciopoli yang mengguncang persepakbolaan mereka. Prediksi-prediksi negatif dan pesimisme publik terhadap Italia sebelum turnamen, semua akhirnya patah.

Di tangan dingin pelatih Marcello Lippi, dengan Cannavaro sebagai kapten, Italia meraih gelar juara Piala Dunia mereka yang keempat.

Kemenangan 2-0 atas Ghana di laga pertama menjadi fondasi yang ideal. Keinginan untuk membungkam semua kritikan dan cacian rupanya membuat ikatan di skuat Italia terjalin makin kuat. Itu pula yang membuat mereka bisa finis sebagai juara Grup E, setelah imbang 1-1 lawan Amerika Serikat dan menang 2-0 atas Republik Ceko, yang waktu itu begitu diunggulkan karena diperkuat pemain-pemain top semacam Petr Cech, Tomas Rosicky hingga kapten Pavel Nedved.

Selama berpuluh-puluh tahun, kesuksesan Italia selalu dibangun dengan pertahanan yang kuat. Namun Lippi di turnamen ini juga memfokuskan pada skema serangan timnya. Francesco Totti diplot sebagai pendukung duet penyerang yang komposisinya kerap dirotasi, bergantian antara Luca Toni, Alberto Gilardino, Alessandro Del Piero, Filippo Inzaghi dan Vincenzo Iaquinta. Selain itu, dua full-back ofensif pada diri Gianluca Zambrotta dan Fabio Grosso pun memberi dimensi berbeda pada permainan Italia.

Skuat Italia di Piala Dunia 2006 (c) Wikipedia
Skuat Italia di Piala Dunia 2006 (c) Wikipedia

Berbahaya saat menyerang, Italia nyaris tak goyah sekalipun saat bertahan. Dikomandoi Cannavaro, barisan belakang Italia benar-benar sulit ditembus oleh lawan. Bahkan satu-satunya gol yang menggetarkan gawang mereka di fase grup pun tercipta gara-gara bunuh diri Cristian Zaccardo.

Meski begitu, sepak terjang Italia bukannya sama sekali tanpa gangguan. Cederanya Alessandro Nesta di laga terakhir fase grup, yang memaksa dia absen hingga turnamen selesai, adalah sebuah pukulan. Kehilangan salah satu partner terbaiknya membuat tanggung jawab Cannavaro untuk mengawal lini belakang pun jadi semakin besar. Namun dia memberikan semua yang dia miliki demi tidak mengecewakan negaranya.

Nesta cedera, Marco Materazzi pun jadi pilihan utama. Dengan bimbingan kaptennya, dia mampu menggantikan peran Nesta dan mereka berdua sukses mengawal jantung pertahanan Italia. Dua orang ini jugalah yang berperan krusial dalam laga terbesar mereka di Berlin, 9 Juli 2006.

Sebelum sampai ke situ, Italia terlebih dahulu melewati hadangan Australia lewat penalti Totti di menit-menit akhir babak 16 besar. Satu gol Zambrotta dan doppietta Toni kontra Ukraina lalu membawa Italia berhadapan dengan Jerman di semifinal.

Berstatus tuan rumah, juga mencetak 11 gol untuk sampai ke empat besar, membuat Jerman sangat diunggulkan. Die Mannschaft begitu difavoritkan lolos ke final. Mungkin tak ada yang mengira kalau dalam bentrokan di Dortmund itu Cannavaro akan menampilkan performa terhebat sepanjang karier profesionalnya.

Dari menit awal hingga habis waktu normal, lalu berlanjut ke extra time, Jerman mencoba melakukan segalanya untuk menjebol gawang Gianluigi Buffon. Namun gelombang serangan mereka hampir selalu musnah setiap kali berusaha melewati dinding yang dibentuk oleh Cannavaro dan rekan-rekannya. Lewat pun masih ada Buffon sebagai benteng terakhir di bawah mistar.

Demi demi detik berlalu, dan pasukan Jurgen Klinsman juga para pendukung Jerman di Signal Iduna Park dibuat frustrasi karena tak kunjung bisa mencetak gol. Masuk menit-menit akhir extra time, di mana adu penalti sudah membayang, justru Italia yang bisa memecah kebuntuan.

Diawali operan jenius Andrea Pirlo yang membelah lini pertahanan Jerman, Grosso melepas tembakan menyilang yang bersarang di tiang jauh tanpa dapat dijangkau oleh Jens Lehmann. Publik Jerman terdiam. Michael Ballack dan kawan-kawan menolak menyerah. Mereka mengerahkan segalanya untuk satu kesempatan terakhir demi langsung menyamakan kedudukan. Cannavaro tak mengizikannya.

Serangan terakhir Jerman dipatahkannya. Setelah memenangi perebutan bola udara melawan Per Mertesacker yang posturnya lebih tinggi, Cannavaro men-dispossess Lukas Podolski, lalu bola dikuasai Totti yang mengopernya pada Gilardino di barisan depan. Gilardino kemudian menggulirkan bola tanpa melihat ke jalur Del Piero yang berlari di belakangnya, dan gol kedua pun tercipta. Skor akhir 2-0, dan Italia melenggang ke final.



