
Bola.net - - Neymar dianggap sebagai harapan terbesar bagi Brasil untuk memenangkan Piala Dunia kali ini. Tetapi sayangnya, ia tidak akan bisa tampil dalam sisa laga Piala Dunia 2014 akibat cedera yang dialami pada menit-menit terakhir di pertandingan melawan Kolombia.
Luiz Felipe Scolari memiliki tanggung jawab besar untuk menggantikan posisi Neymar di babak semifinal. Namun, situasi rumit seperti ini bukanlah masalah baru bagi para manajer Selecao dalam sejarah Piala Dunia.
Brasil telah melewati situasi sulit ketika bintang lapangannya harus tersingkir dari lapangan hijau akibat cedera. Sudah menjadi kebiasaan bagi Selecao untuk mengalami ketidakberuntungan seperti ini, dan hanya sekali Brasil berhasil menangani situasi genting tersebut.
Berikut ini adalah lima kejadian di saat Brasil harus kehilangan pemain bintangnya di saat krusial pada gelaran Piala Dunia.
Leonidas

Bisa dibilang, ia adalah bintang terbesar yang tentunya seorang top striker dari Brasil sejak Piala Dunia dimulai. Leonidas atau yang dikenal dengan sebutan "Black Diamond" tampil di Piala Dunia tahun 1934 Italia dan 1938 Perancis.
Leonidas menjadi top skor pada tahun 1938 dengan total 7 gol hanya dari empat pertandingan. Ademar Pimenta, pelatih Selecao saat itu menjadi pelatih Brasil pertama yang harus menangani cedera striker tepat sebelum pertandingan semifinal.
Brasil juga harus melakukan laga replay di babak perempat final. Ini berarti Selecao harus bermain tiga kali dalam jangka waktu enam hari, termasuk pertandingan semifinal melawan Italia. Dalam laga replay, Pimenta memasukkan beberapa pemain alternatif, tapi Leonidas tetap dimasukkan ke starting line-up.
Pimenta menunggu Leonidas untuk pulih, tetapi karena kondisinya tak kunjung membaik, Leonidas akhirnya tak dimainkan. Absennya Leonidas terlihat mempengaruhi mental pemain Brasil. Mereka tampak sangat kecewa hingga akhirnya kalah dengan skor akhir 2-1 di tangan Azzuri.
Banyak kabar miring yang menyertai keputusan Pimenta yang tidak Leonidas di pertandingan melawan Italia. Ada yang mengabarkan bahwa Leonidas menolak untuk tampil. Namun ada pula yang menyebutkan jika Mussolini sang diktator yang memaksa Leonidas absen sehingga Italia memiliki kesempatan untuk menang yang lebih besar.
Pele

Brasil akhirnya memenangkan tropi Piala Dunianya yang pertama pada tahun 1958. Kesuksesan Selecao pada waktu itu tak luput dari performa menakjubkan pemain berusia 17 tahun bernama Pele.
Empat tahun kemudian, Pele telah menjadi pemain besar yang dikenal oleh para pecinta sepak bola di seluruh dunia. Banyak yang mengandalkan pemain bernomor punggung 10 itu dan berharap supaya Pele bisa membawa kemenangan bagi Brasil sekali lagi, seperti yang telah ia lakukan sebelumnya di Swedia.
Sayangnya, bintang kebanggaan Santos tersebut tampil di Piala Dunia dengan kondisi yang belum 100% pulih dari cedera. Pele bermain di dua pertandingan babak grup Piala Dunia 1962 dan mencetak satu gol ketika Brasil kontra Meksico. Tapi di pertandingan melawan Cekoslowakia, ia mengalami cedera dan tidak bisa tampil lagi di turnamen tersebut.
Namun, Piala Dunia tahun 1962 ini adalah pertama kalinya Brasil tidak hancur meskipun ditinggal oleh pemain andalannya. Pelatih Selecao, Aymore Moreira bergantung dengan kemampuan Garrincha, gol dari Vava, dan untungnya, ia selalu tepat ketika memilih pemain pengganti, termasuk memasukkan Amarildo untuk menempati posisi Pele.
Pada akhirnya Brasil sekali lagi mengangkat tropi piala dunia dan membawa pulang gelar juara.
Pele dan Garrincha

