Afrika Selatan Menghapus Semua Keraguan

Afrika Selatan Menghapus Semua Keraguan
Upacara penutupan piala dunia untuk mengakhiri serangkaian kesuksesan Afsel menyelenggarakan Piala Dunia (c)Afp

Bola.net - - Sejak terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 dalam pemilihan enam tahun lalu, banyak yang meragukan Afrika Selatan akan mampu menggelar pesta akbar tersebut. Afrika Selatan dan juga benua Afrika dianggap belum saatnya menjadi tuan rumah karena sumber daya yang mereka miliki masih berada jauh di banding dengan benua lain. Terpilihnya Afrika Selatan juga lebih banyak disebabkan oleh faktor giliran setelah FIFA menilai bahwa sungguh tidak adil jika hanya benua Afrika yang belum menjadi tuan rumah sejak Piala Dunia digelar pertama kali pada 1930 di Uruguay. Persaingan Afrika Selatan pun menjadi semakin ringan, karena menjadi pesaing berat hanyalah Mesir dan Maroko. Namun secara perlahan tapi pasti, keraguan tersebut mulai berkurang dan menjadi hilang sama sekali setelah pertandingan puncak antara Spanyol dan Belanda berlangsung dengan damai tanpa keributan sama sekali. Di hadapan 84.000 penonton yang memadati Stadion Soccer City, Johannesburg, Spanyol menciptakan sejarah sebagai juara untuk pertama kali setelah mengalahkan Belanda 1-0. Usai pertandingan final tersebut, puluhan pendukung Belanda maupun Spanyol terlihat saling sapa saat meninggalkan stadion, tanpa ada rasa permusuhan atau saling ejek. Udara dingin yang terasa menusuk tulang, membuat para pendukung Spanyol ingin cepat-cepat pulang, sehingga tidak terjadi pesta kemenangan yang berlebihan. Menyaksikan para pendukung sepak bola selama berlangsungnya Piala Dunia 2010, terlihat bahwa mereka datang ke stadion benar-benar untuk menikmati pertandingan, bukan untuk berbuat onar. Banyaknya keluarga yang datang ke stadion dengan membawa anak-anak, sudah cukup menjadi bukti bahwa menyaksikan pertandingan sepak bola Piala Dunia adalah sebuah acara rekreasi yang jauh dari ancaman keributan antar pendukung fanatik. Di antara beberapa penonton, terutama pendukung Belanda, memang ada yang terlihat berjalan terhuyung-hujung karena kebanyakan minum bir, tapi tingkah mereka tidak agresif dan tidak mengganggu orang lain. Dari segi penyelenggaraan pun, panitia lokal telah memperlihatkan pekerjaan yang sangat serius, sehingga seluruh pertandingan bisa terlaksana sesuai dengan rencana tanpa ada gangguan berarti. Melalui Piala Dunia, Afrika Selatan seolah membuat terbuka mata dunia bahwa negara yang baru 16 tahun lalu terbebas dari kekangan sistem pemerintah apartheid, ternyata mampu melaksanakan pesta besar yang selama ini hanya didominasi oleh negara maju. Piala Dunia telah menyatukan seluruh masyarakat yang dulu terpecah-pecah berdasarkan warna kulit itu. Warga berkulit putih, berwarna maupun hitam sama-sama memberikan dukungan demi kelancaran pesta empat tahunan itu. Pecahkan Rekor
Piala Dunia 2010 yang berlangsung sejak 11 Juni itu telah memecahkan rekor dalam jumlah penjualan tiket, yaitu sebanyak tiga juta tiket, melampaui yang diraih di Piala Dunia 2006 Jerman. Secara ekonomi, Piala Dunia juga ikut mengubah wajah pariwisata negara berpenduduk 49 juta tersebut. Apa yang dilakukan oleh Departemen Pariwisata dalam beberapa tahun terakhir, ternyata bisa dicapai hanya dalam beberapa minggu saja selama berlangsungnya Piala Dunia. Selama berlangsungnya Piala Dunia, kegiatan pariwisata telah memberikan pemasukan sekitar 10 miliar rand (Rp12 triliun), hampir sepuluh kali lipat dari jumlah yang telah dikeluarkan untuk biaya pemasaran selama empat tahun. Meski secara keseluruhan pemerintah telah mengeluarkan dana 40 miliar untuk menggelar event sebulan penuh itu, jumlah tersebut dianggap tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan secara sosial. "Sekarang Afrika Selatan sudah mendapatkan reputasi di dunia. Dunia pun akan melirik Afrika Selatan untuk melakukan investasi," kata Danny Jordaan, Ketua Panitia Piala Dunia 2010. Melihat sukses yang dicapai, Jordaan, mengakui bahwa ia banyak bertemu dengan orang asing yang kemudian meminta maaf kepadanya karena sebelumnya sempat meragukan kemampuan Afrika Selatan. Selama sebulan penuh, perhatian seluruh dunia tertuju ke Afrika Selatan dan itu adalah promosi yang tidak ternilai harganya untuk membangkitkan harga diri bangsa. "Piala Dunia telah mengubah persepsi orang asing terhadap Afrika Selatan. Ini sebagai bukti bahwa bagaimana pentingnya mengelola sebuah event olahraga," kata Jordaan. Sambutan riuh yang terdengar saat tokoh besar Nelson Mandela tampil di lapangan untuk menyapa penonton di Stadion Soccer City, menjadi puncak dari seluruh penghargaan terhadap apa yang telah dilakukan oleh tuan rumah. "Madiba.... Madiba....," teriak puluhan ribu penonton saat Mandela berkeliling naik kereta terbuka, untuk menyapa seluruh penonton, maupun sekitar 500 juta masyarakat dunia di lebih dari 200 negara yang menyaksikan melalui layar televisi.

Berita Terkait