Arsenal Terlalu Main Aman? Gelar Premier League Bisa Menjauh!

Arsenal Terlalu Main Aman? Gelar Premier League Bisa Menjauh!
Selebrasi pemain Arsenal merayakan gol bunuh diri Lisandro Martinez saat melawan Manchester United, Minggu 25 Januari 2026. (c) AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Bola.net - Arsenal berada di jalur utama untuk menjuarai Premier League musim ini. Pendekatan mereka jauh lebih pragmatis dibanding dua musim sebelumnya, dengan fokus pada efisiensi, ketahanan, dan situasi bola mati.

Namun, di balik konsistensi hasil itu, muncul pertanyaan mendasar, apakah strategi minim risiko justru menyimpan bahaya tersendiri? Arsenal memang menang banyak, tetapi kreativitas dan kebebasan bermain tampak semakin dibatasi.

Kekalahan 2-3 dari Manchester United pekan lalu kembali memantik perdebatan lama. Bukan soal kualitas tim, melainkan soal sejauh mana kehati-hatian berlebihan bisa menggerus peluang Arsenal menyelesaikan perburuan gelar.

1 dari 4 halaman

Evolusi Arsenal: Dari Atraktif ke Pragmatis

Evolusi Arsenal: Dari Atraktif ke Pragmatis

Perebutan bola antara penyerang Arsenal, Viktor Gyoekeres dengan bek Chelsea, Benoit Badiashile di leg 1 semifinal Carabao Cup 2026. (c) AP Photo/Alastair Grant

Dalam dua musim awal perburuan gelar di bawah Mikel Arteta, Arsenal dikenal dengan sepak bola agresif dan ekspansif. Mereka menekan tinggi, memainkan tempo cepat, dan memberi ruang besar bagi kreativitas Martin Odegaard, Bukayo Saka, dan Gabriel Martinelli.

Musim ini, pendekatan itu berubah signifikan. Arsenal tampil lebih serius, lebih kaku, dan jauh lebih berhitung. Mereka tidak lagi mengejar dominasi estetika, melainkan kemenangan melalui detail-detail kecil: duel, struktur bertahan, dan bola mati.

Perubahan tersebut bukan tanpa preseden. Banyak tim juara Premier League sebelumnya mengandalkan konsistensi ketimbang mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Tim-tim seperti Chelsea era Jose Mourinho atau Manchester United di fase akhir Sir Alex Ferguson kerap menang dengan margin tipis, tetapi nyaris tanpa cela.

2 dari 4 halaman

Produktivitas Menurun, Efisiensi Meningkat

Produktivitas Menurun, Efisiensi Meningkat

Selebrasi Martin Zubimendi dalam laga Chelsea vs Arsenal di semifinal Carabao Cup 2025/2026, Kamis (15/1/2026). (c) AP Photo/Alastair Grant

Data mencerminkan perubahan itu dengan jelas. Arsenal mencetak 88 dan 91 gol saat finis runner-up pada 2022-23 dan 2023-24. Musim lalu, angka itu turun menjadi 69 gol liga, dan musim ini mereka kembali berada di jalur yang sama.

Angka tersebut jauh di bawah rata-rata tim juara dalam sembilan musim terakhir, yakni 92 gol. Arsenal juga sangat bergantung pada situasi bola mati, sebuah ciri yang semakin menonjol dalam permainan mereka.

Meski demikian, konteks liga penting diperhatikan. Musim ini merupakan salah satu musim dengan produktivitas gol terendah, dengan rata-rata 2,77 gol per pertandingan.

Hanya Manchester City yang mencetak lebih banyak gol daripada Arsenal, dan di Liga Champions, Arsenal justru menjadi tim paling produktif di fase liga.

3 dari 4 halaman

Kritik dan Persepsi Lama yang Kembali Muncul

Kekalahan dari United memicu kritik keras, termasuk komentar Paul Scholes yang menyebut Arsenal berpotensi menjadi “tim terburuk yang pernah menjuarai Premier League”.

Penilaian itu terdengar berlebihan, tetapi mencerminkan persepsi lama yang sulit lepas dari Arsenal.

Bayang-bayang masa lalu era Arsene Wenger masih sering digunakan sebagai pembanding. Arsenal kala itu indah dipandang, tetapi kerap rapuh di momen krusial.

Namun, Arsenal edisi 2026 justru kebalikan dari stereotip tersebut, permainan mereka keras, terstruktur, dan sulit dikalahkan.

Pertanyaan sesungguhnya bukan soal mentalitas atau kualitas. Arsenal telah membuktikan mereka mampu bertahan di bawah tekanan. Isu utamanya adalah apakah kehati-hatian ini telah melampaui batas optimal.

4 dari 4 halaman

Ketergantungan pada Bola Mati dan Konsekuensinya

Bola mati menjadi senjata utama Arsenal, bahkan terasa sebagai satu-satunya jalan keluar saat tertinggal. Gol penyama kedudukan Mikel Merino melawan United datang dari situasi sepak pojok.

Namun, ada konsekuensi tersembunyi. Arsenal menghabiskan waktu sangat lama dalam setiap situasi bola mati, bahkan ketika sedang mengejar gol. Rangkaian jeda panjang itu justru mematikan ritme permainan mereka sendiri.

Hal serupa terjadi pada lemparan ke dalam. Di awal laga, Arsenal cepat dan agresif. Di menit-menit akhir, tempo melambat, ancaman berkurang, dan tekanan terhadap lawan menurun drastis.

Tujuan utama Arsenal adalah menjuarai Premier League, dan mereka berada di posisi yang sangat menguntungkan untuk mencapainya. Namun, meminimalkan risiko tidak selalu berarti memaksimalkan peluang.

Arteta menyadari dilema ini. Ia menegaskan kepada para pemainnya untuk lebih menikmati permainan dan mengajak publik Emirates menikmati perjalanan ini.