
Bola.net - Oleh : Zulfikar Aleksandri
Pendukung Manchester United masih belum bisa melupakan kekalahan timnya dari Leeds United, penghuni League One (kasta ketiga sepak bola Inggris) pada babak ketiga Piala FA di Old Trafford. Padahal saat itu pasukan Sir Alex Ferguson turun dengan barisan pemain inti berlabel timnas, seperti Wayne Rooney, Dimitar Berbatov, Wes Brown, serta memasukkan Ryan Giggs, Antonio Valencia, dan Michael Owen.
Pertemuan Manchester United kontra Leeds United seperti membuka kembali rivalitas lama kedua tim di era 60 dan 70an yang dikenal dengan nama "War of Roses". Manchester United yang saat itu dilatih Matt Busby dengan pemain-pemain seperti Bobby Charlton, Denis Law, dan George Best, menghadapi pasukan Don Revie di Leeds United yakni Jack Charlton, Billy Bremner, dan Norman Hunter.
Tiga dekade setelah era Sir Matt Busby dan Don Revie, serta hampir dua dekade ketika Eric Cantona menjadi "King Eric" di Old Trafford setelah pindah dari Leeds United, rivalitas itu kembali tersaji di Piala FA, saat gol tunggal Jermaine Beckford memutus rekor Manchester United yang tak pernah kalah dari tim divisi di bawahnya pada babak ketiga Piala FA.
Itu merupakan gol ke-20 Jermaine Beckford musim ini, sekaligus mencatat nama Beckford sebagai pemain Leeds pertama yang mencetak gol tunggal kemenangan di Old Trafford setelah Brian Flyn pada tahun 1981.

War of Roses: Jonny Howson dan Jermaine Beckford berseteru dengan Wes Brown dan Darron Gibson pada laga panas di Old Trafford
Siapakah Jermaine Beckford?
Jermaine Beckford. Nama yang masih asing bagi penggemar sepak bola di Indonesia, namun tidak bagi fans Leeds United yang sedang membangun kembali asa sebagai salah satu klub besar di Inggris setelah satu dekade jatuh dalam degradasi dan keterpurukan.
Beckford lahir di Ealing, London Barat, dan bergabung dengan klub junior Walpole Wanderers. Bakat Beckford kecil dicium Chelsea yang merekrutnya pada tahun 2003 namun kemudian gagal menembus tim utama dan dilepas ke Wealdstone, klub amatir yang bermain di kompetisi Isthmian Premier League atau tujuh tingkat di bawah Liga Primer Inggris.
Di Wealdstone, Beckford menunjukkan ketajamannya dengan mencetak 35 gol dalam 40 pertandingan. Beckford yang saat itu berstatus pemain amatir mulai dilirik banyak klub mulai Sunderland, Charlton Athletic, Southampton, Watford, Bristol City, Swindon Town, bahkan klub yang pernah membuangnya, Chelsea.
Leeds beruntung mendapatkan Beckford dengan transfer sangat murah, yakni hanya 45 ribu pounds pada pertengahan musim 2005/06.

Tersubur di kompetisi amatir: Beckford saat masih berkostum Wealdstone
Leeds yang mengincar satu tiket promosi ke Premiership memiliki deretan striker berpengalaman seperti Robbie Blake, Richard Cresswell, dan Rob Hulse. Karena kesempatan main yang terbatas, Beckford dipinjamkan ke tim League One, Scunthorpe United.
Bersama Scunny, ketajaman Beckford di level profesional mulai muncul dengan mencetak delapan gol yang membawa Scunthorpe menjuarai League One dan promosi ke Championship.
Ketajaman Beckford membuat Scunthorpe ingin mempertahankannya dengan kontrak permanen di Glanford Park, namun ditolak oleh manajer Leeds saat itu, Dennis Wise, yang ingin mempertajam lini depan dengan kehadiran kembali Beckford ke Elland Road.
Pundi-pundi gol Beckford untuk Leeds bermula saat mencetak gol pertamanya ketika menang 4-1 atas Southend United di musim 2007/08. Sejak saat itu gol demi gol terus lahir dari kaki dan kepala Beckford, yang menjadikannya sebagai salah satu striker tersubur di Football League.
Ketika Leeds terdegradasi ke League One dan mendapat pengurangan 15 poin, Beckford tampil luar biasa dengan selalu mencetak gol dalam lima pertandingan awal, sekaligus memangkas pengurangan poin bagi Leeds yang akhirnya mampu mencapai final playoff promosi ke Championship sebelum dikalahkan rival dekat mereka, Doncaster Rovers.

