Lebih Berat dari Final Piala Dunia 2006, Gattuso Sampai Butuh Obat Tidur Jelang Italia vs Irlandia Utara

Lebih Berat dari Final Piala Dunia 2006, Gattuso Sampai Butuh Obat Tidur Jelang Italia vs Irlandia Utara
Pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso usai laga melawan Israel di Kualifikasi Piala Dunia 2026. (c) AP Photo/Luca Bruno

Bola.net - Gennaro Gattuso tidak sedang bercanda saat menyebut matanya bisa terbuka lebar bak burung hantu hingga pukul 4 pagi. Di pundaknya, ada beban jutaan rakyat Italia yang tidak ingin melihat negaranya absen untuk ketiga kalinya secara beruntun di Piala Dunia.

Laga semifinal playoff Piala Dunia 2026 melawan Irlandia Utara di Bergamo, Jumat (27/3/2026) dini hari WIB, bukan sekadar pertandingan biasa bagi Gattuso. Ini adalah pertaruhan harga diri bagi seorang pria yang pernah mengangkat trofi paling bergengsi di bumi pada 2006 silam.

Status sebagai legenda tidak lantas membuat tidurnya nyenyak. Justru sebaliknya, tekanan yang ia rasakan sebagai pelatih terasa jauh lebih menyesakkan dibanding saat ia masih menjadi gelandang pengangkut air.

Gattuso Sampai Butuh Pil Tidur

Gattuso Sampai Butuh Pil Tidur

Pelatih Timnas Italia, Gennaro Gattuso dalam konferensi pers jelang playoff Piala Dunia 2026 melawan Irlandia Utara, 25 Maret 2026. (c) Lapresse via AP

Gattuso mengakui bahwa dirinya harus berkompromi dengan bantuan medis demi bisa beristirahat di malam hari. Ia yang dahulu alergi terhadap obat-obatan, kini mulai melunak demi menjaga kewarasannya di tengah tekanan hebat.

Ketegangan ini bukan tanpa alasan, mengingat Italia punya rekor buruk di babak play-off pada edisi 2018 dan 2022. Namun, Gattuso menolak untuk terus meratapi kegagalan pendahulunya atau sekadar menyalahkan nasib buruk di masa lalu.

"Beruntung, dokter kami memberi saya beberapa butir pil," seloroh Gattuso dengan nada getir.

"Dulu saya alergi terhadap hal-hal seperti ini saat masih bermain, tapi sekarang saya lebih bisa menerima bantuan. Kalau tidak, pukul 04.30 pagi mata saya akan terbuka lebar seperti kelelawar!" tambahnya menggambarkan kegelisahannya.

Restu Marcello Lippi dan Beban Sejarah

Di tengah badai kecemasan, Gattuso mendapatkan suntikan moral dari mentornya, Marcello Lippi, yang menyebutnya sebagai murid terbaik. Pujian itu bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan atas kapasitas Gattuso dalam menangani situasi krisis.

Gattuso mengaku sangat tersentuh dengan kata-kata mantan pelatihnya tersebut. Hubungan emosional yang kuat di antara keduanya menjadi pegangan Gattuso saat ia merasa dunia sedang mengawasinya dengan sinis.

Mendengar pujian tersebut, sisi emosional Gattuso tak terbendung. Ia mengaku sering berkomunikasi dengan mantan pelatihnya itu untuk bertukar pikiran mengenai tanggung jawab besar yang kini ia pikul.

"Membaca hal itu membuat saya emosional, saya tidak bisa membantahnya," tutur Gattuso dengan tulus.

"Saya sering berbicara dengannya, kami berbagi begitu banyak hal bersama, dan saya berterima kasih padanya," ungkapnya.

Ia berterima kasih atas dukungan Lippi, namun ia sadar bahwa warisan juara 2006 tidak bisa ia tularkan begitu saja lewat cerita. Para pemain masa kini harus merasakan sendiri api perjuangan itu di lapangan hijau.

Laga Terpenting Sepanjang Karier

Banyak yang membandingkan tensi pertandingan ini dengan final Piala Dunia 2006, namun Gattuso memiliki pandangan yang sangat personal. Baginya, tanggung jawab memimpin tim nasional di ambang kegagalan ketiga adalah beban yang tak tertandingi.

Mantan gelandang AC Milan itu menegaskan bahwa meski ia pernah mengangkat trofi Piala Dunia 2006, tanggung jawab yang ia rasakan saat ini berada di level yang sama sekali berbeda.

Baginya, kejayaan masa lalu hanyalah sejarah yang tidak bisa membantu timnya saat ini jika mereka tidak siap menderita di lapangan.

"Ya, pertandingan ini adalah yang terpenting dalam karier saya. Mengingat besarnya tanggung jawab yang saya rasakan di pundak saya, ini tidak tertandingi," tegas Gattuso menutup sesi tanya jawab.