Letusan Gunung Islandia Ancam Kompetisi Eropa

Letusan Gunung Islandia Ancam Kompetisi Eropa
Letusan gunung di kawasan gletser Eyjafjallajokull (c)reuters

Bola.net - - Oleh: Chandra Wijaya Gunung di kawasan gletser Eyjafjallajokull, Islandia, Rabu (14/4) telah meletus mengeluarkan kepulan asap yang disertai hujan abu yang langsung menjadi teror di sebagian langit Eropa. Akibatnya sejumlah negara di Eropa bagian Barat langsung membatalkan banyak jadwal penerbangan komersil untuk sementara waktu. Gunung itu telah meletus dua kali dalam sebulan terakhir. Dalam sehari saja, asap hasil letusan itu telah mengarah ke timur Islandia, menuju Inggris dan dataran Eropa lainnya. Asap dan hujan abu dari letusan gunung ini membatasi pandangan pilot dan juga bisa merusak mesin pesawat selama penerbangan. Hal ini tentunya sangat membahayakan keselamatan para penumpang dan awak pesawat. Menimbang bahaya tersebut, pihak berwenang Inggris, Prancis, Belgia, dan Belanda mulai tanggal 15 April yang lalu telah membatalkan banyak jadwal penerbangan komersil di seluruh bandaranya. Langkah serupa juga diikuti oleh Denmark, Irlandia, Swedia, Finlandia, dan Swiss. Einar Kjartansson dari Kantor Meteorologi Islandia mengaku tidak bisa memastikan sampai kapan gunung itu mengeluarkan asap dan hujan abu. Dia mengatakan itu bisa saja terjadi dalam beberapa hari atau pekan. Seberapa jauh itu mengganggu perjalanan udara juga masih tergantung pada cuaca. Pembatalan penerbangan ini cukup mempengaruhi berlangsungnya kompetisi sepak bola di Eropa. Kompetisi Eropa yang berlangsung antar negara dan dalam jadwal yang sangat ketat tentunya sangat membutuhkan transportasi udara dalam setiap jadwal pertandingan yang dilangsungkan. Demi menjaga stamina, lama dan melelahkannya perjalanan tim tamu yang akan bertanding diharapkan bisa ditekan jadi seminim mungkin dengan perjalanan menggunakan pesawat. Dengan waktu perjalanan yang relatif lebih singkat, maka para pemain punya cukup waktu untuk memulihkan kondisi sehingga benar-benar siap untuk bertanding. Tetapi karena adanya pelarangan penerbangan pesawat terbang ini, maka mau tidak mau tim tamu yang akan bertanding ke stadion kandang tim yang menjadi tuan rumah harus rela menggunakan transportasi darat dengan bis atau kereta meski jarak yang harus ditempuh bisa dibilang lumayan jauh. Masalah kelelahan pemain yang berujung pada penurunan performa serta penundaan jadwal pertandingan sudah mulai membayang di depan mata. Laga semifinal Liga Champions dan Liga Europa pekan ini juga langsung terkena dampaknya. Di Liga Champions, harus menuju ke kota Milan untuk bertanding dengan sementara Lyon harus ke kota Munich untuk menghadapi Bayern Munchen. Sedangkan untuk Liga Europa, harus bertandang ke kandang Atletico Madrid dan pergi ke kandang Hamburg. Ketika muncul masalah ini, manajer Roy Hodgson mengaku UEFA telah menghubungi masing-masing klub untuk mencari jalan keluar terbaik. UEFA khawatir tim tamu tidak bisa bersusah payah untuk bermain di kandang lawan. Seperti masalah yang dihadapi , Hodgson mengatakan jika tak ada penerbangan, maka satu-satunya pilihan adalah dengan menggunakan kereta dan bus ke Hamburg, tapi masalahnya tidak ada kereta atau bus yang tersedia. Dengan masalah yang begitu rumit, mulai muncul dugaan kalau pertandingan babak 4 besar di dua kompetisi Eropa ini akan ditunda sampai penerbangan bisa beroperasi kembali. Tetapi UEFA telah menegaskan jadwal laga babak semifinal Liga Champions dan Liga Europa akan tetap dilangsungkan sesuai jadwal. Para tim semifinalis yang melakukan laga tandang akan bepergian lewat jalur darat dan hal ini sudah dikomunikasikan. UEFA akan terus memantau situasinya secara seksama. Barcelona akan ke Milan dengan menggunakan bus dan Olympique Lyon juga berencana bepergian ke Jerman juga