Pembunuh Old Trafford: Beckford saat mencetak gol tunggal kemenangan Leeds ke gawang Tomasz Kuszczak
Meski menjadi salah satu pemain tersubur Leeds sejak terdegradasi dari Premiership enam tahun lalu, Beckford juga dianggap sering membuang peluang, seperti ketika gagal mengeksekusi penalti ke gawang Millwall pada playoff musim lalu dan menghadapi Liverpool awal musim ini di Piala Carling. Beckfod juga kerap dianggap hanya mampu mencetak gol ke gawang tim-tim gurem. Namun golnya di Old Trafford menjadi jawaban atas semua kritik tersebut.
Beckford juga memiliki sisi negatif terkait dengan sikap temperamen yang kadang sulit dikendalikan. Seperti saat enggan menjabat tangan manajer Simon Grayson ketika diganti pada saat Leeds menang 1-0 atas Southampton awal Desember lalu.
Sikap Beckford tersebut membuat pendukung Leeds mulai meragukan masa depan Beckford di Elland Road karena kontrak pemain berusia 26 tahun itu habis akhir musim ini dan belum ada persetujuan kontrak baru.
Awal Januari 2009, Newcastle United datang dengan tawaran 1,5 juta pounds yang ditolak Leeds. Menurut Simon Grayson, ada tiga skenario untuk Beckford, yakni memberinya perpanjangan kontrak, mempertahankannya hingga akhir musim, atau menjual top skor Leeds dalam tiga tahun terakhir itu.
"Kami tahu akan banyak pembicaraan mengenai Beckford ketika transfer window telah dibuka. Tetapi striker adalah komoditas yang berharga dan kami tidak akan melepasnya dengan harga murah," tegas Grayson.
"Ada tiga skenario untuknya, yakni menandatangani kontrak baru, meninggalkan klub di akhir musim, atau kami melepasnya dengan harga yang menurut kami sulit untuk ditolak," lanjut pelatih yang mengawali karir sebagai pemain juga di Leeds United itu.
Grayson bahkan tidak bisa menjamin Beckford masih berkostum Leeds ketika menghadapi wakil Premiership lainnya, Tottenham Hotspur, di babak keempat Piala FA, akhir Januari ini.

Belum pasti tetap bersama Leeds: Selebrasi Beckford usai mencetak gol ke gawang Manchester United di Old Trafford
Ketika mencetak gol penentu kemenangan atas Manchester United di Old Trafford, Beckford tercatat masih tiga musim sebagai pemain profesional. Namun oleh Goal.com, Jermaine Beckford terpilih sebagai World Player Of The Week pada pekan pertama awal tahun 2010.
Satu dekade terakhir adalah periode terburuk dalam sejarah Leeds United. Blunder manajemen dalam kebijakan transfer pemain, krisis finansial, pengurangan poin, serta dua kali degradasi membuat semifinalis Piala UEFA dan Liga Champions itu terpuruk ke Championship dan kini di League One.
"Mereka (Leeds United) tampaknya akan promosi musim ini dan tidak lama lagi kembali ke Premiership. Saya selalu menantikan atmosfer pertandingan melawan Leeds," kata manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson.
Manajer Leeds, Simon Grayson mengatakan, "Kami tahu Leeds adalah tim besar di Inggris melihat prestasi kami di era 60, 70, dan 90an. Satu-satunya cara kami kembali ke Premiership adalah dengan promosi ke Championship. Itu adalah target utama kami musim ini,"
Ya, kemenangan pertama Leeds United di Old Trafford selama 29 tahun serta peluang besar untuk promosi ke Championship musim ini membuka harapan Leeds kasta tertinggi sepak bola Inggris. Dengan atau tanpa Beckford, sang pembunuh Old Trafford. (bola/zul)