FOLLOW US:


Penggawa Timnas Indonesia Tak Bisa Rayakan Lebaran Bersama Keluarga

02-06-2019 17:02

 | Asad Arifin

Penggawa Timnas Indonesia Tak Bisa Rayakan Lebaran Bersama Keluarga
Aksi suporter Timnas Indonesia © Bola.com/Adreanus Titus

Bola.net - Pengorbanan para penggawa Timnas Indonesia untuk melakoni matchday pada Juni 2019 sangat luar biasa. Mereka bahkan dipastikan tidak bisa merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga.

Timnas Indonesia akan menggelar dua uji coba pada Juni 2019. Pada 11 Juni, mereka akan menghadapi Yordania. Kemudian, empat hari berselang, mereka bakal menjamu Timnas Vanuatu.

Asisten Pelatih Timnas Indonesia, Joko Susilo, mengaku bahwa ia dan para penggawa Timnas Indonesia lainnya tidak bisa merayakan Idul Fitri pada tahun ini bersama dengan keluarga. Pasalnya, pada hari raya ini, mereka sedang bersiap untuk melakoni laga uji coba resmi ke kandang Yordania.

"Sejak 31 Mei sampai 4 Juni, kami menggelar pemusatan latihan untuk menjalani dua laga uji coba. Tanggal 5 Juni, kami ada libur sehari. Setelahnya, pada 6 Juni, kami akan berangkat ke Yordania," kata Joko, pada Bola.net.

Menurut Joko, para pemain yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya akan mendapat kesempatan untuk pulang dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga mereka. Namun, yang berdomisili di luar area tersebut akan bersama-sama merayakan hari raya.

Joko mengaku bahwa ini merupakan kali pertamanya harus merayakan Idul Fitri tanpa keluarga. Namun, eks pelatih Arema FC mengaku tak mempermasalahkan hal tersebut.

"Ini adalah risiko. Namun, keluarga sudah mengerti. Semua harus ikhlas. Apalagi, ini juga demi negara. Nanti 16 Juni ketika sudah menjalankan tugas negara kan masih bisa merayakan Lebaran bersama keluarga," tuturnya.

Bagaimana Joko menjaga mental anak asuhnya ketika tidak bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga? Simak di bawah ini.

1 dari 1

Andalkan Pendekatan Psikologis

Joko Susilo mengaku memiliki sejumlah cara, yang bakal dipakai untuk bisa menjaga mental anak asuhnya pada dua laga tersebut. Salah satunya, menurut pelatih berusia 48 tahun, adalah pendekatan psikologis.

"Dengan pendekatan ini, metode yang akan diterapkan bagi tiap pemain tentunya berbeda. Kami akan lihat karakteristik tiap pemain untuk melihat metode yang paling tepa," kata Joko.