
Bola.net - Spanyol mungkin sudah jengah dengan ungkapan ikonik Jose Mourinho, "Mereka bisa bawa pulang bolanya, saya yang angkut pialanya." Mourinho menyindir tim yang selalu unggul penguasaan bola tetapi hasil akhirnya kalah.
Karena itu Spanyol sudah bertransformasi. Mereka tidak lagi sekadar tim yang menikmati dominasi penguasaan bola, tetapi juga tim yang memiliki obsesi menang. Filosofi tiki-taka tidak ditinggalkan, melainkan dipadukan dengan mentalitas kompetitif yang pernah ditanamkan Luis Aragones melalui semboyan sederhana, Menang, menang, dan menang.
Benih itu mulai tumbuh saat Spanyol menjuarai Euro 2008, lalu berkembang menjadi budaya yang mengantarkan La Roja memenangi tiga dari lima edisi Euro sejak 2008, serta tiga kali final UEFA Nations League dengan satu gelar juara.
Namun, dominasi di Eropa belum sepenuhnya tercermin di Piala Dunia. Setelah menjadi juara pada 2010, Spanyol justru tersingkir di fase grup pada 2014, lalu dua kali terhenti di babak 16 besar lewat adu penalti pada 2018 dan 2022.
Luis de la Fuente perlahan menghapus beban itu. Kemenangan 2-1 atas Belgia yang membawa Spanyol ke semifinal Piala Dunia 2026 menjadi simbol bahwa transformasi tersebut telah lengkap. Tim ini tetap nyaman menguasai bola, tetapi kini jauh lebih fleksibel, lebih pragmatis ketika diperlukan, dan jauh lebih efektif dalam memanfaatkan peluang.
Mereka tidak lagi bermain indah demi mendapat pujian, melainkan bermain sesuai kebutuhan pertandingan demi memastikan kemenangan. Itulah yang membedakan Spanyol generasi sekarang dengan beberapa pendahulunya.
Hasilnya terlihat jelas dalam angka. Sejak De la Fuente mengambil alih timnas pada 2023, Spanyol hanya sekali kalah dalam laga resmi. Mereka datang ke semifinal Piala Dunia dengan catatan 37 pertandingan resmi tanpa kekalahan, rekor terbaik sepanjang sejarah tim nasional Spanyol.
Statistik itu bukan sekadar deretan angka, melainkan bukti DNA Spanyol telah berubah. Mereka bukan lagi sekadar tim yang identik dengan penguasaan bola. Kini, mereka telah menjadi mesin pemenang yang mampu menggabungkan keindahan permainan dengan naluri membunuh lawan.
Ihwal serupa Spanyol terjadi pada Prancis. Pelatih Prancis Didier Deschamps terkenal dengan predikat Tukang Angkut Air (le porteur de eau) yang disematkan Eric Cantona. Julukan ini mengacu pekerjaan kotor yang tugas utamanya merebut kembali bola dan mengopernya kepada pemain kreatif dan menyerang. Label ini berbanding lurus dengan filosofi kepelatihan Deschamps.
Selama ini Deschamps dikenal dengan pragmatisme. Main gaya apapun terserah yang penting menang. Tak cuma Deschamps, Prancis kental result oriented-nya (penghamba hasil). Dalam tiga dari empat keberhasilan Prancis di turnamen besar, striker utama mereka justru gagal mencetak satu gol pun.
Olivier Giroud tak mampu membobol gawang lawan sepanjang Piala Dunia 2018. Stephane Guivarch, meski sebelumnya mencetak 47 gol dalam semusim bersama Auxerre, juga mengakhiri Piala Dunia 1998 tanpa satu gol pun. Bernard Lacombe juga gagal mencetak gol saat Prancis juara Euro 1984.
Tahun ini Prancis datang dengan napas beda. Tim 'Pangeran Biru' dikenal sangat menyerang. Prancis menjadi tim paling banyak mencetak gol sebelum semifinal digelar (14 gol), disusul Argentina (12) dan Inggris, Spanyol (10).