Di semifinal lainnya, 24 jam berselang, Prancis menyingkirkan Portugal. Italia pun mendapatkan kesempatan untuk membalas kekalahan dari Les Bleus di final EURO enam tahun sebelumnya. Ini juga kans bagi Italia untuk memulihkan nama baik mereka.

Final Piala Dunia merupakan panggung yang sangat didambakan oleh setiap pesepakbola. Bagi Cannavaro, ini juga laga spesial dan paling penting dalam kariernya. Di final ini, Cannavaro akan melakoni penampilan ke-100 untuk timnas Italia.

Meski begitu, dalam build-up menuju partai penentuan juara, sorotan utama media bukan tertuju kepadanya. Hampir semua headline didominasi oleh Zinedine Zidane. Pesepakbola paling berbakat di generasinya, kapten Prancis itu telah mengumumkan bahwa dia akan pensiun selepas turnamen di Jerman.

Olympiastadion, Berlin, 9 Juli 2006. Centenary cap Cannavaro, dan laga terakhir Zidane.


Hanya tujuh menit sejak kick-off, diawali vonis pelanggaran Materazzi, wasit memberi hadiah penalti untuk Prancis. Zidane menaklukkan Buffon dengan eksekusi penalti ala Panenka. Itu adalah gol kedua yang bersarang di gawang Italia sepanjang turnamen ini. Namun keunggulan Prancis tersebut tak bertahan lama. Di menit 20, Materazzi menebus kesalahannya dengan sundulan tajam untuk menyamakan kedudukan.

Tempo yang cepat di 20 menit awal itu kemudian berubah. Italia lebih fokus bermain aman, sedangkan semua serangan Prancis dinetralisir oleh Cannavaro dan kawan-kawan.

Solidnya pertahanan Italia mulai menunjukkan hasil di extra time. Franck Ribery serta Thierry Henry yang sudah kehabisan tenaga dan cukup dibuat frustrasi akhirnya digantikan oleh David Trezeguet serta Sylvain Wiltord. Zidane pun sepertinya sudah kehabisan akal dalam mengkreasi serangan.

Skor imbang tak juga berubah. Menuju penghabisan, laga pun berubah menjadi lebih condong ke arah adu ketangguhan mental. Saat itu, terjadilah peristiwa paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia. Terprovokasi oleh Materazzi, Zidane menanduk dada bek Italia tersebut dan wasit Horacio Elizondo pun tak punya pilihan selain mengeluarkan kartu merah.


Legenda Zidane telah berakhir. Namun 10 menit dan sembilan penalti kemudian di babak shoot-out, termasuk kegagalan penalti krusial Trezeguet (pemain yang golden goal-nya membuat Italia menangis di final EURO 2000), lahirlah sebuah legenda lain. Cannavaro memimpin rekan-rekannya menjadi juara, sesuatu yang sama sekali tak dikira oleh siapapun sebelum turnamen digelar.





Italia berangkat ke Jerman diiringi sorotan negatif gara-gara Calciopoli yang mengguncang persepakbolaannya, tapi pada akhirnya mereka pulang sebagai juara dunia. Sebuah prestasi yang luar biasa.

Untuk perannya yang begitu besar, Cannavaro pun diabadikan dengan nama julukan Il Muro di Berlino - The Berlin Wall - Si Tembok Berlin.



Cannavaro, berkat kepemimpinan dan ketangguhannya dalam mengawal lini belakang Italia, terpilih masuk All-Star Team bersama enam kompatriotnya. Mereka adalah Buffon, Totti, Gennaro Gattuso, Pirlo, Toni dan Zambrotta.

Cannavaro juga finis sebagai runner-up untuk penghargaan Golden Ball (Pemain Terbaik Piala Dunia), kalah tipis dari Zidane. Cannavaro mendapatkan 1977 poin, sedangkan Zidane 2012.

Untuk performanya sepanjang musim tersebut dan di Piala Dunia, Cannavaro kemudian juga menyabet penghargaan Ballon d'Or sekaligus FIFA World Player of the Year 2006. Dia adalah bek pertama yang pernah meraihnya.


Tiga turnamen kemudian, yakni EURO 2008, Piala Konfederasi 2009 dan Piala Dunia 2010, Cannavaro pensiun dari tim nasional. Kapten Azzurri setelah Paolo Maldini ini pensiun dengan 136 international caps dan dua gol atas namanya.

Waktu itu, Cannavaro memegang rekor sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk Italia. Rekor tersebut memang sudah dipatahkan oleh Buffon, kapten Italia yang sekarang, pada 11 Oktober 2013.

Namun kisah legendaris serta status Si Tembok Berlin sebagai salah satu bek dan kapten terbaik Italia akan selalu abadi. (bola/gia)