Bola.net - Oleh : Zulfikar Aleksandri
Tangan dingin Carlo Ancelotti terbukti sukses membawa Chelsea tak tergoyahkan di puncak klasemen Liga Primer Inggris jelang tutup tahun 2009. Sementara itu Manchester United pasca Cristiano Ronaldo tetap konsisten meski mengalami kekalahan lebih banyak dibanding musim lalu, sedangkan skuad muda Arsene Wenger masih menjaga peluang mereka di jalur juara.
Liverpool terus mencari keseimbangan tim pasca hengkangnya Xabi Alonso. Spurs dan Aston Villa sebagai kuda hitam yang mengincar zona Liga Champions, sedangkan Manchester City, tim dengan kekalahan paling minim -tapi seri terbanyak- mulai menjanjikan pasca pergantian pelatih dari Mark Hughes ke Roberto Mancini.
Berikut rapor pemain terbaik Premiership hingga paruh musim 2009/10 pilihan Bola.net
Shay Given (Manchester City)
Sejak didatangkan dari Newcastle United awal tahun 2009, kiper asal Republik Irlandia ini menjadi salah satu pembelian terbaik Manchester City, meski refleks dan antisipasi sempurna dari Given kurang didukung kesolidan duo Kolo Toure dan Joleon Lescott di jantung pertahanan City. Given membuktikan dirinya sebagai shot stoper terbaik di Inggris dengan menggagalkan penalti Frank Lampard saat City mengalahkan Chelsea 2-1 awal Desember.
Thomas Vermaelen (Arsenal)
Arsene Wenger kembali menunjukkan instingnya dalam memilih pemain tidak salah ketika mendatangkan Thomas Vermaelen dari Ajax Amsterdam awal musim ini. Vermaelen yang dari segi postur tidak terlalu tinggi untuk ukuran bek Eropa (tidak lebih dari 182 cm), tetap unggul dalam bola-bola atas dan produktif ketika menyerang. Pemain asal Belgia itu telah mencetak empat gol di Premiership musim ini. Vermaelen juga terbukti tidak kesulitan beradaptasi dengan sepak bola Inggris yang terkenal berjalan dengan tempo cepat.
Gary Cahill (Bolton Wanderers)
Sejak pindah dari Aston Villa dua musim lalu, Cahill menjadi pilar lini belakang The Trotters. Kepercayaan pelatih Gary Megson dibayar dengan penampilan konsisten Cahill di lini belakang Bolton. Selain bisa ditempatkan sebagai bek tengah maupun bek kanan, Cahill juga produktif pada situasi set piece dengan catatan empat gol dalam 17 pertandingan. Pelatih timnas Inggris, Fabio Capello, pun mengakui kualitas Cahill dengan memanggilnya ke skuad The Three Lions.
Ashley Cole (Chelsea)
Kepopuleran Ashley Cole sejak menikah dengan penyanyi Girls A Loud dan juri X-Factor, Cheryl Cole, semakin melambungkan nama Cole sebagai pemain papan atas di Inggris. Gaya kepelatihan Carlo Ancelotti pun langsung nyetel dengan mantan pemain Arsenal itu. Cole bahkan berkontribusi besar dengan memberi dua assist saat Chelsea mengalahkan mantan klubnya itu 3-0 di Emirates Stadium bulan November lalu. Performa Cole juga membuat namanya menjadi langganan pilihan pelatih timnas Inggris, Fabio Capello.
Gary Alexander (Burnley)
Tidak banyak yang mengenal nama Gary Alexander sebelumnya. Maklum, selain hanya memperkuat tim promosi, Burnley, usia Alexander yang sudah menginjak 38 tahun membuat namanya tidak dipandang di awal musim. Namun kontribusi besar diberikan mantan pemain Preston North End itu pada debutnya di top flight division, mencetak lima gol selama putaran pertama. Uniknya, Alexander berusia 11 tahun lebih tua dibandingkan wasit termuda di Premiership, Stuart Attwell.
Cesc Fabregas (Arsenal)
Pemain terbaik Arsenal setelah Thierry Henry. Tidak perlu tampil penuh 90 menit bagi Cesc untuk menentukan kemenangan bagi Arsenal, seperti saat melawan Aston Villa dengan mencetak dua gol dalam 27 menit sebagai pemain pengganti. Terus diisukan bakal kembali ke Barcelona justru membuat Cesc semakin termotivasi memberi gelar juara pertama bagi Arsenal dalam lima tahun terakhir. Menarik ditunggu bagaimana Arsene Wenger akan mempertahankan aset terbaik milik The Gunners ini dari kejaran Barcelona dan Real Madrid.