Meski menjadi tim paling produktif di Piala Dunia 2026, sumber gol Prancis ternyata terkonsentrasi. Semuanya dari penyerang. Dari total 14 gol yang mereka cetak, Kylian Mbappe menyumbang delapan gol, Ousmane Dembele menambahkan lima gol sementara Michael Olise satu gol. Statistik ini bukti Les Bleus amat sangat ofensif.
Mazhab yang Sudah Bergeser
Apa yang bisa dipelajari? Spanyol dan Prancis membuktikan sepak bola modern telah bergeser. Identitas tim bukan lagi soal mempertahankan satu filosofi permainan, melainkan kemampuan beradaptasi demi kemenangan.
Spanyol di bawah Luis de la Fuente tidak lagi menjadikan penguasaan bola sebagai tujuan tetapi alat menciptakan kemenangan. Prancis yang sering dicap terlalu pragmatis kini tampil jauh lebih agresif, berani menekan tinggi, dan menciptakan lebih banyak peluang. Dua tim itu bergerak menuju titik yang sama yaitu fleksibilitas.
Boleh dikatakan, era pelatih yang terikat pada satu ideologi telah berakhir. Ketika hampir semua tim mampu membangun serangan dari belakang, melakukan pressing, atau menguasai bola, keunggulan bukan lagi datang dari satu filosofi tertentu. Pembedanya adalah siapa yang paling cepat beradaptasi terhadap lawan dan situasi pertandingan.
Itulah perbedaan terbesar dengan sepak bola sebelum tahun 2000-an. Dahulu sebuah tim bisa dikenali dari mazhab-nya: Italia dengan catenaccio, Inggris dengan kick and rush, Belanda dengan total football, Spanyol dengan tiki-taka. Filosofi menjadi identitas yang relatif tetap. Kini batas-batas itu semakin kabur.
Ada beberapa penyebab utama perubahan tersebut. Pertama, data dan analisis video. Setiap kelemahan lawan dapat dipelajari dalam hitungan jam. Jika hanya mengandalkan satu pola permainan, lawan akan segera menemukan cara mengatasinya.
Kedua, kualitas pemain yang semakin komplet. Bek kini harus mampu membangun serangan, penyerang harus ikut menekan, gelandang harus bisa bertahan sekaligus menyerang. Peran pemain menjadi jauh lebih cair.
Ketiga, jadwal pertandingan yang padat membuat pelatih tidak mungkin mempertahankan satu intensitas dan satu pendekatan sepanjang musim. Adaptasi menjadi kebutuhan. Filosofi tetap ada sebagai identitas, tetapi penerapannya harus berubah mengikuti karakter lawan, momentum pertandingan, hingga kondisi pemain.
Karena itu, transformasi Spanyol dan Prancis bukanlah perubahan jati diri. Keduanya menunjukkan evolusi sepak bola modern. Keduanya mengejar hal yang sama, efisiensi untuk menang.
Lalu siapa akan menang sungguh sulit ditebak. Super komputer Opta lebih mengunggulkan Prancis. Tapi sepak bola bukan aritmatika atau algoritma. Banyak pula utak atik gatuk. Konon sejak 1982 selalu ada pemain Inter Milan dan Bayern Munich di final. Jika Spanyol menyingkirkan Prancis dan lolos ke final, mereka akan memutus tradisi yang telah bertahan lebih dari empat dekade.
Seiring transformasi dan adaptasi, apakah superstisi ini pun akan berakhir? Wallahualam. Sepak bola selalu punya cara mengejutkan kita.
*Opini ini ditulis oleh Titis Widyatmoko, Pemimpin Redaksi Liputan6.com dan Bola.net. Isi kolom opini adalah pendapat pribadi dan bukan pandangan institusi.
