Tontowi/Liliyana Kalah, Tradisi Emas Indonesia Berakhir
Editor Bolanet | 2 Agustus 2012 21:37
- Tradisi Indonesia dalam perolehan medali emas berakhir setelah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dikalahkan Xu Chen/Ma Jin (China) dengan skor 23-21, 18-21, 13-21 di semifinal bulu tangkis Olimpiade London 2012.
Pasangan Indonesia peringkat empat dunia tersebut sempat unggul lebih dulu dengan memenangi game pembuka 23-21 di Wembley Arena, Kamis (2/8), namun mereka kalah dua game berikutnya.
Saya kecewa karena tidak bisa mempersembahkan medali emas. Tetapi kami tidak mau larut karena masih ada perebutan medali perunggu. Kami lupakan kekalahan ini dan fokus pada perebutan perunggu, kata Liliyana usai pertandingan.
Sementara itu, Tontowi mengaku tegang, terutama setelah kehilangan game kedua dan tertinggal jauh pada game penentuan. Saya pribadi tegang, tekanan itu semakin besar. Saya terlalu berpikir menang atau kalah, ujar Tontowi yang banyak melakukan kesalahan pada game ketiga, termasuk pengembalian yang gagal yang membawa kemenangan bagi pasangan China.
Adapun pelatih ganda campuran Richard Mainaky mengatakan, ketegangan Tontowi sangat terlihat pada game ketiga sehingga tidak bisa melepaskan tekanan.
Itu wajar karena ini Olimpiade pertama bagi Tontowi. Mereka juga satu-satunya harapan setelah kekalahan ganda putra Bona Septano/Mohammad Ahsan. Mungkin akan berbeda hasilnya jika ada tiga wakil di semifinal, kata Richard.
Kekalahan tersebut membuat tradisi medali emas yang selalu diperoleh Indonesia dalam cabang bulu tangkis sejak Olimpiade Barcelona 1992 hingga Beijing 2008 berakhir.
Satu-satunya peluang perolehan medali adalah medali perunggu yang akan diperebutkan oleh Tontowi/Liliyana dengan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Pasangan Denmark tersebut dikalahkan oleh Zhang Nan/Zao Yunlei 17-21, 21-17, 21-19. (ant/kny)
Pasangan Indonesia peringkat empat dunia tersebut sempat unggul lebih dulu dengan memenangi game pembuka 23-21 di Wembley Arena, Kamis (2/8), namun mereka kalah dua game berikutnya.
Saya kecewa karena tidak bisa mempersembahkan medali emas. Tetapi kami tidak mau larut karena masih ada perebutan medali perunggu. Kami lupakan kekalahan ini dan fokus pada perebutan perunggu, kata Liliyana usai pertandingan.
Sementara itu, Tontowi mengaku tegang, terutama setelah kehilangan game kedua dan tertinggal jauh pada game penentuan. Saya pribadi tegang, tekanan itu semakin besar. Saya terlalu berpikir menang atau kalah, ujar Tontowi yang banyak melakukan kesalahan pada game ketiga, termasuk pengembalian yang gagal yang membawa kemenangan bagi pasangan China.
Adapun pelatih ganda campuran Richard Mainaky mengatakan, ketegangan Tontowi sangat terlihat pada game ketiga sehingga tidak bisa melepaskan tekanan.
Itu wajar karena ini Olimpiade pertama bagi Tontowi. Mereka juga satu-satunya harapan setelah kekalahan ganda putra Bona Septano/Mohammad Ahsan. Mungkin akan berbeda hasilnya jika ada tiga wakil di semifinal, kata Richard.
Kekalahan tersebut membuat tradisi medali emas yang selalu diperoleh Indonesia dalam cabang bulu tangkis sejak Olimpiade Barcelona 1992 hingga Beijing 2008 berakhir.
Satu-satunya peluang perolehan medali adalah medali perunggu yang akan diperebutkan oleh Tontowi/Liliyana dengan Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Pasangan Denmark tersebut dikalahkan oleh Zhang Nan/Zao Yunlei 17-21, 21-17, 21-19. (ant/kny)
TAG TERKAIT
BERITA TERKAIT
LATEST UPDATE
-
Guillermo Ochoa, Ikon Timnas Meksiko di Piala Dunia
Piala Dunia 9 Juni 2026, 20:31
-
3 Tim kuda hitam di Piala Dunia 2026: Norwegia Punya Erling Haaland!
Piala Dunia 9 Juni 2026, 20:30
-
Daftar Pemain dan Nomor Punggung Timnas Portugal di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 19:58
-
Daftar 48 Negara Peserta Piala Dunia 2026
Tim Nasional 9 Juni 2026, 19:45
-
Daftar Pemain dan Nomor Punggung Timnas Brasil di Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:51
-
Pembagian Grup Piala Dunia 2026
Piala Dunia 9 Juni 2026, 18:40
LATEST EDITORIAL
-
Arsenal Cari Winger Kiri Baru, Ini 5 Kandidatnya
Editorial 4 Juni 2026, 13:59
-
4 Striker Incaran Barcelona untuk Era Baru Hansi Flick
Editorial 3 Juni 2026, 16:19















