Kisruh Chelsea: Liam Rosenior Cuma Korban, Masalah Sebenarnya Ada di Ruang Ganti dan Manajemen

Kisruh Chelsea: Liam Rosenior Cuma Korban, Masalah Sebenarnya Ada di Ruang Ganti dan Manajemen
Liam Rosenior usai laga Chelsea vs Arsenal di semifinal Leg 2 Piala Liga Inggris, 4 Februari 2026. (c) AP Photo/Ian Walton

Bola.net - Krisis yang melanda Chelsea kembali memakan korban. Kali ini, Liam Rosenior harus angkat kaki dari kursi manajer setelah rentetan hasil buruk yang mencapai titik nadir usai kekalahan telak dari Brighton, Rabu (22/3/2026) dini hari WIB.

Keputusan pemecatan ini memang terasa tak terhindarkan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, Rosenior bukanlah satu-satunya pihak yang patut disalahkan atas keterpurukan The Blues musim ini.

Rosenior ditunjuk pada Januari lalu menggantikan Enzo Maresca. Penunjukan tersebut sejak awal sudah menuai keraguan, mengingat minimnya pengalaman Rosenior di level tertinggi, apalagi di Premier League.

Meski demikian, ia sempat memberi harapan. Tujuh kemenangan dari sembilan laga awal, termasuk kemenangan penting di markas Napoli yang memastikan tiket ke babak 16 besar Liga Champions, menjadi bukti kapasitasnya sebagai pelatih muda potensial.

Namun, segalanya berubah drastis. Kekalahan agregat memalukan 2-8 dari PSG di Liga Champions menjadi titik balik kehancuran. Sejak saat itu, performa Chelsea anjlok tajam.

Pemain Jadi Sorotan: Kurang Disiplin dan Minim Respek

Pemain Jadi Sorotan: Kurang Disiplin dan Minim Respek

Liam Rosenior memberi instruksi kepada Wesley Fofana dalam laga Chelsea vs Manchester City di Premier League 2025/2026, Minggu (12/4/2026). (c) AP Photo/Ian Walton

Di tengah tekanan, Rosenior sempat melontarkan kritik keras terhadap para pemainnya, menyebut performa mereka “tidak dapat diterima”. Pernyataan itu kini terasa relevan.

Nama-nama senior seperti Enzo Fernandez dan Marc Cucurella justru memperkeruh situasi. Keduanya secara terbuka mengkritik keputusan klub, termasuk kepergian Maresca. Sikap ini mencerminkan kurangnya disiplin dan rasa hormat dalam skuad.

Tak hanya itu, Chelsea juga tercatat selalu kalah dalam duel jarak tempuh di seluruh 34 pertandingan liga musim ini—indikasi nyata lemahnya etos kerja tim.

Taktik Dipertanyakan, Tapi Bukan Akar Masalah

Taktik Dipertanyakan, Tapi Bukan Akar Masalah

Skuad Chelsea usai kekalahan melawan Everton di Premier League 2025/2026, Minggu (22/3/2026). (c) AP Photo/Jon Super

Secara taktik, Rosenior memang tak luput dari kritik. Pendekatan defensif saat menghadapi Arsenal di semifinal Carabao Cup menjadi salah satu contoh keputusan yang dipertanyakan.

Namun, masalah utama tampaknya lebih dalam dari sekadar strategi. Kebocoran informasi internal, seperti kabar kondisi Cole Palmer dan Joao Pedro yang bahkan disebut bocor dari pihak tak terduga, menunjukkan rapuhnya manajemen internal klub.

Manajemen Chelsea Tak Bisa Lepas Tangan

Manajemen Chelsea Tak Bisa Lepas Tangan

Ekspresi para pemain Chelsea dalam laga versus PSG di 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu (18/3/2026). (c) AP Photo/Kin Cheung

Di balik semua ini, sorotan besar seharusnya juga diarahkan kepada jajaran petinggi klub. Nama seperti Behdad Eghbali bersama direktur olahraga Paul Winstanley dan Laurence Stewart memegang peran krusial dalam menentukan arah klub.

Sejak diambil alih oleh BlueCo, Chelsea telah menghabiskan lebih dari £1,2 miliar untuk membangun skuad.

Namun ironisnya, investasi besar itu belum mampu menghasilkan stabilitas, bahkan justru menghadirkan lima pergantian manajer dalam waktu kurang dari empat tahun.

Chelsea di Persimpangan Jalan

Chelsea di Persimpangan Jalan

Pemain Chelsea bersiap melakukan kick off saat melawan Aston Villa, 5 Maret 2026 lalu. (c) AP Photo/Dave Shopland

Secara finansial, situasi ini bukan sekadar krisis olahraga. Dengan beban utang yang terus meningkat dan nilai aset klub yang terancam menurun, kegagalan di lapangan berpotensi berdampak serius dalam jangka panjang.

Kegagalan lolos ke Liga Champions bukan hanya soal prestise, tetapi juga menyangkut pemasukan vital klub.

Rosenior mungkin sudah pergi, tetapi persoalan Chelsea masih jauh dari selesai. Jika tidak segera dibenahi, klub asal London Barat itu berisiko semakin terpuruk, bukan hanya sebagai tim, tetapi juga sebagai institusi sepak bola modern.