Advertisement
Berita Terkait
-
Liga Spanyol 27 Oktober 2026 07:06Kylian Mbappe Runner-up Ballon d'Or 2026, Yamal Peringkat 3, Rodri 4, Messi 5
-
Piala Dunia 27 Oktober 2026 06:28Harry Kane Raih Ballon d'Or 2026, Akhiri Penantian 25 Tahun Inggris
-
Piala Dunia 27 Oktober 2026 06:21Harry Kane Raih Gerd Muller Trophy 2026 dengan 73 Gol
-
Piala Dunia 27 Oktober 2026 05:55Spanyol Sapu Bersih Yashin Trophy 2026 Putra dan Putri
LATEST UPDATE
-
Liga Italia 30 Oktober 2026 22:58Pemain Juventus Muak, Luciano Spalletti Dianggap Terlalu Banyak Bicara!
-
Liga Inggris 30 Oktober 2026 22:57Dominic Calvert-Lewin Diincar MU, Leeds: Maaf, Gak Dulu!
-
Piala Dunia 30 Oktober 2026 22:20Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
-
Liga Inggris 30 Oktober 2026 22:07Youri Tielemans Lega Michael Carrick Selamat dari Pemecatan di MU
BERITA LAINNYA
-
piala dunia 30 Oktober 2026 22:20Hitung Mundur Menuju 1000 Gol Cristiano Ronaldo, Kurang Berapa?
-
piala dunia 27 Oktober 2026 08:15Rekap Ballon d'Or 2026: Daftar Lengkap Para Pemenang Penghargaan
-
piala dunia 27 Oktober 2026 06:41Alexia Putellas Raih Ballon d'Or Feminin 2026, Sempurnakan Comeback
-
piala dunia 27 Oktober 2026 06:28Harry Kane Raih Ballon d'Or 2026, Akhiri Penantian 25 Tahun Inggris
-
piala dunia 27 Oktober 2026 06:21Harry Kane Raih Gerd Muller Trophy 2026 dengan 73 Gol
-
piala dunia 27 Oktober 2026 05:55Spanyol Sapu Bersih Yashin Trophy 2026 Putra dan Putri
SOROT
-
Liputan6 31 Oktober 2026 00:27Prabowo Ingatkan Generasi Muda Jangan Malas Belajar Sejarah
-
Liputan6 30 Oktober 2026 23:40Naik Whoosh dari Cimahi, Prabowo Sapa Warga di Stasiun Halim
-
Liputan6 30 Oktober 2026 22:56Hadiah Istimewa Pramono untuk 10 Lurah Finalis Benyamin S Award
-
Liputan6 30 Oktober 2026 21:45Menteri Wihaji: Perbaiki Negara Dimulai dari Keluarga
-
Liputan6 30 Oktober 2026 20:48SMA Taruna Nusantara Kini Gratis, Prabowo Perluas Jadi 6 Kampus
-
Liputan6 30 Oktober 2026 19:47KPK Geledah Bea Cukai Semarang, Sita Dokumen dan Uang
HIGHLIGHT
Chelsea Rebut Morgan Rogers, Ini 5 Pemain yang Bis...
Gagal Dapat Michael Olise? Ini 5 Galactico Alterna...
7 Pemain Manchester United yang Wajib Bersinar di ...
8 Pemain Arsenal yang Berpotensi Dilepas untuk Dan...
5 Alternatif Lebih Murah dari Bradley Barcola yang...
Gagal Dapat Vinicius Junior? Ini 5 Winger yang Bis...
7 Transfer yang Bisa Dituntaskan Manchester United...
















:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382832/original/057071200_1793012315-Prabowo_Subianto_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386841/original/019767400_1793378421-presidenri.go.id-30102026232744-6ae4c580aa9360.38613246-e1793377727603.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386830/original/012264700_1793375966-IMG_1430.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386812/original/083859800_1793371732-IMG_1252.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386790/original/076408100_1793368092-28f33103-de2e-4df7-828d-659c9aef0269.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4065432/original/001612500_1656325087-WhatsApp_Image_2022-06-27_at_5.08.03_PM.jpeg)