Frank Lampard (Chelsea)
Gelandang paling konsisten milik Chelsea selain Michael Essien. Peran Lampard di lini tengah Chelsea yang lebih menyerang dibandingkan Essien membuat gelandang timnas Inggris itu tetap produktif dengan mencetak 6 gol selama putaran pertama. Berkat Lampard pula Ancelotti tidak perlu lagi memainkan formasi diamond atau berpikir membeli Andrea Pirlo. Tahun 2010 bisa jadi menjadi tahun terbaik karir Lampard, baik bersama Chelsea maupun timnas Inggris.
Antonio Valencia (Manchester United)
Digadang-gadang sebagai pengganti Cristiano Ronaldo di Manchester United, Antonio Valencia cukup memberi kontribusi signifikan bagi skuad Sir Alex Ferguson pasca hengkangnya CR7. Dengan empat gol yang dicetaknya dalam 20 pertandingan di putaran pertama, Valencia adalah pilihan terbaik di sektor sayap kanan United. Bila mampu tampil konsisten Valencia bisa meraih gelar pertamanya di Inggris bersama Manchester United. Pemain asal Ekuador itu kini menjadi salah satu pemain yang juga diburu oleh klub raksasa Spanyol, Real Madrid.
James Milner (Aston Villa)
Bukan tanpa alasan bila James Milner menjadi pemain reguler pilihan Fabio Capello di timnas Inggris. Pemain yang melakoni debutnya di Premiership saat masih berusia 16 tahun bersama Leeds United ini menjadi salah satu pemain kunci Aston Villa menembus papan atas dan bersaing merebut zona Liga Champions. Kolaborasi Milner bersama pemain-pemain muda Martin O'Neill lainnya seperti Ashley Young dan Gabriel Agbolahor menjadi jaminan Villa tetap sebagai kuda hitam musim ini.
Wayne Rooney (Manchester United)
Tumpuan utama Manchester United pasca era Cristiano Ronaldo. Bila dalam form terbaiknya, Rooney bisa menjadi pemain penentu seperti halnya CR7, terbukti dengan gol dan assistnya saat United menang 3-1 atas Hull City sehari setelah Boxing Day. Musim ini dianggap sebagai periode kematangan Rooney, terlebih setelah kelahiran putra pertamanya, Kai Rooney. Di timnas Inggris pun Fabio Capello memberi kepercayaan bagi Rooney sebagai kapten The Three Lions saat John Terry absen.
Didier Drogba (Chelsea)
Sangat eksplosif dan ekspresif. Selalu ada ekspresi emosional di wajah Drogba dalam 13 kali selebrasi gol yang dicetaknya musim ini. Duetnya dengan Nicolas Anelka mengubah gaya permainan Chelsea yang dalam satu dekade terakhir hampir bermain dengan striker tunggal. Larangan tiga pertandingan di Liga Champions buntut protesnya kepada wasit asal Norwegia, Tom Henning Bro pun tidak membuat performa Drogba menurun. Bila kembali dalam permainan terbaiknya pasca Piala Afrika 2010, Drogba menjadi jaminan Carlo Ancelotti meraih titel Premiership dalam debutnya di sepak bola Inggris.
Pemain cadangan
Mungkin anda akan bertanya kenapa John Terry, Steven Gerrard, Fernando Torres, hingga Jermain Defoe berada pada daftar pemain cadangan? Well, sangat tipis membedakan kualitas pemain inti dan cadangan dalam skuad terbaik paruh musim ini. Namun kontribusi bagi tim dan konsistensi permainan menjadi pertimbangan tersendiri dalam menyusun dafar pemain terbaik paruh musim 2009/10.
Thomas Sorensen (Stoke City)
Sempat membuat blunder ketika membiarkan Maynor Figueroa mencetak gol dari jarak 50 meter tidak membuat mental Sorensen drop. Mantan kiper Sunderland asal Denmark itu mencatat rekor menggagalkan penalti terbanyak bagi Stoke City. Total, Sorensen mengagalkan lima dari enam penalti yang diterima The Potters. Sejak bergabung dengan Stoke City pada musim 2008-09 yang saat itu berstatus tim promosi, Sorensen mencatat rekor selalu main yang akhirnya mendapat perpanjangan kontrak hingga tahun 2011.
