Stadion Untuk Kualifikasi Piala Asia U-22 Masih Bermasalah
22-06-2012 11:00
Stadion Riau yang hampir rampung ini masih bermasalah mengenai pembayaran © Antara
Bola.net - Masih saja banyak masalah yang terjadi pada Stadion Utama Riau sebagai tempat digelarnya kualifikasi Piala Asia U-22, 5-15 Juli nanti.
Stadion Utama Riau yang bakal menjadi venue tersebut masih bermasalah terkait sisa penulasan pembayaran untuk 12 perusahaan subkontraktor stadion tersebut.
"Kami mendukung pelaksanaan turnamen internasional Piala Asia U-22. Tapi hak kami juga seharusnya dipenuhi," kata Ketua Forum Komunikasi Sub kontraktor Stadion Utama PON XVIII Riau Hari Puas Diarso.
Dia membantah pihaknya menghalangi pelaksanaan kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 yang akan digelar 5-15 Juli mendatang itu.
"Kami memohon ada dialog soal ini. Kami sudah menunggu hampir delapan bulan. Karena kami harus membayar keringat para pekerja," katanya.
Forum Komunikasi Sub Kontraktor Stadion Utama Riau mendesak pihak Konsorsium (KSO) yang terdiri dari tiga perusahaan pelat merah yakni, PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero, PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya untuk segera melunasi utangnya.
Ia menjelaskan, utang Konsorsium kepada Subkon hampir Rp 35,7 miliar, kemudian diangsur setelah pertemuan pada tanggal 24 Mei 2012 sebesar Rp 8 miliar untuk 12 subkon yang dibagi secara proporsional sesuai tagihan mereka.
Sementara progres pekerjaan yang sudah diajukan Konsorsium kepada owner dalam hal ini Pemprov Riau melalui Dispora Riau sudah 98 persen.
"Tapi baru dibayar 82 persen (Rp 700 miliar) dari total proyek Rp 900 miliar lebih oleh Pemprov kepada Konsorsium. Sementara yang dibayar Konsorsium kepada subkon baru di bawah 50 persen. Seharusnya, begitu Konsorsium dibayar Pemprov, utangnya kepada kami juga dibayar," tegasnya.
Pada penyisihan Piala Asia U-22, tuan rumah Indonesia berada di Grup E bersama, Jepang, Makau, Singapura, Timor Leste, dan Australia. (ant/end)
Stadion Utama Riau yang bakal menjadi venue tersebut masih bermasalah terkait sisa penulasan pembayaran untuk 12 perusahaan subkontraktor stadion tersebut.
"Kami mendukung pelaksanaan turnamen internasional Piala Asia U-22. Tapi hak kami juga seharusnya dipenuhi," kata Ketua Forum Komunikasi Sub kontraktor Stadion Utama PON XVIII Riau Hari Puas Diarso.
Dia membantah pihaknya menghalangi pelaksanaan kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 yang akan digelar 5-15 Juli mendatang itu.
"Kami memohon ada dialog soal ini. Kami sudah menunggu hampir delapan bulan. Karena kami harus membayar keringat para pekerja," katanya.
Forum Komunikasi Sub Kontraktor Stadion Utama Riau mendesak pihak Konsorsium (KSO) yang terdiri dari tiga perusahaan pelat merah yakni, PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero, PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya untuk segera melunasi utangnya.
Ia menjelaskan, utang Konsorsium kepada Subkon hampir Rp 35,7 miliar, kemudian diangsur setelah pertemuan pada tanggal 24 Mei 2012 sebesar Rp 8 miliar untuk 12 subkon yang dibagi secara proporsional sesuai tagihan mereka.
Sementara progres pekerjaan yang sudah diajukan Konsorsium kepada owner dalam hal ini Pemprov Riau melalui Dispora Riau sudah 98 persen.
"Tapi baru dibayar 82 persen (Rp 700 miliar) dari total proyek Rp 900 miliar lebih oleh Pemprov kepada Konsorsium. Sementara yang dibayar Konsorsium kepada subkon baru di bawah 50 persen. Seharusnya, begitu Konsorsium dibayar Pemprov, utangnya kepada kami juga dibayar," tegasnya.
Pada penyisihan Piala Asia U-22, tuan rumah Indonesia berada di Grup E bersama, Jepang, Makau, Singapura, Timor Leste, dan Australia. (ant/end)
Akses Bola.net melalui
http://m.bola.net
pada browser ponsel Anda.

PERISTIWA | DUNIA
- Menkum HAM klaim mau serius berantas korupsi
- Benda yang diduga meteorit timpa motor hingga hancur
- Akbar Tandjung jenguk Miranda bawa buah
- Riswan luka-luka akibat ditimpa benda luar angkasa
- Kejari Jaksel musnahkan narkoba senilai miliaran
- Lapan: Benda yang jatuh di Balaraja diduga meteorit
- Benda luar angkasa timpa mes pabrik di Balaraja
- Pembobol BNI dibekuk saat berlibur di hotel
- Mahasiswa Papua minta kekerasan dihentikan
- Terlibat pelarian Neneng, pengurus Demokrat dicegah



