Ranking Manajer Manchester United Pasca-Ferguson: Amorim Terburuk, Mourinho Tak Tergoyahkan

Ranking Manajer Manchester United Pasca-Ferguson: Amorim Terburuk, Mourinho Tak Tergoyahkan
Manajer Manchester United, Ruben Amorim (c) MUFC Official

Bola.net - Pekerjaan sebagai manajer Manchester United kerap disebut sebagai pekerjaan paling berat dan paling menantang di sepak bola modern. Sekarang, Ruben Amorim jadi korbannya.

Sejak Sir Alex Ferguson mundur pada 2013, tak satu pun penggantinya mampu mendekati stabilitas dan dominasi yang pernah ada.

Nama terbaru yang menambah daftar kegagalan adalah Ruben Amorim. Masa jabatannya justru dianggap membawa klub ke titik terendah baru dalam sejarah era Premier League.

Sejak kepergian Ferguson, ada tujuh manajer permanen yang mencoba peruntungan di Man United, semuanya bisa disebut gagal. Perbedaan tipis terletak pada masa bakti dan keberhasilan meraih trofi.

Nah yang menarik, Amorim yang baru dipecat justru berada di peringkat ke-7, alias peringkat terbawah dari manajer-manajer tersebut. Jose Mourinho hingga kini masih jadi yang terbaik di era pasca-ferguson, khususnya secara raihan trofi.

1 dari 7 halaman

7. Ruben Amorim, Titik Terendah Era Pasca-Ferguson

7. Ruben Amorim, Titik Terendah Era Pasca-Ferguson

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, seusai pertandingan Liga Inggris melawan West Ham di Old Trafford, Minggu (11/5/2025). (c) AP Photo/Ian Hodgson

Manchester United terjerembap ke level yang belum pernah disentuh sebelumnya selama era Ruben Amorim. Finis di posisi ke-15 Premier League musim 2024/25 menjadi catatan terburuk klub sejak Ferguson pensiun.

Dalam 14 bulan kepemimpinannya, performa tim nyaris tak menunjukkan tanda perbaikan. Hasil dan permainan United dinilai paling buruk dibanding semua era pasca-Ferguson.

Amorim juga menuai kritik karena keras kepala mempertahankan sistem yang tak berjalan. Ketika terbukti skuad tampil lebih efektif dengan pendekatan lain, ia tetap bertahan pada skemanya sendiri.

Sikap itu, ditambah cara Amorim melontarkan kritik kepada pemain dan pundit, justru mempercepat kejatuhannya.

2 dari 7 halaman

6. David Moyes, Beban Warisan Terlalu Berat

6. David Moyes, Beban Warisan Terlalu Berat

Gelandang Everton, James Garner berdiskusi dengan David Moyes sebelum laga (c) Everton Official

David Moyes datang sebagai pilihan pribadi Ferguson. Ia bahkan diberi kontrak enam tahun, sinyal kepercayaan penuh dari manajemen klub.

Namun, Moyes mewarisi skuad juara Premier League dan mengubahnya menjadi tim yang tak lagi relevan dalam perebutan Liga Champions. Dalam waktu hanya 10 bulan, United terlempar ke posisi ketujuh klasemen.

Menggantikan Ferguson memang nyaris mustahil. Meski begitu, kegagalan Moyes terasa mencolok karena sumber daya yang ia miliki seharusnya cukup untuk bersaing di papan atas.

3 dari 7 halaman

5. Ralf Rangnick, Ide Besar di Tengah Kekacauan

Ralf Rangnick direkrut sebagai solusi darurat setelah Ole Gunnar Solskjaer dipecat. Ia datang dengan reputasi besar sebagai arsitek gegenpressing modern.

Namun, masa jabatannya justru mencerminkan kekacauan struktural klub. Rangnick hanya menjadi manajer sementara sebelum direncanakan naik ke peran konsultan, rencana yang akhirnya tak pernah terwujud.

Man United finis keenam, terpaut 13 poin dari zona Liga Champions. Di luar lapangan, pernyataan Rangnick soal perlunya “operasi jantung terbuka” di klub justru dianggap terlalu jujur dan tak disukai hierarki internal.

4 dari 7 halaman

4. Erik ten Hag, Trofi yang Menutupi Masalah

Erik ten Hag sebenarnya hampir dipecat setelah mencatat finis terburuk United di era Premier League. Namun, kemenangan mengejutkan di final FA Cup atas Manchester City menyelamatkan posisinya.

Musim panas berikutnya diwarnai optimisme, tetapi performa tim justru stagnan, bahkan memburuk. Kekalahan kandang dari Tottenham menjadi simbol hilangnya kepercayaan publik Old Trafford.

Secara statistik, dua trofi dalam dua musim terlihat solid. Namun, permainan di lapangan dan inkonsistensi hasil membuat pemecatan Ten Hag terasa tak terhindarkan.

5 dari 7 halaman

3. Louis van Gaal, Trofi Pertama Pasca-Ferguson

Louis van Gaal dikenang sebagai sosok penuh warna. Aksinya di pinggir lapangan dan konferensi pers kerap menjadi hiburan tersendiri di Premier League.

Sayangnya, gaya mainnya jauh dari kata menarik. Pendekatan penguasaan bola yang terlalu hati-hati membuat United sering tampil tumpul.

Meski demikian, Van Gaal mempersembahkan FA Cup, trofi pertama United setelah era Ferguson. Ironisnya, ia dipecat hanya beberapa saat setelah mengangkat piala di Wembley.

6 dari 7 halaman

2. Ole Gunnar Solskjaer, Era Paling Menyenangkan

Ole Gunnar Solskjaer mungkin tak sempurna, tetapi di bawah asuhannya United memainkan sepak bola terbaik pasca-Ferguson. Serangan balik cepat dan comeback dramatis menjadi ciri khas.

Ia memaksimalkan potensi Bruno Fernandes dan menghidupkan kembali performa sejumlah pemain. Periode 20 menit “menggila” dalam banyak laga menjadi tontonan khas United era ini.

Solskjaer akhirnya tumbang pada November 2021, tetapi banyak pendukung masih mengingat masanya sebagai periode paling menyenangkan setelah kepergian Ferguson.

7 dari 7 halaman

1. Jose Mourinho, Standar Emas Pasca-Ferguson

Jose Mourinho berdiri paling atas dalam daftar ini. Ia adalah manajer tersukses Manchester United sejak 2013, terlepas dari gaya bermain yang sering menuai kritik.

Musim pertamanya menghadirkan Carabao Cup dan Liga Europa, memastikan tiket Liga Champions. Musim berikutnya, finis kedua di liga disebut Mourinho sebagai pencapaian terbesar dalam kariernya.

Hubungan Mourinho dengan klub akhirnya memburuk di musim ketiga. Namun, warisannya jelas, bahwa tidak ada manajer pasca-Ferguson yang mampu menyamai efektivitas dan konsistensi hasil yang ia berikan di Old Trafford.