Mengapa Portugal Belum Mendapatkan Versi Terbaik Bruno Fernandes di Piala Dunia 2026?

Mengapa Portugal Belum Mendapatkan Versi Terbaik Bruno Fernandes di Piala Dunia 2026?
Bruno Fernandes berduel dengan Mateo Kovacic di laga Portugal vs Kroasia, 32 Besar Piala Dunia 2026, Jumat (3/7/2026) (c) AP Photo/Mike Stewart

Bola.net - Bruno Fernandes belum mampu menampilkan performa terbaiknya bersama Portugal di Piala Dunia 2026. Padahal, gelandang berusia 31 tahun itu datang ke turnamen dengan status sebagai salah satu playmaker paling produktif di Eropa.

Kapten Manchester United kembali menjadi starter saat Portugal mengalahkan Kroasia 2-1 pada babak 32 besar. Namun, ia hanya bermain sekitar satu jam sebelum ditarik keluar oleh pelatih Roberto Martinez.

Penampilan tersebut melanjutkan tren yang kurang memuaskan bagi Fernandes sepanjang turnamen. Di saat sejumlah bintang seperti Kylian Mbappe, Harry Kane, Erling Haaland, Lionel Messi, Ousmane Dembele, dan Vinicius Junior tampil menonjol, kontribusi Fernandes justru belum sesuai ekspektasi.

Kondisi itu cukup kontras dengan performanya di level klub. Bersama Manchester United pada musim 2025/2026, Fernandes mencatatkan sejarah dengan membukukan 21 assist dalam 35 pertandingan Premier League, melampaui rekor yang sebelumnya dipegang Kevin De Bruyne dan Thierry Henry.

Statistik Bruno Fernandes Turun Drastis

Statistik Bruno Fernandes Turun Drastis

Pemain Portugal Bruno Fernandes saat laga persahabatan internasional antara Portugal vs Nigeria di Leiria, Portugal, Rabu, 10 Juni 2026 (c) AP Photo/Ana Brigida

Produktivitas Fernandes di Piala Dunia 2026 jauh dari catatan impresifnya bersama Manchester United. Hingga empat pertandingan, ia baru mencetak satu assist, yakni saat membantu Cristiano Ronaldo mencetak gol ke gawang Uzbekistan.

Meski demikian, Roberto Martinez tetap memberikan kepercayaan penuh kepada pemain andalannya tersebut. Pelatih Portugal itu menilai kualitas Fernandes tidak berubah meski kontribusinya belum maksimal.

"Dalam tiga tahun saya berada di tim nasional, konsistensi Fernandes luar biasa. Semua yang dia lakukan di sepertiga akhir lapangan selalu berada di level tertinggi," kata pelatih Portugal, Roberto Martinez, kepada The Athletic.

Namun, angka-angka menunjukkan cerita berbeda. Dalam dua pertandingan terakhir melawan Kolombia dan Kroasia, Fernandes hanya mencatatkan masing-masing 56 dan 46 sentuhan bola, jauh di bawah rata-rata sentuhannya bersama Manchester United pada akhir musim lalu.

Peran Baru Membuat Bruno Kehilangan Pengaruh

Peran Baru Membuat Bruno Kehilangan Pengaruh

Kapten Manchester United, Bruno Fernandes (c) AP Photo/Dave Thompson

Penurunan jumlah sentuhan bukan satu-satunya masalah. Berdasarkan heatmaps pertandingan WhoScored, Fernandes kini lebih sering turun ke area yang lebih dalam untuk menjemput bola dibandingkan beroperasi di sekitar kotak penalti lawan.

Saat membela Manchester United, sebagian besar sentuhan Fernandes terjadi di wilayah sepertiga akhir lapangan. Dari area itulah ia mampu menciptakan peluang maupun memberikan umpan penentu bagi rekan-rekannya.

Di Portugal, situasinya berbeda. Meski Roberto Martinez tidak memainkan Fernandes sebagai gelandang bertahan, ia tetap harus bergerak lebih ke tengah dan lebih dalam agar lebih sering terlibat dalam permainan.

Perubahan peran tersebut membuat pengaruh Fernandes di area berbahaya berkurang. Akibatnya, kreativitas Portugal juga tidak banyak mengalir melalui kaki sang playmaker seperti yang terjadi di Manchester United.

Skema Portugal Lebih Banyak Bertumpu di Sisi Kiri

Skema Portugal Lebih Banyak Bertumpu di Sisi Kiri

Timnas Portugal merayakan gol Cristiano Ronaldo ke gawang Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat (3/7/2026) (c) AP Photo/Stephanie Scarbrough

Faktor lain yang memengaruhi performa Fernandes adalah arah serangan Portugal. Dalam laga melawan Kroasia, mayoritas permainan dibangun melalui sisi kiri lapangan.

Rafael Leao menjadi pemain yang paling sering menerima bola dengan mencatatkan 72 sentuhan. Strategi itu terbukti efektif karena Leao mengirim umpan silang yang kemudian dikonversi Goncalo Ramos menjadi gol kemenangan Portugal.

Namun, pola permainan tersebut membuat Fernandes kehilangan area favoritnya. Ia beberapa kali harus bergeser ke sisi kiri untuk mencari ruang dan mengikuti alur permainan tim.

Berbeda dengan saat membela Manchester United, Fernandes biasanya lebih nyaman menerima bola di sisi kanan sebelum melepaskan umpan-umpan kreatif. Perbedaan peran dan distribusi serangan itulah yang menjadi salah satu alasan Portugal belum mampu mengeluarkan versi terbaik sang maestro di Piala Dunia 2026.

Sumber: MEN Sport