Amish, Blatter dan Teknologi

Amish, Blatter dan Teknologi
Sepp Blatter, Presiden FIFA (c) AP

Bola.net - - oleh: Dendy Gandakusumah* Di sebuah sudut Amerika Serikat, hanya beberapa mil dari pusat keramaian, tersebutlah sebuah komunitas unik. Komunitas ini biasa disebut masyarakat . Masyarakat ini unik karena penolakan mereka terhadap penggunaan teknologi. Masyarakat Amish menganggap bahwa penggunaan teknologi merupakan hal yang tabu. Berdasar beberapa dogma agama, mereka menganggap bahwa teknologi, bakal membawa kesengsaraan bagi hidup karena mengurangi cita rasa kemanusiaan mereka. Sepp Blatter tentu saja bukan termasuk golongan Amish. Seperti diketahui, Blatter adalah puncak pimpinan FIFA, otoritas tertinggi sepak bola di muka bumi. Namun, untuk urusan anti teknologi, Blatter dan rekan-rekannya di FIFA tak kalah dengan Kaum Amish. Blatter selalu beralasan bahwa penggunaan teknologi bakal membuat sepak bola kehilangan esensinya. Menurut Blatter, ada beberapa alasan yang membuat teknologi harus dijauhkan dari lapangan hijau. Dengan masuknya teknologi, dikhawatirkan bahwa sepak bola akan menjadi sebuah hal yang canggih dan rumit. Terlalu canggih sehingga sepak bola bakal menjadi olahraga eksklusif, yang tidak lagi bisa dimainkan oleh semua golongan. Padahal, sepak bola telah terlanjur dikenal sebagai olah raga universal. Selain itu, masuknya teknologi dikhawatirkan Blatter bakal menghilangkan unsur manusia di dalam sebuah laga di lapangan hijau. Peran wasit akan digantikan oleh penggunaan teknologi.


Irlandia, yang sebelumnya menolak penggunaan teknologi, berbalik sikap usai harus gagal ke Babak Final Piala Dunia akibat handsball Thierry Henry
Yang tak kalah pentingnya, menurut Blatter, penerapan teknologi modern ini bakal mengeruk dana yang tidak bisa dikatakan kecil. Hal ini bakal membuat sepak bola menjadi hal yang sangat mahal dan tidak bisa lagi dimainkan oleh kalangan kelas bawah. Semua argumen Blatter tadi sekilas memang terlihat sangat tepat. Sepak bola memang harus menjadi milik semua orang. Sesuai dengan yang tertulis di statuta FIFA, sepak bola harus bisa dimainkan oleh semua orang tanpa ada batasan tertentu. Namun, beberapa kejadian yang mengiringi rangkaian Piala Dunia, nampaknya bakal mengubah arah angin. Dimulai sejak handsball Thierry Henry yang meloloskan Prancis ke babak final Piala Dunia, tuntutan agar penggunaan teknologi video merebak. Puncaknya, beberapa hari lalu, Inggris harus meradang karena gol Frank Lampard ke gawang Jerman tidak disahkan oleh wasit Jorge Larrionda. Menurut Larrionda, yang telah berkonsultasi dengan linesman, Mauricio Espinosa, bola hasil tendangan Lampard tidak terlihat melewati garis gawang. Alhasil, mental skuad Three Lions langsung drop dan mereka harus menyerah dihancurkan Der Panzer dengan skor 4-2.

Gol Lampard yang tidak disahkan ini seakan menjadi jeweran bagi FA untuk mengubah sikapnya dan berbalik mendukung penggunaan teknologi
Kontan, kejadian tersebut memicu kemarahan masyarakat Inggris. Bahkan, para petinggi FA, yang kerap kali bersikap konservatif dan mendukung langkah FIFA menjauhkan teknologi dari lapangan hijau, berubah halauan dan meminta agar penggunaan teknologi di lapangan hijau dimulai. Dari sini bisa dilihat bahwa dengan semakin tingginya intensitas pertandingan, wasit sudah tidak bisa lagi mengandalkan pengamatan dan insting mereka semata. Penggunaan teknologi adalah sebuah keniscayaan. Memang, penggunaan teknologi, bagi beberapa orang, bisa mengancam unsur humanisme di dalam pertandingan. Namun, bagi beberapa yang lain, penggunaan teknologi bisa hanya sebagai alat bantu bagi para eksekutor untuk menentukan sebuah keputusan yang tepat.FIFA, sebagai regulator tertinggi hanya tinggal mengatur teknis operasional penggunaan teknologi ini. Mengenai klaim hal ini bakal menjadi barang yang mahal, memang tak bisa dipungkiri. Namun, siapa bisa memungkiri juga bahwa selama ini, kekuatan uang adalah nafas utama sepak bola di dunia. Berdalih profesionalisme, FIFA membiarkan klub-klub besar mencaplok seluruh bakat terbaik, dengan iming-iming uang yang jumlahnya makin gila-gilaan. Apabila FIFA membiarkan klub-klub besar jor-joran nilai pemain tanpa sedikitpun berargumen mengenai prinsip keadilan dalam hal keuangan, mengapa kini mereka sok merakyat dengan menyatakan bahwa sepak bola harus menjadi barang yang murah? Toh, teknologi juga selalu bisa membuktikan bahwa dalam perkembangannya mereka bakal berevolusi dan beradaptasi dengan kondisi pasar. Tentu kita ingat bahwa banyak hasil teknologi yang awalnya mahal, menjadi barang yang murah dan bisa dinikmati banyak orang. Beruntunglah kita, FIFA sedikit membuka telinga, dan semoga juga hati. Mereka berencana meninjau kembali penggunaan teknologi di lapangan hijau, dalam pertemuan mereka yang direncanakan bakal berlangsung akhir Juli nanti. Sebagai pecinta sepak bola, kita hanya bisa berharap agar FIFA tidak menghalangi upaya apapun untuk membuat sepak bola lebih baik. Di era teknologi ini, sungguh konyol apabila kita tidak berusaha beradaptasi dengannya. Sebab, saya yakin, apabila sepak bola tidak berubah sesuai perkembangan keadaan maka pada suatu titik akan ada kejenuhan yang justru berbahaya bagi sepak bola itu sendiri. Kondisi ini persis kata Charles Darwin, "Only the fittest will survive." *pecinta sepak bola yang awam teknologi

Berita Terkait