Cedera, Tsonga Tetap Hadiri Final Piala Davis

Cedera, Tsonga Tetap Hadiri Final Piala Davis
Jo-Wilfried Tsonga (c)ap
- Jo-Wilfried Tsonga tidak dapat tampil dalam putaran final Piala Davis akhir minggu ini karena cedera, tetapi ia tetap ikut ke Beograd untuk memberi semangat kepada timnya melawan Serbia.

Tim Guy Forget itu tidak diperkuat pemain urutan 10 besar dunia, termasuk Tsonga, finalis Australia Terbuka 2008. Ia mengalami cedera pada kakinya.

Tetapi Tsonga akan berada di Beograd untuk memberi dukungan semangat pada timnya yang akan melawan Novak Djokovic dan teman-temannya.

Prancis memiliki sejarah bagus dalam mengalahkan tim kuat Serbia. Pada 2001, mereka memenangi Piala Davis di Australia, ketika bermain di atas lapangan rumput, saat Nicolas Escude mengalahkan pemain dunia nomor satu Lleyton Hewitt.

Tahun ini, Prancis mengalahkan juara Spanyol pada laga sistem gugur di perempat final dan Argentina di semi final, keduanya dikalahkan telak 5-0.

Escude, sekarang menjadi kapten tim puteri di Piala Fed, menyatakan semangat tim tetap menjadi salah satu kunci kemenangan di lapangan.

"Bagi saya, kekuatan pikiran dan semangat tetap menjadi kunci dalam pertandingan," katanya kepada Reuters, dengan menambahkan, kendati Tsonga cedera, tetapi bakat perorangan dalam tim mereka amat mengesankan.

Gael Monfils sebagai peringkat ke-12 dalam jajaran ATP sedangkan Michael Llodra menempati karir tertinggi di urutan ke-23 setelah mengalahkan Djokovic di Paris Masters awal bulan ini.

"Di Beograd, kami akan memainkan peran kami dan kelihatannya situasinya akan berbeda," kata Djokovic di Paris.

Menurut Henri Leconte, juara Piala Davis 1991, semangat tim Prancis akan membuat mereka tampil lebih percaya diri.

Leconte mengatakan kepada Reuters, "Kunci permainan adalah Jo (Tsonga). Ia amat penting dalam tim. Ia adalah salah satu pemain yang dibutuhkan untuk mendapatkan piala itu,"

"Semangat tim paling penting. Kendati ia cedera, tetapi Jo akan ada di dekat timnya dari awal hingga akhir permainan," kata direktur Teknik tim Prancis, Patrice Hagelauer. (ant/cax)

Berita Terkait