Vicente Feola merupakan pelatih Timans Brasil yang harus menghadapi keadaan paling sulit saat memboyong tim asuhannya ke Piala Dunia 1966 daripada pelatih tim Brasil sebelum atau sesudahnya. Pada saat itu dua pemain besar dalam skuat Brasil sedang mengalami cedera.
Dengan dua pemain sepakbola terbaik sepanjang sejarah berada dalam satu tim pada saat itu, Selecao sama sekali tidak pernah mengalami kekalahan. Maka dengan kehadiran Pele dan Garrincha di dalam skuat yang bermain di Piala Dunia 1966, rasanya tidak mungkin bagi Brasil untuk dipukul mundur di awal turnamen.
Pele dan Garrincha diturunkan sebagai starter pada pertandingan pertama melawan Bulgaria. Canarinha memenangkan pertandingan tersebut dengan sejumlah gol yang dicetak oleh kedua pemain bintang tersebut. Namun kontak fisik oleh tim lawan yang terus ditujukan untuk Pele mengakibatkannya mengalami cedera.
Pada pertandingan selanjutnya, Garrincha tidak bisa memanggul tanggung jawab sebagai pemain kunci untuk timnya tanpa kehadiran Pele sebagai rekannya di atas lapangan, sebuah kebiasaan yang telah dilakoni mereka berdua di Piala Dunia sebelumnya.
Di samping itu, Garrincha juga mengalami cidera pada lututnya pada pertandingan kedua. Dua alasan tersebut akhirnya membuat Brazil harus menerima kekalahan mereka dan pulang di awal turnamen.
Pele berada di puncak karirnya sekitar tahun 1960an, dimana ia tengah menginjak usia produktif sebagai atlet. Namun saat Piala Dunia 1966 ia malah tidak berhasil menunjukkan performa terbaiknya.
Zico

Pemain Timnas Brasil pada Piala Dunia 1982 mampu menyuguhkan salah satu permainan terbaik sepanjang sejarah, namun sayangnya mereka tidak mampu memboyong tropi kemenangan. Tele Santana bergabung ke dalam tim sebagai pelatih untuk mempersiapkan balas dendam di Piala Dunia 1986.
Pemain kunci Timnas Brasil pada tahun 1980an adalah pemain yang terkenal dengan nomor punggung 10, Zico. Tetapi masalahnya saat itu adalah Zico masih menderita cedera bawaan yang ia peroleh dari kontak fisik dengan Marcio Nunes setahun sebelumnya.
Peran Zico berbeda dengan pemain lainnya di dalam artikel ini. Ia tetap mampu bermain hingga Brasil tersingkir, hanya saja Zico tak bisa bermain optimal akibat belum sepenuhnya pulih dari cedera.
Permainan Brazil pada Piala Dunia 1986 tidak memukau seperti pada turnamen sebelumnya. Zico hanya diturunkan sebagai pemain cadangan pada tiga pertandingan selama perjalanan Brazil di turnamen kala itu.
Keputusan Santana untuk memainkan Zico akhirnya berujung pada bencana bagi Brazil. Pada pertandingan terakhir babak perempat final melawan Perancis, Zico diturunkan dari bangku cadangan saat waktu pertandingan tinggal 20 menit.
Sesaat setelah ia diturunkan, Zico mendapatkan kesempatan emas mencetak gol kemenangan dari titik putih. Namun saat itu Zico gagal mengeksekusi dengan baik dan Brasil akhirnya tersingkir setelah kalah adu penalti dengan Prancis.
Ronaldo