John Terry (Chelsea)
Musim in John Terry tampil konsisten di lini belakang Chelsea, termasuk saat mencetak gol penentu kemenangan The Blues atas Manchester United di Old Trafford. Sayang dalam beberapa kesempatan Chelsea kerap membuat kesalahan dalam situasi set piece yang membuat skuad Carlo Ancelotti itu kehilangan poin krusial meski hingga akhir tahun 2009 masih bertengger di puncak klasemen Premiership. Baru-baru ini nama Terry juga terpilih dalam dafar pemain terbaik FIFA tahun 2009.
Matthew Taylor (Bolton Wanderers)
Bek sayap sekaligus pencetak gol alternatif The Trotters selain Kevin Davies atau Ivan Klasnic. Pemain spesialis tendangan bebas itu telah mencetak empat gol sepanjang putaran pertama, termasuk saat derby melawan Wigan pada Boxing Day. Taylor merupakan pemain multi fungsi di Bolton, bisa ditempatkan sebagai bek kiri, sayap kiri, maupun gelandang tengah. Mantan pemain Luton Town dan Portsmouth berusia 28 tahun itu baru-baru ini mendapat perpanjangan kontrak baru dari Bolton.
Lee Bowyer (Birmingham City)
Pemain bengal sekaligus pekerja keras di lapangan tengah. Karirnya yang sempat ternoda insiden adu pukul dengan rekan setim, Kieron Dyer, saat masih membela Newcastle itu kini berubah 180 derajat di Birmingham. Kepercayaan pelatih Alex McLeish membuat Bowyer yang telah mencetak lima gol selama putaran pertama menjadi pemain pilar The Brummies hingga tak terkalahkan dalam 10 pertandingan hingga Natal dan Tahun Baru.
Steven Gerrard (Liverpool)
Sempat cedera di awal musim, Gerrard masih menjadi tumpuan utama Liverpool di tengah krisis pemain dan hasil-hasil buruk di tiga kompetisi: Premiership, Liga Champions, dan Piala domestik. Pelatih Liverpool, Rafa Benitez, bahkan sampai memaksakan Gerrard bermain meski gelandang timnas Inggris itu belum 100% pulih dari cedera pangkal paha. Anjloknya prestasi Liverpool membuat masa depan Gerrard di Anfield menjadi tanda tanya, terlebih bila Liverpool gagal lolos ke Liga Champions musim depan. Namun dalam beberapa kesempatan, Gerrard mengaku mencintai Liverpool dan tidak akan meninggalkan klub yang dibelanya sejak junior itu.
Fernando Torres (Liverpool)
Besarnya ketergantungan Liverpool pada Fernando Torres sama besar dengan Steven Gerrard. Saat El Nino absen, Liverpool kehilangan striker pembunuh di lini depan. Ketika Torres main, tiga poin seperti menjadi jaminan bagi The Reds, seperti saat sang striker mencetak gol ketika mengalahkan Manchester United dan Aston Villa. Rasio gol Torres adalah yang tertinggi di Premiership musim ini, yakni 12 gol dalam 16 pertandingan. Cedera yang dialami Torres awal musim ini menjadi penghalang mantan striker Atletico Madrid itu menampilkan permainan terbaiknya bagi The Reds. Torres bahkan beresiko absen di Piala Dunia bila tidak melakukan operasi dan memutuskan untuk terus bermain untuk Liverpool.
Jermain Defoe (Tottenham Hotspur)
Lima gol dalam satu pertandingan saat Spurs melibas Wigan 9-1 menjadi angka fantastis di Premiership hingga tutup tahun 2009. Defoe hanya butuh konsistensi dan support Niko Kranjcar dkk dari lini tengah Spurs untuk menjadi top skor Premiership musim ini sekaligus mengamankan tempatnya di skuad Inggris pada Piala Dunia 2010. Untuk mendapatkan satu tempat di Afrika Selatan, Defoe akan bersaing ketat dengan rekan setimnya, Peter Crouch, striker Sunderland Darren Bent, duo Aston Villa Gabriel Agbonlahor dan Emile Heskey, serta penyerang Manchester United, Michael Owen.
Bagaimana dengan tim terbaik pilihan Anda? Apakah pemain favorit Anda juga termasuk dalam daftar pemain terbaik paruh musim Premiership di atas? (bola/zul)