FOLLOW US:


Jakmania vs Viking, Rivalitas Yang Tak Pernah Padam

28-05-2012 16:21

Bola.net -


Kembali sepakbola Indonesia menggoreskan tinta hitam, hari Minggu 27 Mei 2012, sebuah kejadian memilukan mencoreng kompetisi bergengsi di Tanah Air Indonesia Super League (ISL).

Dalam laga yang mempertemukan Persija Jakarta dengan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, pertemuan kedua tim itu kembali memercikkan api dendam yang selama ini sudah tersimpan rapat.

Benar saja, meski belum bisa bisa dipastikan bahwa bentrokan tersebut terjadi antara Jakmania pendukung Persija dan Viking pendukung Persib, namun tiga nyawa melayang sia-sia.

Salah satu suporter tewas bernama Lazuardi (27). Dia diketahui seorang tukang ojek. Beberapa informasi menyebut, Lazuardi adalah suporter Persija. Sedangkan dua suporter tewas lain belum diketahui identitasnya.

Rivalitas suporter kedua tim bukan yang pertama. Sejak dulu, api dendam sudah membara jika kedua tim bertemu baik di Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Siliwangi atau di Stadion Si Jalak Harupat.

Tidak ada yang tahu persis awal mula perseteruan kedua suporter. Yang pasti, sejak tahun 2000 hingga sekarang jika Persija bertemu dengan Persib, tensi tinggi tidak hanya pada pemain, tapi juga pada suporternya.

Seperti pada tahun 2000-an ketika berlangsungnya Liga Indonesia VI, The Jak pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan saat menonton ke Stadion Siliwangi. Bobotoh beralasan, mereka pernah mendapat perlakuan sama saat Persib bertemu Persijatim di Stadion Lebak Bulus.

Saat itu, The Jak yang hendak pulang diserang Bobotoh. Anak Ibu Kota itu berang karena sudah tidak bisa masuk stadion malah mendapat perlakuan kasar. Mobil mereka dilempari. Kerusuhan bisa mereda setelah ratusan polisi diterjunkan ke lokasi.

Sejak saat itulah api dendam terus membara di kedua belah pihak. Puncaknya adalah di acara Kuis Siapa Berani di stasiun televisi swasta, Indosiar. Acara itu diprakarsai oleh Sigit Nugroho, Ketua Asosiasi Suporter Indonesia.

Acara itu merupakan edisi khusus Kuis Siapa Berani, edisi suporter sepakbola. Dalam acara ini menghadirkan Viking, The Jak, Pasoepati, Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Setelah melalui beberapa babak, Viking menjadi juara mengalahkan The Jak.

Kekalahan itu membuat The Jak berang. Ketua The Jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis.

Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar saat dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Pemukulan itu langsung memicu keributan yang lebih luas, meski akhirnya mampu diredam.

Rupanya, api benci belum sepenuhnya padam. Saat rombongan Viking berjumlah 60 orang hendak pulang dengan menggunakan mobil Mitsubishi milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian, dihadang mobil Carry abu-abu.

Mobil terperangkap gerombolan The Jak. Dua lolos, dan puluhan lainnya terperangkap. Informasi waktu itu menyebut banyak Bobotoh mengalami luka-luka karena bentrokan tersebut.

Sejak saat itulah perseteruan terus berlanjut jika kedua tim, Persija dan Persib bertemu. Rivalitas yang tak ada ujungnya.

Sebenarnya, tidak hanya rivalitas antara The Jak dan Viking saja yang kerap menimbulkan korban jiwa. Di Jawa Timur malah lebih besar lagi, dan melibatkan banyak klub, namun yang tetap abadi adalah perseteruan antara Bonekmania pendukung Persebaya Surabaya dan Aremania pendukung Arema Malang.

Perseteruan tersebut akhirnya memancing perseteruan yang lebih besar lagi yang melibatkan pendukung lain, LA Mania (Persela Lamongan), Deltamania (Deltras Sidoarjo), Sakera Mania (Persekabpas Pasuruan), Boromania (Persibo Bojonegoro) dan masih banyak lainnya.

Dan baru-baru ini yang terjadi adalah perseteruan antara pendukung Persisam Samarinda dan Persiba Balikpapan, pendukung kedua tim, Pusamania dan Balistik memang sering kali bersitegang. Namun, usaha untuk perdamaian telah dilakukan, bahkan suporter kedua tim juga saling mengunjungi ketika timnya bertandang.

Meski begitu, hal tersebut belum menjadi jaminan tak akan terjadi apa-apa, buktinya pemain Persiba, Iqbal Samad harus berlubang setelah menerima kiriman roket dari Pusamania yang tak rela timnya kalah dari tim Beruang Madu.

Hal ini tentu memiriskan kita para pecinta sepakbola Indonesia, pasalnya kondisi olahraga yang paling digemari ini tengah ruwet, dualisme kompetisi, klub hingga organisasi telah membuat sepakbola Indonesia seperti jalan di tempat.

Tak perlulah kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, yang kita perlukan adalah kedewasaan masing-masing pihak yang berseteru, pun demikian dengan para suporter, marilah kita ubah sedikit wajah sepakbola kita, rivalitas boleh panas, namun bukan berarti harus melakukan tindakan yang tak pantas.

Bersatulah sepakbola Indonesia, bersatulah suporter Indonesia, Bersatulah Indonesia!

(bola/end)