melalui jalan darat. Satu-satunya yang masih jadi masalah adalah delegasi pertandingan yang harus diubah. Susunan wasit juga tidak akan diubah, tapi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sudah ada tim cadangan yang dipersiapkan. Hal ini sudah terjadi di Inggris di mana wasit Steve Bennett batal memimpin pertandingan derby antara tuan rumah Manchester City dan Manchester United, Sabtu lalu (17/4), karena gagal keluar dari Rumania. Bennett berada di Rumania untuk mendampingi wasit muda, dan semula dijadwalkan kembali ke Inggris pada hari Jumat (16/4), tetapi tak ada pesawat yang boleh keluar atau masuk Inggris. Liga Primer akhirnya memutuskan untuk menunjuk Martin Atkinson sebagai pengganti Bennett. Untuk Barcelona sebenarnya masih ada harapan menggunakan jasa penerbangan, setelah kepulan debu sempat mengarah ke Rusia. Tetapi akhirnya malah bergeser ke arah Italia. Akibatnya 2 bandara di Milan dinyatakan ditutup begitu juga bandara di semua penjuru Spanyol. Demi keselamatan pemain, keputusan perjalanan darat ini dikeluarkan usai Barcelona menjalani derby lawan Espanyol. Setelah berlatih pada hari Minggu, para pemain meninggalkan markas mereka pada pukul 14.45 waktu setempat untuk menempuh perjalanan darat sejauh 985 km. Perjalanan itu ditempuh dalam 2 kali perjalanan. 634 km pertama ditempuh dalam waktu 6 jam untuk menuju ke kota Cannes, Prancis dan menginap semalam di sana. 351 km sisanya dilanjutkan di hari Senin sampai di kota Milan pada pukul 7 malam dan langsung dilanjutkan dengan latihan. Tetapi meskipun sudah jelas akan menempuh perjalanan yang amat melelahkan manajer Barcelona, Pep Guardiola, menegaskan tidak akan menjadikan ini sebagai alasan apapun bagi mereka. Menurutnya, keputusan memilih menggunakan bus lebih baik dibanding dengan tidak datang dalam pertandingan dan dihukum karena walk over dengan dinyatakan kalah 0-3. Agar pemain lebih nyaman, Barcelona menggunakan dua bus. Guardiola menganggap situasi seperti ini sudah biasa bagi klub-klub divisi dua atau tiga. Perkataan Guardiola ini juga didukung segenap komponen Barcelona lainnya seperti Txiki Begiristain, Victor Valdes, Sergio Busquets dan Dani Alves. Busquets malah mengatakan perjalanan cukup lama ini bersama pelatihnya ini akan bisa membuat mereka makin dekat dan lebih fokus mengalahkan . Begiristain juga menanggapi dengan prospek lolos ke final Liga Champions, tidak mengenal lagi alasan kelelahan. Alves juga mengaku mengalami perjalanan panjang yang menyenangkan di mana mereka bisa lebih rileks dan mempunyai lebih banyak waktu bersama-sama yang tentunya tidak bisa dijadikan alasan kelelahan bagi mereka. Pemain juga terancam akan mengalami kelelahan yang lebih berat. Jika jalur penerbangan belum dibuka juga, maka kemungkinan besar Liverpool harus pergi ke Madrid untuk melakoni partai semifinal Liga Europa lawan Atletico Madrid lewat jalan darat. Cara itu memaksa pemain hanya mendapat masa istirahat yang sangat singkat usai laga melawan West Ham. Mereka harus segera bergegas menempuh perjalanan darat yang jaraknya kurang lebih 3.400 km. Perjalanan sejauh itu kira-kira membutuhkan waktu 21 jam jika ditempuh seharian. Meski dibagi dalam perjalanan dalam dua hari, tetap saja akan cukup melelahkan pemain. Dengan ancaman kelelahan pemain yang sudah nampak begitu nyata akan terjadi di babak semifinal Liga Champions dan Liga Europa, kita berharap saja para pemain kelas dunia ini bisa segera mengatasinya dan tidak mempengaruhi penampilan menawan mereka saat bertanding. Harapan terbaik tentunya agar letusan gunung di kawasan gletser Eyjafjallajokull itu segera akan mereda sehingga perjalanan udara di Eropa bisa kembali lagi. Dengan begitu semua kompetisi yang ada di Eropa bisa berjalan seperti biasa tanpa terganggu faktor non teknis seperti ini.

Berita Terkait