FOLLOW US:


SEA Games 2019 Jadi Bukti Keseriusan IOC Menyambut e-Sports

13-12-2018 14:00
SEA Games 2019 Jadi Bukti Keseriusan IOC Menyambut e-Sports
eSports. © bola.net

Bola.net - Dua hari lagi, pada 15 Desember, lima gim lain akan diumumkan sebagai pendamping Mobile Legends dalam SEA Games 2019. Mengutip foxsportsasia.com, pengumuman ini sudah dinantikan banyak negara ASEAN yang akan bersaing meraih medali pada ajang yang dilangsungkan di Filipina tahun depan.

Beberapa tahun lalu, kemungkinan menerapkan e-Sports sebagai ajang bermedali dalam olimpiade tampak mustahil dan tak terbayangkan. Namun, SEA Games memberanikan diri sebagai ajang pertama yang menyelenggarakan e-Sports sebagai salah satu cabor bermedali.

E-Sports di olimpiade terbukti tak mustahil tetapi di saat yang sama juga sama sekali tidak mudah.

Sejak pertama kali International Olympic Committee (IOC) membahas usulan e-Sports sebagai salah satu cabor di olimpiade, masalahnya hanya satu: sudahkah gim yang diperlombakan tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang dipertahankan IOC selama bertahun-tahun.

Hal ini berarti segala penampakan soal kekerasan atau perjudian - yang justru jadi andalan e-Sports dan gim lain - tidak diperbolehkan dalam ajang IOC. Masalah yang rumit, jalan keluarnya tidak mudah.

Prinsip IOC itu juga terancam goyah. Sebab, di saat yang sama e-Sports terus berkembang, merajalela. IOC menghadapi dilema berat, menunda perkenalan e-Sports juga bukan hal bagus untuk citra mereka.

Awal bulan ini, IOC melangsungkan pertemuan eksekutif di Tokyo. Presiden IOC, Thomas Bach mengatakan bahwa perubahan teknologi yang begitu cepat mungkin akan jadi halangan e-Sports dipertandingkan pada Olimpiade 2024 Paris mendatang.

Menurut Bach, berdasarkan keterangan para ahli yang berdiskusi dengan IOC, e-Sports akan tampak jauh berbeda dalam lima tahun ke depan. Menurutnya, teknologi Virtual Reality (VR) dan augmented reality akan menggeser popularitas gim e-Sports saat ini.

Sejak perkembangannya, e-Sports berkembang berlandaskan gim-gim seperti Dota 2, League of Legends, dan CS:GO. Gim-gim lain juga berpartisipasi tetapi tiga gim itulah yang paling populer.

Lebih lanjut, masalah utama lainnya adalah keraguan soal kualitas gim-gim tersebut. Kalimat 'e-Sports' dinilai kurang jelas, sebab bagaimanapun gim tetaplah gim. Generasi muda mungkin mau menerima e-Sports tetapi mereka yang lebih senior masih meragukannya. Bagi kebanyakan atlet senior, Dota, LoL dan CS:GO tetaplah gim, bukan olahraga.

Di sinilah teknologi VR dan augmented reality jadi jawaban. Gim-gim yang beredar saat ini lebih banyak membuat pengguna duduk di depan komputer atau di depan ponsel pintar untuk bermain, tak banyak aktivitas fisik. Dengan teknologi VR, pemain akan lebih aktif menggunakan kemampuan fisiknya, sebagaimana olahraga yang seharusnya.

Semua keraguan ini setidaknya akan terjawab pada 15 Desember nanti begitu komite mengumumkan gim-gim e-Sports yang akan dipertandingkan pada SEA Games 2019. Ajang ini berada di bawah naungan IOC, oleh sebab itu dapat dipastikan IOC ikut campur tangan dalam membuat keputusan.

Akankah ada kompromi? Akankah gim e-Sports yang dipertandingkan sesuai dengan perkembangan saat ini? Atau justru gim simulasi yang lebih diutamakan? Dapatkah e-Sports jadi dirinya sendiri begitu memasuki panggung olimpiade? Atau e-Sports justru berubah untuk menyesuaikan dengan ketentuan olimpiade?

Apa pun hasilnya, e-Sports pada SEA Games 2019 akan jadi gerbang pembuka yang berpengaruh langsung pada perkembangan e-Sports di masa mendatang.