Enam puluh tahun setelah Leonidas mengalami cedera pada Piala Dunia Perancis tahun 1938, sejarah berulang kembali. Pada saat itu, momen dramatis terjadi di babak final melawan tim tuan rumah.
Ronaldo merupakan striker kunci dan pemain berpengaruh Brazil pada Piala Dunia 1998. Ia bergabung dalam turnamen tersebut dengan gelar Ballon d’Or dan telah menjadi momok menakutkan para bek di kompetisi top Eropa (Belanda, Spanyol dan Italia).
Ronaldo saat itu layaknya pemain yang tak bisa dihentikan dengan kecepatan dribel dan skillnya di lapangan. Dan itu semua berhasil ditunjukkan Ronaldo dengan mencetak 4 gol hingga berhasil membawa Selecao menembus babak final.
Tetapi segalanya berubah saat di laga final. Di laga final melawan Prancis, Ronaldo layaknya hantu yang tak nampak kontribusinya sepanjang laga.
Banyak kontroversi beredar saat itu perihal kondisi aneh yang menimpa Ronaldo. Ada yang menyebutkan Ronaldo dipaksakan bermain meski sedang cedera, ada pula yang menyebutkan jika Ronaldo menerima suap untuk tampil buruk.
Tetapi apapun itu yang jelas skuat Brasil bermain buruk dengan buruknya permainan Ronaldo. Tanpa pemain terbaik mereka tampil seperti biasanya, Brasil dicukup Prancis dengan skor telak 3-0.
Advertisement
Berita Terkait
-
Tim Nasional 13 Agustus 2026 20:04India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia, Lebih Memilih Lawan Brasil
-
Piala Dunia 30 Juli 2026 08:22Carlo Ancelotti Ungkap Alasan Menolak Tawaran Melatih Timnas Italia
LATEST UPDATE
-
Liga Inggris 23 September 2026 00:05Mikel Arteta Sepakat Kontrak Baru Arsenal, Gajinya Naik Signifikan
-
Liga Spanyol 22 September 2026 23:30Kylian Mbappe Tak Malu Akui Ingin Menangkan Ballon d'Or
-
Liga Spanyol 22 September 2026 22:55Kylian Mbappe Ungkap Alasan Tolak Liverpool meski Didorong Sang Ibu
-
Liga Inggris 22 September 2026 22:34Antonio Conte Semakin Dekat Jadi Manajer Baru MU?
-
Liga Inggris 22 September 2026 22:20Leny Yoro Mulai Terancam di Manchester United, 3 Bek Baru Masuk Radar
-
Liga Inggris 22 September 2026 22:19Tersisih di Era Xabi Alonso, Wonderkid Chelsea Ini Menolak Menyerah!
BERITA LAINNYA
-
editorial 8 September 2026 20:58Bukan Cuma Ronaldo, 3 Pemain Ini Juga Pernah Membela Real Madrid dan Inter Milan
-
editorial 27 Agustus 2026 14:00Robert Sanchez Blunder Lagi, 5 Kiper Ini Bisa Jadi Solusi Chelsea
-
editorial 26 Agustus 2026 12:065 Pemain Manchester United yang Pernah Memakai Nomor 20 Sebelum Carlos Baleba
-
editorial 25 Agustus 2026 11:334 Klub yang Bisa Jadi Pelabuhan Nicolas Jackson, Aston Villa Paling Berpeluang?
-
editorial 12 Agustus 2026 12:515 Alternatif Bek Kiri Manchester United jika Gagal Mendapatkan Lewis Hall
SOROT
-
Liputan6 22 September 2026 23:10Penyelam Tembus KM Virgo, Banyak Korban Terjebak di Kamar
-
Liputan6 22 September 2026 22:27Kasus HGB Summarecon, KPK Usut Dugaan Aliran Dana Rp 106,3 M ke Nusron Wahid
-
Liputan6 22 September 2026 22:00Prabowo Minta Syarat Bahan Baku Tekstil Ditinjau, Barang Impor Ilegal Ditindak
-
Liputan6 22 September 2026 21:38Kebakaran Rumah di Kebayoran Lama, 128 Personel Dikerahkan
-
Liputan6 22 September 2026 21:30Prabowo Perintahkan IEU-CEPA Segera Tuntas, Perluas Akses Indonesia ke Pasar Eropa
-
Liputan6 22 September 2026 20:58APBD Perubahan DKI 2026 Disahkan Rp 79,56 T
MOST VIEWED
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...

















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354532/original/052667800_1790054121-IMG_4394.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/9349172/original/089475700_1789476613-0L5A5067.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5500485/original/038436600_1770867612-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355238/original/056743200_1790088138-WhatsApp_Image_2026-09-22_at_21.35.40.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295811/original/080484600_1783948743-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-13_Juli_20262.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322416/original/088977400_1786527857-IMG_3567.jpg)

